Teknologi, Adaptasi, Humanitas

Twit saya selanjutnya sangat berhubungan dengan obrolan di sari bundo tadi dengan @fazaadiguno. Adaptasi, Teknologi, dan Humanitas.

Twit ini saya mulai dengan satu kalimat “Saya kuliah di Institut Teknologi Bandung, dengan jurusan Manajemen.”

Kalimat kedua adalah petikan kalimat @fazaadiguno, “Teknologi shrsnya brdaptasi dengan manusia, bukan manuasi beradaptasi dengan teknologi.”

Yak, pembahasan akan kita mulai. Semua dimulai dari 2 kalimat di atas. Siap?

1. Institut adalah istilah bagi perguruan tinggi yang mewadahi satu rumpun ilmu. ITB, adalah Institut yang mewadahi rumpun ilmu teknologi.

2. Teknologi adalah seperangkat alat guna memudahkan adaptasi manusia terhadap lingkungan. Misal, bajak sawah bagi petani.

3. Contoh lain misalnya, internet. Bahkan twitter pun teknologi. Robot pembersih wc itu juga teknologi tapi mengapa tdk semeledak internet?

4. Sebelum semakin jauh, jadi semua bidang yang ada di ITB melingkupi segala aspek dalam Teknologi. Lah SBM? Jadi ITB harusnya universitas?

5. Lalu bagaimana dengan FSRD juga? Itu sih urusan seni bukan teknologi. Wah, itu salah besar, saudara-saudara. Anda mati ditelan zaman.

6. Ingat, poin yang akan saya tetap mengenai Adaptasi, Teknologi, dan Humanitas. Jadi, itu semua masih mukadimah, tapi patut ditelaah.

7. Apkah ad yg pernah bertanya? Kenapa sih katanya ITB bisa inovasi teknologi, tapi pernahkah saudara melihat produknya di pasar?

8. Saya teringat dengan ajang ITB fair yang ktnya mmamerkan hsl krya teknologi. Tp apa kabar ITB fair? Berdampakkah hingga dproduksi massal?

9. Teknologi yang dihasilkan sebagian besar masih tidak bersifat humanis. Hanya sekedar inovasi tanpa motivasi. Sebuah aksi tanpa solusi.

10. Apa maksudnya humanis? Intinya dekat dengan segala kegiatan kemanusiaan. Suatu temuan yg dibutuhkan. Sebuah aksi dengan tawaran solusi.

sekedar sekilas info, apabila hipotesa saya benar, “Sebuah aksi tanpa solusi”. Hal itu terpendar dalam berbagai diskusi forsil di ITB.hehe..

11. Ya, hanya sesimpel itu. Mau contoh yang gampang? Twitter, Apple’s Products adalah sebuah teknologi yang sangat humanis

12. Twitter, mengambil yang essensial dari facebook. Status. Itulah yang menjadi sumber informasi utama.

13. Mengenai Apple, produk mereka sangat humanis, dari mulai interface, design, dan feature. Jika dengar Apple, ada yang ingat kabar IBM?

14. Ya pada awalnya IBM bangga akan inovasi, inovasi mereka. Tapi sayangnya produk mereka hanya mengandalkan kehebatan, bukan kebutuhan.

15. Apple menjadi hebat karena dia berawal dari kebutuhan. Teknologi mereka didesain sdemikian sehingga memudahkan pengguna dlm pemanfaatan.

16. Mengapa saya pilih kata pemanfaatan, karena akhirnya bermanfaat, berdampak. Bukan sekedar dipakai.

17. Nah, jadi mungkin cukup terjawab pertanyaan saya di pernyataan no.7. Lalu apa hub nya dengan SBM dan FSRD?

18. FSRD dan SBM pntas brnaung di bwh pyung Institut Teknologi Bandung, bkn Universitas Bandung. Bukan sekedar pantas, tp memang dibutuhkan.

19. Dengan perkembangan humanitas secepat saat ini. Peran FSRD bukan mendesain kerjaan anak teknik. Itu adalah pemikiran yang salah besar!

20. Pun begitu SBM. SBM bukan untuk menjual barang teknik. Sebagai anak SBM, sy lbh rela jual psang goreng dripd menjual inovasi tnp solusi.

21. Dengan setting kurikulum seperti sekarang, SBM dan FSRD justru menjadi ujung tombak dalam segi humanitas. Pencarian sisi kemanusiaan.

maaf, sebelum tersinggung mengenai twit saya yang pisang goreng, saya ingin memberi sedikit pembelaan.

ya jelas saya lebih memilih jualan pisang goreng yang mengenyangkan pasar, ketimbang membodohi pasar dgn barang inovasi padahal tiada arti.

22. SBM dan FSRD sudah sepatutnya mengerti mengenai “Need”, “Wants”, “Demand”. Karena itu titik akhir dari pendekatan sisi humanitas.

23. Hemat kata, SBM dan FSRD mencari suatu kebutuhan mengenai desain, fitur. Nah, stlah pencarian itu slesai barulah dikasih ke anak teknik.

24. Tapi tidak menutup kemungkinan jika anak teknik memang berinovasi yg bersolusi. Asal sering interaksi, bukan malah keranjingan meneliti.

25. Mengapa harus seperti itu sih? Karena kita hidup dalam ekonomi. Sebuah syarat mati yang hakiki bagi hamba illahi. Kalo tidak mau? Mati!

26. Itulah salah satu langkah, agar manusia tidak berusaha mengadaptasi teknologi. Justru teknologi harus beradaptasi dgn kebutuhan manusia.

Ya, twitnya saya cukupkan sekian. Semoga mencerahkan! Bagi yg gagal #SNMPTN, bacaan masih banyak, ruang untuk berpikir sangat luas. Sukses!

Jadi sebagai salam perpisahan, “Kuliahlah biar pinter, bukan biar lulus cumlaude!”

Perspektif SNMPTN

Kisah mengenai #SNMPTN berawal dari mimpi. Saya belajar banyak mengenai mimpi dari @nindyawardhani. Tulisannya mengenai mimpi apik.

1. #SNMPTN atau ujian masuk PTN dianggap sakral oleh dunia pendidikan, stigma yang diberikan adalah “Inilah gerbang awal dari suksesi”

2. Stigma inilah yang terkadang salah. Perguruan tinggi tidak menjanjikan hal itu. Tidak sama sekali. #SNMPTN

3. Yang dijanjikan perguruan tinggi hanya satu hal yang pasti, gelar sarjana yang selalu dinanti — lambang suksesi diri. #SNMPTN

4. Kembal lagi ke poin awal twit #SNMPTN, semua berawal dari mimpi. Mimpi bukan sebatas perguruan tinggi. Jauh dari itu, sebuah upaya diri.

5. Nah yang ingin saya pertanyakan disini, “Apa sih mimpimu hingga hrs msuk perguruan tinggi? Bahkan dgn pilihan yang favorit lagi.” #SNMPTN

6. Kalo masih bermimpi untuk belajar untuk dapat ilmu tinggi, wah itu sih, waktu saya masih belum jadi bayi. #SNMPTN

7. Kalo jg masih bermimpi untuk bertemu “Putra-putri terbaik bangsa”, itu hanya upaya eksistensi demi pertahankan kualifikasi. Sebuah hegemoni #SNMPTN

8. Juga bila masih bermimpi untuk melatih pola pikir, trlpakan sdh bahwa kodrat manusia ialah berpikir. Pun sdh lupa makna dari buku #SNMPTN

9. Lulus perguruan tinggi, cumlaude, melamar kerja, diterima, incar posisi tinggi, keluarga semua pake bb, makmur, mati. Yak, klise! #SNMPTN

10. Jd, sebagai solusi : “Kuliah tuh biar pinter, bukan biar lulus cumlaude” Menurut sy, kalimat ini bila dikaji bisa jadi skripsi. #SNMPTN

11. Bagi yg sudah berkuliah namun msh memimpikan perguruan tinggi yg ktnya favorit, tenang saja. Lanjut saja, kuliah sj biar pinter. #SNMPTN

12. Kenapa sy bilang begitu? Tidak dpt berteman dgn “Putra-putri terbaik bangsa”, ya berteman saja dgn “Putra-putri terbaik bangsat” #SNMPTN

13. Kenapa tidak mau membuka diri dengan para bangsat? Termakan oleh klasifikasi sosial? Ini salah satu dampak terbesar dari #SNMPTN

14. Pintar itu kompleks, gali ilmu sebanyak-banyaknya. Di era informasi serba cepat hanya ada satu konklusi “Serap, Resap, Lahap!” #SNMPTN

15. Kecewa pada kondisi? Wajar kok, asal tidak berlarut. Mimpi adalah upaya diri. Buktikan! #SNMPTN

16. Bagi yang tidak sempat merasa kuliah, beruntunglah anda. Waktunya eksplorasi diri! Gali potensi. Jgn sekedar diam diri. #SNMPTN

17. Jadi tukang roti, guru, loper koran, atau cuma sekedar tukang cuci lebih brrti ketimbang diam diri. Awali diri untuk bergerak! #SNMPTN

18. Mau coba lagi #SNMPTN tahun depan? Bolehlah. Gelar doang yang diincar? Ga masalah. Jgn batasi diri untuk gapai suatu konklusi.

19. Satu kalimat yang saya suka, “Lakukan apa yang ingin kamu lakukan asal dengan sepenuh hati.”

20. Ya, sebagai konklusi, “Sukses bukanlah sebuah posisi, dia adalah interval, sebuah jarak. Ayo terus berlari!”

Satu lagi, jgn lupa Tuhan selalu ada mendampingi perjalanan hidup.

Budaya

yang terpenting dari suatu budaya adalah nilainya bukan bentuknya.

budaya : segala bentuk upaya interpretasi lingkungan dalam rangka pemenuhan kebutuhan manusia.

kebutuhan manusia itu : sosial (interaksi), biologi (makan), psikologi (keamanan) –> kodrat manusia. yg di dalam kurung itu contoh.

Contoh, makan nasi adalah bentuk budaya. Dengan kondisi lingkungan subur, iklim tropis, beras menjadi solusi untuk makan.

BB pun bentuk budaya. Kondisi lingkungan yang semakin canggih dan tenggat waktu kian mengikat. ‎​BB menjadi solusi dlm interaksi.

Lalu apa itu kebudayaan? Kebudayaan adalah budaya yang telah mengalami proses penerimaan bagi sejumlah masyarakat.

Kembali kita masuk ke dalam inti pembicaraan. Lingkungan itu akan terus berubah. Kenapa? Karena kita manusia. Manusia itu..

Manusia itu memiliki modal yang sama, berpikir. Selalu berprogresi. Berkembang. Jadi kalo ada yang tidak berprogresi? Itu bukan manusia.

Jadi, cukup lucu kalo ada orang yang bilang lestarikan budaya. Jika ingin melestarikan budaya, kurungkanlah otak manusia.

Misal, zaman dulu yang menjadi musim bercelana adalah celana kain, sekarang sudah masanya celana jeans, benar @fazaadiguno?

itu semua adalah hal yang wajar dalam progresi hidup manusia. ingat bahwa budaya : bentuk interpretasi LINGKUNGAN.

Ada 2 titik yang ingin saya tanggapi, pertama budaya kampus, kedua adalah budaya daerah yang perlu dipertahankan

maaf ada yang kelewat. pemahaman mengenai celana. nilai yang dilestarikan itu nilai dalam berpakaian. tapi bentuk bisa berubah.

mengenai budaya kampus, ada yang lucu dengan kampus berlambangkan gajah duduk.

1. budaya kampus gajah duduk itu adalah duduk. ya para mahasiswa masih menyukai duduk. tendensi untuk menjingkrak masih kurang.

2. padahal lingkungan sekarang sudah berubah. bentuk interpretasi kita harus bergeser. kalo hanya duduk, ya kita nanti malah jadi jongkok.

3. ungkapan tadi saya ingin ciptakan tidak terlalu sarkas, bagi teman2 kampus gajah duduk, jika ingin diskusi bisa saya tanggapi.

@smarahakim bung, budaya pasti berbentuk. nilai harus dituangkan dalam sesuatu yang intangible. contoh, cinta. ga mungkin cuma dipendam kan?

mengenai budaya sendratari ato kesenian yang harus dipertahankan, sebenernya saya masih butuh teman diskusi mengenai ini.

tapi saya ingin coba paparkan. kesenian adalah salah satu bentuk budaya. upaya interpretasi dalam pemenuhan kebutuhan psikologi (keindahan)

misal, tarian. yang perlu dipertahankan adalah nilainya, maknanya. semisal bentuk gerakan berubah itu tidak masalah, itu adalah progresi.

balawan, adalah salah satu seniman ulung yang dapat membentuk kebudayaan itu berprogresi.

jadi, intinya adalah nilai yang perlu kita pertahankan. maknai setiap bentuk budaya yang ada.

satu twit terakhir, sebelum saya mandi. terkadang bentuk budaya baru yang muncul mengurangi nilai lain yang lalu.

Lebaran, Belanja, dan Bulan Penuh Berkah

Setelah imsak, saya ingin cerita masalah lebaran, belanja, dan pertumbuhan ekonomi.. Kado untuk hari terakhir lebaran..

1. Ramadhan adalah benar-benar bulan penuh berkah. Berkah bagi semua orang. Semua akibat satu hal, THR.

2. THR yang diberikan setiap tahun benar-benar berkah bagi stiap insan. Setiap orang menerima dampak dari THR. Dari bocah hingga tkg parkir.

3. THR merupakan salah satu insentif yang memiliki multiplier-effect. Dampaknya sangat kemana2.

4. THR menyebabkan jumlah uang beredar meningkat. Jumlah uang yg beredar meningkat akan mengakibatkan daya beli yg naik pula. Inflasi?

5. Inflasi cukup terjaga. Karena apa? Daya beli meningkat diikuti peningkatan jumlah transaksi. Setiap orang membelanjakan uangnya.

Note : biasanya yg terjadi kenaikan harga adalah harga barang komoditas. Layaknya cabe, daging. Kenapa? Karena supply min, demand max.

Note : menurut saya, komoditas merupakan salah satu celah bisnis yg sangat apik untuk disusupi dalam kondisi ini.hehe..

6. Akibat pembelanjaan, uang berputar, barang2 terjual, pemasukan usaha berjalan, otomatis pendapatan meningkat.

7. Hal ini berlangsung dari mulai pasar skala mall hingga lapak-lapak yg biasa nangkring di pasar gasibu.

8. Contoh, A seorang karyawan yg mendpt insentif THR dr perusahaannya. A lalu membelanjakan uangnya ke B. B adlah seorang wirausaha.

9. Produk dr usaha B otomatis terjual, pendpatan B meningkat psat. Otomatis terdapat tmbahan pndapatan. Tambahan itu apa? Ya akn jadi THR jg.

10. Kira2 seperti itu. Oh iyah, saat ini kita tidak berbicara dari masing2 individu, tapi dalam cakupan lebih makro.

11. Itu dari segi ekonomi, usaha. THR benar-benar menjadi sumbu gerak perputaran uang di kala menuju lebaran. Lalu dampak ke bocah dll?

12. Ada yg lupa bahwa momen-momen saat ini adalah bulan ramadhan? Ada satu kewajiban baik sekali dari sisi ajaran agama. Zakat.

13. Selain membelanjakan uang, orang2 pun cenderung untuk berbagi.

14. Jadi momen lebaran ini sangat baik sekali. Ramadhan benar-benar berkah bagi semua.

Note : Saya pernah baca tp lupa dimana, bahwa persentase minimal bagi perputaran uang adalah 2,5 %. Ingat sesuatu? Zakat.

15. Pertumbuhan ekonomi ditunjang dari beberapa faktor : konsumsi, investasi, pembelanjaan negara, dan selisih ekspor-impor.

16. Poin THR tadi masih dari segi konsumsi. Apabila tingkat konsumsi ditahan seperti ini, diikuti tumbuhnya investasi. Maka..

17. Pertumbuhan ekonomi dijamin naik diikuti tingkat kesejahteraan. Tentu tidak lupa, zakat tetap harus berjalan.

Note : pertumbuhan ekonomi tidak sebanding dengan kesejahteraan. Untuk dapat sejahtera 4 variabel tadi harus diperhitungkan seluruhnya.

18. Jika ada yg ingin berpendapat, silahkan, sangat membantu tentunya. Saya pribadi juga masih perlu belajar.

19. Sbg penutup, Selamat Hari Lebaran, mohon maaf lahir batin. Semoga kemenangan bukan hanya untuk senang-senang. Daging harus dituntun roh.

Ka'bah

Ini hanya analisa saja. Menurut saya, kenapa org mengitari ka’bah arahnya berlawanan jarum jam krn ingin bergerak ke atas, menggapai Tuhan.

Ingat perkalian vektor/prinsip tangan kanan saat belajar mengenai arus listrik, garis medan, dan gaya lorentz?

Ini jawabannya. Berlawanan arah jarum jam. Jempol menghadap ke atas, menggapai Tuhan. http://twitpic.com/2mj33t

Spesifik Namun Holistik

Halo, 35 menit dari skrg, saya akan coba membahas mengenai fenomena pendidikan saat ini. Terutama pendidikan di masa kuliah.

Teaser : “Aduh, ngapain sih saya belajar ilmu itu, toh kan saya nantinya akan ambil yang ini” . Ya, diawali dengan kalimat tadi.

Selamat menikmati. Tapi 35 – 45 menit lagi, saya masih harus mengendarai, si joni yg tak terawat lagi.hihihi..

Maaf, terlambat, sempat macet dan mampir sebentar ke toko buku.hehe.. Kita mulai! Akan saya beri judul “Spesifik namun Holistik”

Kalimat ini : “Aduh, ngapain sih saya belajar ilmu itu, toh kan saya akan ambil yang ini dan jadi ini”, acap kali terucap. Saya menyayangkan ini.

Penjurusan yang ada bukanlah bentuk segregasi – pemisahan. Itu merupakan upaya memiliki kemampuan khusus – basic skill.

Basic Skill itu contohnya seperti ini : Arsitek – bikin bangunan, Planologi – bikin tata kota, Perminyakan – pengeboran minyak.

Nah, terkadang, para mahasiswa terlalu fokus akan bidangnya, hingga terkadang lupa membuka kancah wawasan lebih luas.

Buku teks sudah membuluk, buku-buku lain apalagi, membusuk. Terlalu banyak kegiatan ini itu, lupa membuka wawasan ilmu.

Coba kita ambil contoh yg gampang : arsitek. Dia mau bikin bangunan. Ga cuma melulu dia harus fokus pada bangunannya.

Dia pun hrs memikirkan, bagaimana perizinannya – hukum, bagaimn apresiasi assetnya – ekonomi, dari segi tata kota apakah tepat – planologi.

Dalam satu proyek arsitek saja, keterlibatan berbagai basic skill bertemu. Apalagi dalam proyek yg melibatkan kemanusiaan.

Politik misalnya. Suatu kebijakan, akan berdampak pada berbagai ranah. Dari mulai ekonomi, sosial, teknologi, bahkan seni.

Spesialisasi hanya bagi semut!  Semut menutup diri akan pengetahuan-pengetahuan yg lain. Manusia memang semut?

Menurut sy, pemikiran seperti menutup diri akan ilmu, anggapan bahwa IPA tidak perlu belajar IPS, hanya akan membuat peradaban melambat.

Mungkin ada pengaruh dari passion atau terkadang dari sisi pendidik. Namun, coba netralisir hal itu. Wawasan akan menambah ruang.

Yang terpenting bukan sekedar nilai, coba pahami ilmu yg ada di dalamnya, biar pintar, menambah wawasan. Perluasan – menjadi lbh holistik.

Waktu yg berkurang, akibat wawasan yang bertambah. Memang rugi yah? Wah, mungkin anda termakan zaman, bukan ingin merubah zaman.

Kita harus punya basic skill – spesifik, namun kita harus memiliki wawasan yang luas – holistik.

Perkembangan manusia mencakup berbagai aspek kehidupan. Basic skill saja tidak cukup.

Mau jadi businessman tapi ga mau belajar finance, hanya mau marketing saja. Lah itu sih jadi salesman.hehe..

Mau jadi teknokrat di bidangnya tapi enggan untuk tahu ekonomi, politik, dan ilmu sosial. Itu sih jualan besi saja sampai berkarat.

Mau jadi businessman tapi hanya mau tau manajemen. Jualan ajah tuh produk2 sekarat atau malah jasa yg tercekat.

Mau jadi seniman tapi tidak mau tahu apa arti menawan bagi para cendikiawan, atau bahkan tukang jualan bakwan. Bikin saja karya di awan.

Jadi, kuliahlah biar pintar, bukan sekedar lulus cumlaude. Menjadi spesifik namun holistik.

Sekian, terima kasih. Maaf merusak timeline akhir pekan anda. Salam terhangat untuk @senninurul atas obrolannya di mobil.hehe..

Berubah

1. meminta perubahan, tanpa ingin berubah. kamu rubah atau bedebah?

2. Sering kali kita mendapati celaan masyarakat terhadap kondisi negeri ini. Tapi pernahkah terlintas untuk merubah?

3. ups, maaf.. mengubah, bukan merubah.

4. Ya, omongan “berubah” atau “mengubah” sering kali pula menelusup, terutama bagi mahasiswa. Tapi sudahkah mencoba berubah atau mengubah?

5. “Oh, sudah! Km tidak lihat aksi kita kemarin? Itu bentuk mengubah. Setidaknya ide untuk berubah, sdh saya tawarkan.” Tidak, itu tidak cukup!

6. Perubahan yg dituntut masyarakat skrg adalah suatu hal yang tangible yang terasa. Sempat saya singung di twit saya yg lalu, saya coba ulang.

7. Ide sdh tidak cukup lg skrg, harus ad produk nyata yang menjadi solusi, suatu yg tangible, yang terasa. Ada barang yg diperdagangkan – trade

8.  Juga diperlukan aksi publik (public), acara berkumpul untuk mempertemukan yg punya ide sama (event), dan upaya mempertajam ide (education).

9. Nah, kmbli ke topik, boleh kita mengutuk kegelapan, tapi jgn lupa untuk menyalakan lilin.

10. Ya, boleh kita mengutuk keadaan kita skrg, tapi kita harus mulai mengubah. Siapkah kita untuk berubah atau mengubah?

11. Daripada ngeluh terus masalah macet. Bisa mulai bikin konsep angkutan kota yang baru. Misalnya kita coba rebranding angkot Bandung.

12. Menurut saya, itu merupakan salah satu tawaran solusi yg bagus. Menghasilkan dan membawa manfaat. Pertanyaan : mau?

13. Atau kita bikin bis kota yang bagus. Butuh modal? Ya itu dia, serunya mengubah. Butuh kegigihan yang matang. Mengeluh? Mati ajah deh lu!

14. Oh, maaf kecenderungan ke arah bisnis, tapi memang menurut sy itu hal yg paling terasa bagi masyarakat. Masyarakat butuh produk (trade).

15. Jgn lupa, dalam menciptakan suatu produk, berbagai disiplin ilmu masuk ke situ. Mesin, Industri, Tata Kota, Hukum, Manajemen, Antropologi.

16. Jadi, ingin mengubah? Atau ingin berubah? Ciptakan produk, perdagangkan.

17. Mulailah berdagang yang membawa keuntungan dan manfaat bagi khalayak. Jgn cuma pikirin perut sendiri doang kayak wakil rakyat.hehehe..

18. Solusi terbaiknya untuk mulai berubah atau mengubah : peka, catat, pikirkan, lakukan, buat jadi kenyataan.

19. Sekali lagi, boleh kita mengutuk kegelapan, tapi jgn lupa menyalakan lilin. Terima kasih. Selamat mengubah!