Yang Fana & Abadi

Di kantor beberapa waktu belakangan ini, digawangi oleh Sarah Soeprapto, lagi sering ngebuat kesimpulan (sok) filosofis dengan  pola “(isi sesuatu disini) itu sementara, (isi sesuatu disini) itu selamanya”. Seperti biasa, saya sebagai antek SarSup pun terbuai dengan modul bertutur itu, dan akhirnya mulai ngide-ngide sendiri (atau kadang berdua sama Raras). Di tengah lagi ngide-ngide, tiba-tiba keinget kalau pola tadi itu mirip banget sama potongan sajaknya Sapardi yang cukup terkenal, yang fana itu waktu, kita abadi. Jadi, ini iseng-iseng berhadiah aja, kalau ada yang suka, silakan dibungkus aja ya. Daftar ini akan di-update kalau memang ada ide-ide tambahan. Mari mari~

galau itu sementara, pendewasaan itu selamanya
ngerti itu sementara, bingung itu selamanya
ingat itu sementara, lupa itu selamanya
jawaban itu sementara, pertanyaan itu selamanya

 

Colors

You don’t put “colors” on your drawings, you put “lights”.
You don’t construct “visual”, you construct “time”.

Your drawings are continuum of space and time, hence, not “depictions”, but “moments”. Your stroke evoke the very sense of being a human — the capacity to experience and understand by not only to see, but also to feel. That’s why your drawings are not recollection of visual attractions, but recollection of emotions.