Sunshower (Tribute to Raygava & Chris Cornell)

Teruntuk Mas Rega,

Kemaren-kemaren ini, pas nama Chris Cornell banyak tampil di media sosial, saya beneran ga tau siapa itu Chris Cornell. Sampe akhirnya Mas Rega ngepos di Path baru-baru ini soal lagu kaveran Mas Rega Tribute to Chris Cornell dengan judul lagu Sunshower. Seperti biasa, semua postingan Mas Rega tentang karya-karya kaveran maupun lagu sendiri Mas Rega selalu menarik perhatian saya (Hemat Pangkal Kaya, Teorinya itu bakal jadi bahasan lain di email lain kayaknya). Saya langsung selancar ke link YouTube itu, lagu mulai, saya mulai anticipating, dan puncaknya adalah ketika masuk ke reff, saya beneran terenyuh, “apa-apaan nih, ini lagu kaveran atau obituari?”
 
Buat nyari insight, saya langsung coba cek ke description si video itu, dan nemuin di situ nemuin,
Why Sunshower? This was Chris Cornell’s single. Not Soundgarden and not Audioslave, so I thought it’s just proper to commemorate him with one of his earliest solo tracks. It was also in the late 90s when I first heard chris made a song like this (it was for Great Expectations soundtrack before the euphoria morning album). It’s the one song that has always stuck in my fingers. I would played them everytime we hang out at a friend’s place (but of course I could never sing it properly). This song also has a positive meaning. Something I wish people will remember Chris Cornell for.”
Dan setelah baca itu, saya makin yakin kalau 5 menit yang baru aja saya lewatin itu adalah sebuah obituari. Saya ga pernah tau Mas Rega udah berapa kali denger suara ataupun komposisi dari Chris Cornell sepanjang hidup Mas Rega, saya ga pernah tau ada berapa koleksi CD, Tape, atau mungkin Piringan Hitam dengan nama Chris Cornell di dalem booklet-nya, saya ga pernah tau juga seberapa banyak video yang harus Mas Rega browsing buat bikin si video 5 menit ini, saya ga tau, Mas Rega. Tapi, yang jelas, abis dengerin lagu Sunshower kaveran Mas Rega, saya ngerasin segala macem setiap perasaan Mas Rega soal Chris Cornell, that particular feeling; about your attempt to play this song every time you hang out at your friend’s place, your automatically played fingers-memory to play this song when your hands are on the guitar, about your intention to sing your feeling out from right-part of screen to the left-part of the screen, about your lost on Chris Cornell. Dan setelah saya cek lagi lirik lagu-nya, kayak seolah Mas Rega beneran lagi cerita sebagai orang pertama, merapal doa, sekaligus ngasih pesan ke fans-fans Chris Cornell yang juga ngerasain kehilangan lewat lagu ini,

“But its all right
When you’re all in pain
And you feel the rain come down
Oh its all right
When you find your way
Then you see it disappear..
Oh its all right
Though your gardens gray
I know all your graces
Someday will flower
Oh in the sweet sunshower
Oh in the sweet sunshower
In the sweet sunshower..”

Terima kasih banyak sudah bikin kaver lagu ini dan ngebawa saya jadi kenalan sama Chris Cornell dan karya-karya solo Chris Cornell. Saya kayaknya ga akan pernah kenal sama Chris Cornell kalau ga ada Mas Rega. Dan sekarang ini, saya lagi muterin lagu kaveran Mas Rega ini untuk ke-sekian kalinya dalam 3 hari ini, di speaker saya di depan ini, lewat suara Mas Rega, saya seolah diingetin sama Chris Cornell, yang bener kata Mas Rega, semoga bisa jadi pengingat kita semua, tentang sense of hope yang pengen dibawa di lagu ini;
I know all your graces
Someday will flower
In the sweet sunshower
And its all right
All you’ll be you are today
Are today
Its all right
All you’ll be you are today
Are today………
p.s

Buat saya, yang ngalamin kekayaan berpikir Mas Rega dari mulai ke-impress sama Where I Belong, kepoin blog Mas Rega, ngalamin ngobrol dan ketemu langsung sama Mas Rega, ikut-ikut jadi crew pas Mas Rega dan Mas Wibi manggung di acara Arsitek UNPAR (7 tahun yang lalu?), dengerin 4 lagu demo Mas Rega yang Musikku, Titi Tiara, dan si track nomor 3 yang saya suka banget, sampe akhirnya tau kalau Mas Rega temenan sama Mbak Anggit, terus jadinya menikmati segala macem celotehan maupun potongan hidup Mas Rega dari Path; segala macem aransemen dan rekomposisi lagu ini bener-bener ngewakilin kekayaan berpikir Mas Rega banget. Jadi, this piece is really something expected from you sih. Sekali lagi terima kasih, Mas Rega.

Advertisements

Papa & Pancasila

Screen Shot 2017-06-01 at 9.33.53 PM

Hari ini, di media, ramai sekali post dengan tajuk “Saya Indonesia. Saya Pancasila” — sebuah perayaan untuk Hari Kelahiran Pancasila. Siang ini, di waktu kencan berdua dengan Papa, Papa saya ramai sekali kepingin nunjukin video yang didapetnya dari grup WhatsApp. Katanya, kamu harus liat pidato Bung Karno waktu di PBB soal Pancasila! 

Akhirnya, kita berdua baru berhasil nonton video itu setelah kencan, tepatnya, di parkiran basement salah satu mall primadona Bandung di era tahun 1990-an. Abis nonton video kira-kira berdurasi 1 menit 30 detikan itu, kita berdua nangis berkaca-kaca.

Papa saya bukan orang yang pandai untuk meromantisasi perasaannya, ga artikulatif sama sekali untuk mengungkapkan perasaan dan rasa cinta kasihnya baik itu ke orang terdekatnya ataupun ke negeri ini.  Tapi saya ngerti, emang itu bukan caranya dia buat ngungkapin perasaannya, terutama buat ngeromantisasi perasaannya untuk tanah kelahirannya, negara Indonesia. Papa saya ga bakal mungkin ikut-ikutan nge-post foto dengan template Pekan Pancasila. Papa saya gaptek, manalah dia ngerti main twitter, instagram, atau media sosial lainnya — cuma ada dua apps yang biasa dia buka di iPhone-nya, WhatsApp buat chatting sama Apple Music buat nostalgia-nya jadi penyiar radio amatir. Papa saya juga ga mungkin ikut upacara-upacara peringatan yang diadain sama badan-badan pemerintahan ataupun universitas karena emang Papa saya cuma lulusan SMA dan dia wiraswasta selama 50 tahun hidupnya. Jadi, ga bakal ada undangan upacara buat peringatan Hari Kelahiran Pancasila kayak di hari ini. Papa saya juga ga bakal ngerayain dengan berpakaian patriotik, isi koleksi lemari bajunya cuma ada kemeja kotak-kotak yang didominasi sama warna putih, abu, biru dongker, ijo tentara, ga ada itungannya baju safari, ataupun baju-baju yang punya nuansa patriotik. Tapi Papa saya punya caranya sendiri untuk ngungkapin perasaan cintanya ke negeri ini, cara khas Papa yang buat saya cukup lucu (dalam artian cute, kawaii) dan nakal (dalam artian tengil).

Papa saya selalu berbinar matanya setiap kali sarapan sama yang namanya kita kasih istilah 3T (Tempe, Tahu, dan Telor), entah itu mau dibikin penyetan, atau dikasih sambel kecap. Dan selesai sarapan, di suatu waktu dia pernah bilang, Papa tuh inget kata-katanya Bung Karno, katanya, cinta sama negeri tuh dimulai dari mulut sendiri. Papa saya selalu bangun subuh sekitar jam 4 pagi, dan kegiatan favoritnya adalah bukain jendala-jendela rumah sampe pintu rumah, dan kalau ditegur sama Mama atau Kakak-Kakak saya, ngapain sih, Pah? Dia, sambil ngerokok, bakal cuma jawab, biar isis. Padahal saya tau, dia menikmati sekali sama cuaca Bandung yang emang dingin di pagi hari dan merhatiin kegiatan-kegiatan subuh di jalanan. Buat Papa yang kerjaannya importir mesin-mesin tekstil, dia pernah suatu waktu bilang sama saya, kalau aja ada pabrik mesin di Indonesia yang bisa produksi mesin tekstil yang bisa saingan di dunia, Papa berani pindah haluan untuk jadi eksportir. Pas dia bilang gitu, saya sempet nanya, kok gitu? Papa cuma bales sambil lalu, ini soal statement bukan cuma soal dagang. Papa yang sampe sekarang selalu terkesima sama rumput-rumput yang tumbuh serampangan di jalanan (atau bahkan yang hidup di antara sela-sela troatoar atau paving block), dia cuma bilang, tuh liat kamu perhatiin deh, cuma di Indonesia loh yang bisa tumbuh rumput seserampangan ini, Papa tuh percaya loh, pasti si rumput-rumput ini tuh ada semacam “obat”-nya atau “kekuatan” deh, bayangin, masa bisa si rumput-rumput ini tumbuh nyempil gitu aja di jalanan atau di trotoar, pasti ada “tenaga” di dalemnya rumput-rumput ini. Dan ketika itu saya cuma bingung dan ngerasa kayaknya ada benernya omongan Papa ini.

Di antara celotehan-celotehan random-nya itu, ada satu kelakuan dari Papa saya, yang saya tahu, itu adalah salah satu ungkapan terjelas-nya soal rasa sayang dia buat tanah air ini. Papa saya hobi banget beliin buku dengan tema-tema Tokoh & Pokok Sejarah Ke-Indonesia-an. Sampai ada satu waktu dia bilang sama saya, kamu itu harus pakai Jas Merah — jangan sekali-sekali melupakan Sejarah. Dari sana, saya bener-bener kenalan lebih lanjut sama segala pikiran-di-belakang-kepala Papa atas segala celotehan-nya yang kadang lucu dan nakal itu. Dari koleksi buku-buku Papa saya itu (yang saya ga pernah tau, dia beneran bacain satu-satu atau ga), saya kenalan lebih jauh dengan Ke-Indonesia-an. Kalau coba dikategorisasi, perpustakaan Papa saya secara garis besar memuat lebih banyak Sejarah Kemerdekaan Indonesia di rentang waktu 1920-an sampai dengan 1980-an, dengan nama-nama Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka amat mendominasi judul-judul buku di perpustakaan itu. Papa saya yang nge-buat saya kenalan sama Bung Karno lebih jauh lewat Sang Penyambung Lidah Rakyat-nya Cindy Adams dan Di Bawah Bendera Revolusi, akhirnya saya tau soal asal mula dari Marhaenisme sama Nasakom. Papa saya juga yang nge-buat saya sempet agak sebel sama Soekarno gara-gara Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta kepada Presiden Soekarno-nya Mochtar Lubis. Papa juga yang nge-buat saya bisa menikmati Opera Tan Malaka garapan Goenawan Mohamad di tahun 2010 lewat buku-buku penelitian Harry Poeze soal Tan Malaka atau malah lewat Massa Actie dan Madilog-nya Tan langsung.

Buat saya sendiri, saya baru bisa memahami rasa kecintaan Papa saya itu pas lagi nulis tulisan ini. Karena waktu dulu, pas umur saya masih SD, saya udah sering banget diajak ngobrol sama Papa soal Kapitalisme dan Komunisme, ataupun Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia dari mulai konflik Blok Barat, Blok Timur, sampai akhirnya Konferensi Asia Afrika, go to hell with your aid, sampai akhirnya Gerakan Non-Blok — dan alhasil di setiap ending cerita, saya tuh bingung karena yang disampein sama Papa saya tuh rata-rata cuma fakta-fakta dan berita, kok ga ada sisi romantis-nya yang bisa bikin saya baper. Tapi sekarang ini, seiring dengan saya dewasa, dan mengalami pertumbuhan wawasan berpikir, saya jadi bisa memaknai lebih-dalam segala macem celotehan Papa atau cerita Papa soal Ke-Indonesia-an. Dan saya senang banget tadi bisa ngalamin untuk bisa nangis terharu barengan pas lagi nonton video pidato Bung Karno di tengah Sidang PBB soal Pancasila.

Yang menarik dari video ini, yang ngebuat saya sama Papa bisa nangis terharu adalah cara Bung Karno nyeritain Pancasila di depan khalayak PBB. Di video itu Bung Karno ngerephrase lima prinsip  kehidupan bernegara Indonesia itu dengan kata-kata Bahasa Inggris yang nge-buat makna dari tiap butir Pancasila jadi lebih “agung” (dalam artian grand) dan “relevan”. Kita coba bahas satu-satu ya.

Sila pertama, yang asalnya Ketuhanan Yang Maha Esa, di video itu, sama Bung Karno diganti jadi Believe in God. Buat temen-temen yang ngikutin proses pembuatan naskah Pancasila, Bung Karno emang dari awal nawarin ke rapat BPUPKI dengan redaksi kalimat Ketuhanan Yang Berkebudayaan. Ide Bung Karno dari awal adalah untuk menenggarai segala macam kekayaan budaya yang ada di Indonesia, yang mungkin hendak mewakili konsep spiritualisme, sikap percaya adanya higher being di dunia ini. Tapi redaksi kalimat itu ditolak di rapat BPUPKI, saya lupa-lupa inget, silakan dicek sendiri ya (seinget saya sih, yang ga setuju tuh Mohammad Yamin). Dan saya seneng banget karena di tahun 1960 (15 tahun setelah pengukuhan hari lahir Pancasila), Bung Karno masih pake ide dasarnya dia soal konsep spiritualisme di sila pertama Pancasila.

Sila kedua, yang asalnya Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, di video itu diganti jadi Nationalism. Buat saya, ini gila banget. Lompat sih, tapi entah kenapa jauh lebih relevan.

Sila ketiga, yang asalnya Persatuan Indonesia, di video itu diganti jadi Humanity. Di titik ini sebenernya saya agak bingung dan bertanya-tanya, ini ketuker atau gimana sih sama sila kedua, tapi kok urutannya bagus banget ya, awalnya dari negara tapi abis itu ngomongin manusia. Buat saya terjemahan Persatuan Indonesia ditarik jadi Humanity beneran nge-jawab tentang rasa kepemilikan yang terus bertingkat. Kita warga Indonesia, tapi juga warga dunia.

Sila keempat, yang aslinya Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Langsung diganti sama Democracy. Wah, di titik itu, kepala saya cuma bisa nge-luarin meme “terjadinya Big Bang di Kepala”. Ini beres banget buat saya ketimbang redaksi kalimat yang ada di Pancasila itu sendiri. Satu butir pancasila ini, yang kalau di Upacara Bendera pas SD dulu dibacainnya dipenggal dua kali; jadi Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan // dalam Permusyawaratan Permakilan, bisa diringkat dengan satu kata yang beres banget; Democracy.

Lalu, sebagai penutup sila kelima, asalnya Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Bung Karno terjemahin secara sederhana dengan keren; Social Justice. Di titik ini, pas saya denger Bung Karno ngeluarin kata itu, wah, gila ya, ini pidato di PBB loh, itungannya dunia, dan dia ngomonginnya keadilan sosial itu harus bisa jadi juga milik warga dunia. Di titik itu saya percaya, kalau Bung Karno di kala itu beneran lagi jadi promotor-nya Indonesia di mata dunia.

Dan nge-reflect dengan kondisi kita seperti sekarang ini, yang kalau kata Mark Manson di bukunya The Subtle Art of Not Giving A Fuck, we’re more politically polarized than ever before, Pancasila (juga kehadiran Bangsa Indonesia) di era itu beneran hadir sebagai “penengah yang terus berupaya untuk the greater good. Di tahun 1960-an itu, polemik Blok Barat dan Blok Timur lagi panas-panas-nya, tapi Bung Karno berhasil hadir ngebawa Pancasila di tengah Sidang PBB dengan cara yang cantik banget! Dan itu lima tahun setelah Konferensi Asia Afrika loh, abis tercetusnya Dasasila Bandung sebagai cikal bakal dari Gerakan Non-Blok. Jadi, rasanya, memang ada kekayaan berpikir dan bersikap dari this improbable nation (meminjam judul buku Elizabeth Pisani) dengan segala kekayaan geografisnya (yang berada di antara dua benua dan dua samudra, dengan segala lempeng tektoniknya yang sangat aktif) untuk bisa mencari titik tengah itu — bukan untuk menang, bukan untuk kalah. Jadi, saya rasa di antara segala polaritas politik yang sedang kita rasakan di sekitar kita, pertanyaan yang paling pentingnya adalah untuk pikiran, perasaan, dan tindakan kita sendiri, dengan adanya polaritas ini, lantas kita akan mengambil penyikapan utuh seperti apa? Bagaimana kita memaknai Pancasila dengan segala ke-Indonesia-annya? Apakah dengan lantang berkata “Saya Indonesia. Saya Pancasila” seperti yang sedang ramai di media? Memangnya Pancasila  harus kita rayakan dan harus kita bela? Mengapa Pancasila harus kita serukan? Jangan-jangan kita sendiri belum pernah benar-benar memikirkannya?

Abis akhirnya nangis terharu berdua sama Papa, saya sempet nanya ke Papa, Pap, kenapa nangis? Papa jawab, coba kamu bayangin deh, nilai-nilai pancasila itu bener-bener deh. Lalu, seperti biasa, Papa bakal berhenti karena kebingungan untuk mengartikulasikan pikiran dan perasaannya. Saya tanya lagi, bener-bener apa? Papa cuma bales, ya gitu, kamu ngerti kan? Dan di titik itu, saya cuma ngangguk sembari nangis lagi terharu.

Iya, Pap, mungkin Adek ngerti.

Senandung Senandika Maliq n D’Essentials : Kita Beda-Beda, Terus Kenapa?

37276058_800_800

Pertama kali album ini dateng di Apple Music, kaget banget ngebaca judul besar dari album ini; Senandung Senandika. Buat temen-temen yang ga ramah sama kata “senandika“, kata itu berarti ke arah sini; ungkapan perasaan yang mendalam dari seorang karakter dalam sebuah cerita, bisa tentang perasaan, cara pandang hidup, firasat, atau hal-hal lainnya yang menggambarkan tatanan nilai dari karakter tersebut.

Dengan judul album se-gede itu, ekspektasi saya buat dengerin album ini tinggi banget. Dan pas diputer, saya cuma bisa teriak-teriak kegirangan, “Apa-apaan nih! Gila, gila, Guruh Soekarno Putra Masa Kini banget nih?”

Kayaknya lewat album ini, Maliq pengen nge-chat ke jejeran band pop-hits-90-an cem GIGI, KLA Project, Sheila on 7, dan lainnya, “makasih buat segala inspirasinya, ini sekarang gw terusin ya perjuangan di garda musik Indonesia, gw bawa ya ini semua semangat ke-Indonesia-an yang udah ditumpuk banyak banget, gw kemas biar masih tetep relevan sama citra zaman sekarang ini..”

Ini masih Maliq yang kita kenal kok. Sentuhan ritmik dan bass yang kental nuansa funk masih ada. Soundscape dengan tone jazz and soul masih keliatan. Yang bener-bener bikin album ini seger adalah identitas Maliq yang udah kita kenal itu ditabrakin sama tensi kultur masa kini Indonesia (dengan segala kekayaan Nusantara) yang ada. Lewat album ini, kita diajak Maliq buat ngeliat Indonesia dengan segala kekayaan dan tabrakannya Spiritualitas, Modernitas, dan Tradisionalitasnya.

Misalnya, di lagu nomor pertama  album ini, Sayap. Di intro lagu, kita dikasih suara Kecapi (atau mungkin Sitar?), tapi tiba-tiba beberapa bar selanjutnya, kita langsung dikasih suara Drop Bass ala EDM. Faker! Di antara segala macem kontras suara yang ada di lagu itu, si Maliq malah nyampein pesan yang “lebih” daripada sekedar kontras tradisionalitas & modernitas, dan pesan itu coba disampein di lirik lagu-nya, “sayap-sayap terbangkan aku, jiwa raga bebaskan aku..

Modul berpikir yang mirip sama lagu Sayap ini juga coba dielaborasi dengan cara lain lewat lagu Titik Temu. Dengan kontras antara suara sitar, ritmik drum and bass berulang, soundscape yang mainin arpegiator, liriknya lagi-lagi ga peduli-in sama sekali soal kontras, malahan ngomong soal, “hingga titik temu membukakan pintu, mengungkap rahasia semua yang fana, demi masa, kita hanyalah manusia..”

Atau misalnya lagi, di nomor lagu ketiga, Maya. Disini Maliq nge-buka lagu dengan ragam perkusi yang ngingetin saya sama aksi rebana dan paduan suara ala marawis. Tapi, begitu masuk ke verse dan inti lagu, suara bass dan aransemen ala EDM yang berulang nge-respon intro lagu ini, pas lagi di tengah-tengah orkestrasi suara itu semua itu, Mbak Indah sama Mas Angga malah nanyain, “siapa kita sebenarnya di antara dua dunia?” Gila, ini lagu lagi ngomongin soal identitas dan hiperealitas, nanyain-nya gitu, terus dibawain-nya kontras antara marawis sama EDM!

Misalnya lagi, salah satu nomor lagu yang seru adalah Kapur. Di lagu ini Maliq pengen coba nyeritain sosok Guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa! Bangsat, buat saya, ini tema yang jauh banget dari misalnya, Menikmati Cinta di era Maliq pas album Free Your Mind.

Kalau mau diringkas, di album ini, Maliq beneran bisa nge-ekstensi-in kekayaan berpikirnya abis-abisan yang berangkat dari nomor-nomor lagu, kayak Beautiful Life & Terlalu dari album The Beautiful Life atau juga lagu-lagu kayak Ananda, Imajinasi, Himalaya, Nirwana dari album Musik Pop, dan single terbaik buat saya pribadi, Aurora. Jadi, buat temen-temen yang suka sama nomor-nomor lagu tadi, album ini dijamin ga bakal ngecewain.

Di titik sekarang ini, saya beneran berani ambil suara kalau ditanya lagu apa yang harus dipasang di gate kedatangan pesawat di airport-airport Indonesia; Maliq n D’Essentials album Senandung Senandika.

Dengan segala tensi politik yang terjadi belakangan ini, belum lagi aksi terorisme di Kampung Melayu kemaren ini, satu album Maliq ini bisa ngasih safe haven banget buat 45 menit. Ngasih penyegaran di antara segala tarik-menarik isu yang sangat bipolar ini. Dan lewat album ini, Maliq dengan coba menyampaikan Senandika-nya dengan cara bersenandung, “kita emang beda-beda, terus kenapa? mau ada yang menang dan kalah salah satu-nya? kenapa ga kita saling respon sambil sama-sama kerja bareng untuk kejar sesuatu yang lebih “agung” barengan aja?”

Dan gara-gara album ini, saya jadi ke-inget sama potongan kalimat penting yang nyamperin saya lewat surat di tengah bulan Desember tahun 2016 kemaren, “nobody are freaks because everybody are freaks, nobody is normal because everybody is normal — such a paradoxical concept..”

Di antara ingatan itu, di depan saya, suara Mbak Indah sama Mas Angga lewat bersenandung lewat nomor lagu terakhir di album ini, yang udah saya puter 30 kali selama 7 hari ini,

Manusia biasa
seperti Kau
luar biasa
bisa terbiasa
menerima
memahami
dan akhirnya memaklumi
tanpa ada Karena..

Manusia biasa
Kamu luar biasa
Aku luar biasa
Kita luar biasa..

Terima kasih, Maliq buat Senandung Senandika-mu! Semoga kita bisa ketemu di kesempatan untuk nge-feature kamu di salah satu Cerita Senandika-ku nanti ya! Selamat mendengarkan buat teman-teman lainnya~

p.s
this post is dedicated to you, yang nulis potongan kalimat diatas —  the empress who can detects the beauty in between duality~

p.s.s
buat kamu yang se-pengen itu ngembangin cerita fiksi yang bisa ngegambarin segala “keindahan” isi kekayaan Indonesia dan Nusantara dalam kemasan yang kini, album ini referensi yang sangat menarik..

Penyesalan

IMG_2257.JPG

Baru aja kemaren cerita soal perjalanan band ini sebagai salah satu penyesalan hidup paling besar yang pernah kejadian, tiba-tiba pagi tadi diingetin Path lagi soal si band ini.

Kalau dapet kesempatan kedua buat ngulang salah satu momen yang sempetdilaluin sama band ini dan ngelakuin suatu hal yang berbeda; bakal bersisikukuh untuk tetap nerima dulu tawaran kontrak dari Warner Music Indonesia buat gabung di proses produksi album finalis Astro SMUSIK Band Combat.

_

Jadi, ceritanya, dulu tuh si band ini sempet jadi finalis ngewakilin Kota Bandung di acara Astro SMUSIK Band Combat (Festival Band SMA yang diselenggarain Astro TV). Setelah sempet ngelewatin camp sekitar 4 – 5 hari di Jakarta, pengumuman pemenang pun akhirnya keluar, di tengah panggung La Piazza, kaget juga nerima plakat dan piala, dengan label “Best Performance III”.

Sesuai dengan pengumuman di awal festival, band-band yang masuk ke babak final bakal dapet kesempatan untuk rekaman single di album kompilasi Astro SMUSIK Band Combat, langsung di bawah naungan produksi dan distribusi Warner Music Indonesia. Waktu itu masih umur 16 tahun, jadi pas mau ambil keputusan tanda tangan kontrak rekaman yang ditawarin Astro TV x Warner Music Indonesia harus sampe ngadain rapat band bareng sama orang tua.

Masih inget banget, waktu itu rapatnya di ruang keluarga di rumah TCS 45, dan setiap anggota band dan setiap orang tua nyeritain hopes & concerns–nya soal kontrak rekaman ini. Rata-rata setiap anggota band dan orang tuanya cerita soal, “seneng banget, si band ini bisa berprestasi sebegininya, tapi cemas juga sama karir anggota band ke depan kalau terlalu serius nge-band, karena sebentar lagi kelas 3 SMA, dan harus mulai fokus SNMPTN”. Masih inget banget, kalau setelah setiap anggota dan orang cerita soal hopes & concerns–nya, ga ada yang ngeaddress atau ngeexercise permasalahannya dengan lebih thorough. Masih inget banget, di momen itu si Saya ngerasa kalau sebenernya setiap anggota band dan bahkan setiap orang tua ga punya gambaran cukup jelas buat nentuin keputusan itu, sebenernya posisinya setiap anggota band masih sangat indecisive soal keputusan ini. Masih inget banget, secara sosial yang megang kartu truf itu si Saya, sama si Dito ini, inisiator dari band ini. Dan masih inget banget, ketika itu, saya sendiri ga punya cukup pengetahuan dan kemampuan untuk ngeproyeksiin ke depan, ga punya keberanian buat bersuara lebih banyak, ga punya hasrat buat ngepersuade semua orang yang ada di rapat itu, ga punya sense of urgency yang cukup untuk nge-addresssegala kegelisahan yang sebenernya lewat di kepala. Masih inget banget, sampe akhirnya si Dito coba buka suara untuk kedua kali, dan mulai condong ke arah nolak kontrak rekaman, terus disambut sama dukungan orang tua-nya dan orang tua yang lain untuk ngebuat anggota band disana fokus ke belajar dulu ketimbang nge-band. Dan akhirnya, keputusan dari rapat itu berakhir dengan “ditolaknya tawaran kontrak rekaman, dan band adalah sekedar hobi yang menghasilkan”.

SHOOT!

Coba aja kalau waktu itu, sebelum rapat, nyari tahu dulu segala macem informasi soal kontrak rekaman dan dunia kerja di industri musik. Coba ajakalau waktu itu, udah berhasil ngeyakinin dulu semua anggota band buat sepakat ambil kontrak itu dan bilang satu suara kalau “kami semua pengen belajar” ke depan orang tua kami. Coba aja kalau waktu itu, beneran lebih ngerti urgensi dari pertemuan anggota band dengan orang tua yang bakal diadain. Coba aja kalau waktu itu, emang udah paham kalau posisi dan proses kognisi dari setiap orang tua dari anggota band, jadinya bisa bikin rencana kejadian pas rapat.

Atau mungkin, coba aja kalau waktu itu, pas ditengah rapat, bisa ngejelasin dan nge-engage semua orang kalau kesempatan yang didapet ini semacam golden ticket untuk bisa masuk ke skena industri. Coba aja kalau waktu itu, bisa nge-address issue bahwa yang penting buat kita sekarang ini adalah belajar dulu aja untuk bisa gaul sama pemain dan kerjaan di level industri, dan biarin keputusan berkarier itu ditentuin lagi di depan, setelah nyicipin dulu proses rekaman, dan ngelewatin SNMPTN. Coba aja kalau waktu itu, bisa ngejelasin kalau berkarier di industri ini tuh mungkin, dan emangbanyak banget lini pekerjaannya. Coba aja kalau waktu itu, bisa ngasihgambaran betapa besarnya kesempatannya yang bisa dijelang di depan di tengah industri. Coba aja kalau waktu itu, berani ngeinterupt hasil keputusan rapat.

Atau juga, coba aja kalau waktu itu, setiap orang tua ngeluangin waktunya lebih banyak untuk bisa nge-gali ke setiap anaknya tentang cerita dan pembelajaran yang dialami sama setiap anak dari proses nge-band ini. Coba aja kalau waktu itu, ada orang tua yang lebih paham aja sedikit tentang andragogy dan bisa ngasih “kebebasan” buat setiap anaknya untuk bisa milih dengan lebih dewasa.

Coba aja..

Karena bukan ga mungkin, band ini nge-impress para produser di masa itu. Bukan ga mungkin juga, band ini bisa jadi ngebuka kesempatan buat band-band lokal indie Bandung lain untuk bisa lebih apresiatif dan berani untuk kerja bareng sama label rekaman arus utama. Bukan ga mungkin juga, band ini bisa jadi ngedefinisiin kalau arus utama musik Indonesia saat ini (bukan “solo karir” tapi “band”). Bukan ga mungkin juga, band ini bisa jadi masuk ke festival-festival musik di luar sana buat jadi representasi band Indonesia.

Sepercaya itu sama band ini. Dan lagi, di momen dapet Best Performance III di Astro SMUSIK waktu itu, komitmen dari masing-masing anggota lagi tinggi-tingginya. Bukan, bukan gara-gara keberhasilan untuk jadi juara di tengah festival musik skala nasional. Itu mah cuma bonus aja. Komitmen dan rasa percaya ini beneran dibangun with blood and tears, like literally. Komitmen yang dibangun dari diskusi panas-panas emosional sampe bikin si Regi nonjok kaca studio sampe pecah dan berdarah pas lagi nge-aransemen lagu kaver-an dari band favorit, padahal cuma buat manggung di sekolah. Komitmen yang dibangun dari rasa kecewa si Audy gara-gara ngerasa di-”dua”- in kalau si Saya sama si Dito sempet nge-band sama yang lain. Komitmen yang dibangun dari ketaatan dan ketekunan dari tiap personel untuk ngulik lagu-lagu baru buat dikaver dan dibawain. Komitmen yang dibangun dari belanja alat barengan buat ngelengkapin isi studio. Komitmen yang dibangun dari nge-jam semaleman pas malem taun baruan, sampeakhirnya nyamperin si Fabian yang lagi manggung solo di salah satu kafe di Dago dengan setelan kolor yang selalu dibanggain. Komitmen yang dibangun dari betapa seringnya kita solat sambil bercanda di tengah-tengah latihan band, sambil gantian makan gorengan. Komitmen yang dibangun dari riweuh-nya naik turunin alat dari studio ke mobil combi, turunin ke panggung, terus naikin lagi. Komitmen yang dibangun dari momen-momen berdoa ke God of Funk sebelum naik ke atas pentas, abis itu yel favorit buat ngasih semangat ke diri sendiri sebelum manggung. Komitmen yang dibangun dari setiap brainstorming ide setiap kali composing lagu, asiknya ngeliat duo gitar present ide lagu, gelisahnya pas nyari rhytm bareng sama si Audy, cemasnya si Regi pas bikin nada vokal. Komitmen yang dibangun dari keringet yang deres ngalir sekujur badan setiap kali berhasil nge-gebrak panggung dengan puas dan lega atau sekedar bisa nyampe ke synchronized state pas lagi latihan di studio (oh guys, come on, it’s like having orgasm, right?)

Tapi, cuma gara-gara satu keputusan di pertemuan waktu itu, yang gangasih kesempatan belajar, yang ga bisa apresiatif sama segala proses yang terjadi, yang ga bisa ngasih keberanian untuk berlaku bebas dan tanggung jawab secara dewasa; komitmen yang dibangun pun mulai luntur. Pelan-pelan, mulai keilangan semangat dari nge-band sebagai sebuah statement, selain untuk hobi. Kecepatan produksi lagu menurun, percepatan belajar melambat, koleksi lagu kaver ga bertambah, intensitas latihan berkuang, sampe akhirnya nyampe tuh SNMPTN, dan ya band sekedar hobi, dan buat apa dipertahankan. Band pun kemudian vacuum.

Dan ya, sekarang, akhirnya setiap dari kami sudah mulai menentukan jalan dan hidup-nya masing-masing. Ada yang udah nikah, lanjut S2 di negeri sebrang sana, ada yang lagi jadi Pengajar Muda di Musi Banyuasin sana, ada yang lagi berkarir beneran jadi musisi sembari jalanin S2, dan ada saya yang bahkan baru bisa nge-resolve kejadian yang hampir 9 tahun yang lalu, kemarin ini. #gagalmoveon

Cuma yang jelas, saya ga mau lagi menyesal. Karenanya, saya ga bakal ngebiarin ada orang-orang di sekitar saya, yang masih bisa saya capai dalam jangkauan tangan saya untuk ga ngedapetin akses ke iklim diskusi yang apresiatif, yang bisa ngasih constructive feedback. Iklim diskusi yang ngebuatsetiap orang berani untuk bertanggung jawab atas setiap pilihan dalam hidupnya, iklim diskusi yang bisa ngasih ruang buat kesempatan kedua, untuk lebih banyak orang tumbuh.

Semoga ke depannya, ga ada lagi kejadian dimana talented people distracted by common convention. Saya selalu percaya, setiap orang di dunia dikaruniai dengan segala bakat dan manfaatnya. Dan seringnya, bakat dan manfaat itu masih sembunyi di belakang kepala, atau mungkin t tempat yang tepat buat tumbuh. Seperti salah satu quote favorit di video campaign Prince Ea, “Everybody is a genius. If you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”

p.s

this post is dedicated to my two favorite Fe Hero(in)es..

thank you for embracing all the emotions, appreciating my anxiety, and composing a very powerful prescription for resolving one of my biggest regret in my life..

akhirnya ngerti apa yang dimaksud kata pengantar Dewi Lestari di buku Akar, pengen banget rasanya kalian dijadiin permen hisap yang ga abis-abis diemut, biar bisa selalu inget rasanya..

p.s.s

teman-teman di band ini, saya masih menunggu lagi kesempatan lain buat bisa latihan band bareng lagi, sekedar masuk ke studio, atau malah ngisi acara di kawinan orang.. yah, namanya juga nge-band sebagai hobi.. kangen juga.. hehe.. wish you all a big and warm goodluck for your own future! Stay close, feel free, let’s have a jam session in the sky, and get fu*ked!

——
entri dari medium.com/@triadipasha
ditulis di tanggal 9 November 2016

Antusiasme

Mario, Athalla, Magali

Yang selalu mencuri perhatian dari para ponakan adalah binar mata itu — those sparkly eyes — yang selalu berisyarat dengan sejuta pertanyaan, keinginan, kecemasan, tapi juga kesiapan untuk berpetualang dan mencari jawaban — dengan segala kecerobohan, dengan segala ketidaktahuan.

Saya adalah salah seorang yang mengimani energi di balik binar mata itu — that sense of wander and wonder. Energi yang terbangun karena adanya rasa percaya bahwa selalu ada yang “belum tergapai” di luar sana — there is always undiscovered paradise out there. Saya menyebutnya antusiasme bocah. Antusiasme inilah yang mendorong saya untuk mempertanyakan banyak hal, berani melakukan kenakalan-kenakalan, senang membuat inisiatif-inisiatif kecil, atau malah mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Saya tumbuh besar dengan antusiasme bocah ini dan selalu mengandalkan antusiasme bocah untuk menyelesaikan setiap persoalan.

Sampai-sampai, seringnya saya lupa kalau saya bukan lagi bocah berumur lima, yang bisa dengan polosnya mengandalkan antusiasme belaka untuk menjawab setiap tantangan kehidupan. Sering sekali orang-orang di sekitar selalu mengingatkan dua hal; 1) bahwa umur sudah mulai memasuki paruh kedua usia berkepala dua, 2) untuk “pelan-pelan”, “sabar”, dan “hati-hati”. Peringatan pertama seringnya juga saya lupa, tapi setidaknya setiap tahun selalu diingatkan oleh notifikasi dari facebook. Peringatan kedua, yang selalu diingatkan oleh kedua orang tua bahkan sejak saya umur lima, entah kenapa belakangan ini mulai datang bertubi-tubi, yang seringnya juga saya lupa atau indahkan. Pikiran saya, setiap kali ada orang yang coba mengingatkan, “Kenapa harus pelan-pelan, sabar, dan hati-hati? Bagaimana bisa mencapai titik yang “tak tergapai” kalau kita pelan-pelan, sabar, dan hati-hati? Bukannya itu hanya akan membatasi ruang gerak dan menurunkan tingkat keseruan selama berpetualang?”

Perlu waktu hampir 20 tahun dengan segala problematika dan proses pendewasaannya untuk bisa mengamini apa yang dimaksud orang tua dengan pelan-pelan, sabar, dan hati-hati.

Selama ini, setiap kali saya menemukan pertanyaan baru, hingga akhirnya memutuskan untuk memulai perjalanan, saya selalu mengandalkan antusiasme bocah yang ada di kepala saya, “kayaknya kesini deh”. Dan seringnya memang intuisi itu membawa saya ke sebuah “tempat” dimana jawaban itu seringkali hadir, atau malahan membawa saya ke sebuah pertanyaan dan perjalanan baru. Sampai pada suatu waktu, saya terlalu antusias untuk terus mengikuti intuisi bocah yang ada di kepala saya, sampai tiba pada suatu “tempat” yang memang belum saya “gapai” sebelumnya, tapi tidak memiliki jalan untuk melangkah maju — saya tahu, di titik itu, saya tersesat.

Saya pun memilih untuk memutar balik, menuju suatu titik dimana perjalanan dari suatu pertanyaan itu dimulai. Dan di titik itu, saya bisa melihat dengan lebih jelas, bahwa memang baru saja saya tersesat, dan mulai bertanya, “Bagaimana bisa saya tersesat? Pertanyaannya kan dimulai di sini, kok bisa-bisanya saya menjawab sampai ke situ?” Saya lupa untuk memetakan kembali apa-apa yang sudah saya jalani, seolah saya selalu berjalan dengan kepala yang tidak tahu apa-apa. Padahal, setiap perjalanan yang sudah dilewati pasti meninggalkan peristiwa, meninggalkan tanda. Dan di titik itu, saya sadar, saya terlalu ceroboh.

Kemudian, saya pun pelan-pelan membaca tanda, sekali lagi kembali bertanya, dan mulai menyusun rencana. Dari sana, ada satu hal yang saya sepakati dengan “pelan-pelan, sabar, dan hati-hati” yaitu, setiap perjalanan yang yang ada di depan mata bukan hanya tentang mencapai tempat yang “tak tergapai”, karena bisa jadi sekali lagi saya tersesat, setiap perjalanan ini harus terus menuju tempat yang memang “tak tergapai” tapi juga terus membuka jalan untuk selalu melangkah maju ke depan.

Untungnya, sekarang saya sudah ingat, bahwa saya bukan lagi bocah umur lima, melainkan Tri Adi Pasha yang sudah berumur 25. Saya masih mengimani energi di balik binar mata itu, antusiasme bocah — yang selalu menyimpan sejuta pertanyaan, keinginan, kecemasan, tapi juga kesiapan untuk berpetualang dan mencari jawaban — tapi bukan berarti saya bisa terus antusias dengan ceroboh dan seolah tidak tahu apa-apa. Saya mengerti bahwa “pelan-pelan, sabar, dan hati-hati” justru bukan untuk menihilkan keseruan yang ada selama perjalanan, tapi justru merayakannya. Dengan sekali lagi memastikan bahwa di setiap perjalanan memang selalu ada celah untuk kecerobohan baru, ada kesempatan untuk mempelajari pengetahuan baru, tapi yang jelas, perjalanan itu menuju sebuah keseruan baru, bukan kesesatan baru, sebuah bukaan untuk setiap orang melangkah maju— to not only achieve the undiscovered path, but also, make a way that may lead to the unforeseen chances.

——
entri pindahan dari medium.com/@triadipasha
ditulis 26 September 2016