Pilihan

Selamat malam, teman-teman semua,
selamat datang, para tamu undangan,

Jauh sebelum hari ini, jauh sebelum perjumpaan kita di gedung ini, saya percaya pertemuan kita disini dimulai dari kekuatan paling dasar yang dimiliki manusia : kekuatan untuk memilih.

Biasanya sebelum akhirnya kita kuat untuk memilih, seringkali banyak pertanyaan, atau dalam bahasa yang lebih sering kita jumpai — kegalauan.

Bagi teman-teman semua, sebelum akhirnya memilih meluangkan waktu di malam ini untuk menonton pertunjukan kami, saya kira teman-teman pun pasti dipenuhi kegalauan, “Apa nih Sunset Deity? Siapa nih Merchant of Emotion? Pementasan Teater Multimedia apalagi ini?”

Bagi kami, sebelum akhirnya memilih untuk memproduksi Sunset Deity, ada berbagai kegalauan yang kami hadapi. Kegalauan utamanya adalah “Ngapain ya enaknya abis kuliah, ngapain lagi ya enaknya setelah produksi Taraksa kemarin? Gimana kalau produksi lagi?”

Sepak terjang kami di Teater EPIK, memberikan pengalaman dan keasyikan tersendiri bagi kami. Untuk teman-teman yang mengikuti sepak terjang Teater EPIK, tentunya wajah-wajah yang hadir di panggung ini bukanlah wajah-wajah baru. Mungkin beberapa ada yang sempat melihatnya di nomor-nomor pertunjukan Teater EPIK seperti Taraksa, Mendiang Republik, Nest, ataupun Kontempo Lalu-Lalang. Dulu, memproduksi teater menjadi suatu kegiatan ekstra kuliah yang menyenangkan. Tapi sekarang, selepas dari bangku kuliah, memilih untuk memproduksi berarti memilih berprofesi di dunia pertunjukan.

Maka muncullah kegalauan selanjutnya, “Ngapain Tri jadi produser, udah capek-capek kuliah di SBM-ITB kok malah jadi produser? Ngapain sampai akhirnya memilih untuk memproduksi?”

Perlu waktu hampir 1 tahun untuk akhirnya bisa membahasakan cita-cita dan keinginan kami untuk menjawab pertanyaan itu. Ada mimpi yang kami kejar, yaitu membangun industri media yang masih muda di negeri ini dengan menghadirkan sajian hiburan yang lebih baik bagi Indonesia — we would like to give better entertainment for Indonesia.

Di tengah perkembangan industri kreatif yang sedang pesat-pesatnya, kami sadar, bahwa masih terdapat posisi kosong di industri ini. Adalah peranan pemain lokal yang berfokus pada produksi, publikasi, dan franchise cerita orisinil dalam skala global. Jika dibandingkan dengan industri kreatif di negara-negara maju, seperti Jepang atau Amerika, banyak sekali nama-nama pemain yang menyapa kita dengan akrab melalui ceritanya seperti Disney dengan Lion King-nya, Marvel dengan Avengers-nya, Shogakukan dengan One Piece-nya, atau mungkin Ghibli dengan Totoro-nya.

Melihat fenomena-fenomena di atas, saya kira bahwa di Indonesia sekarang ini, terdapat cara berpikir dan penyikapan produksi yang tidak bertanggung jawab. Seringnya, pembicaraan yang terjadi adalah; produksilah konten yang biasa saja, niscaya banyak penontonnya, dan jangan produksi konten yang bagus karena ga akan ada yang nonton. Saya adalah seorang yang menolak cara berpikir tidak bertanggung jawab seperti itu. Saya percaya bahwa konten yang baik adalah konten yang menang secara pesan, kemasan, dan pemasaran — memiliki pesan moral yang baik, gaya penyampaian yang ringan, dan memiliki wajah pasar yang menarik.

Orang-orang yang berpikir tidak bertanggung jawab itu, saya kira tidak bisa mengapresiasi dengan baik nilai dari produksi judul-judul seperti The Godfather, Nightmare Before Christmas, Samurai X, Forrest Gump, atau bahkan judul-judul di masa keemasan media Indonesia di tahun 90-an dan awal 2000-an, Lorong Waktu, Extravaganza, Bajay Bajuri, atau Si Doel Anak Sekolahan.

Dari kegalauan-kegalauan itulah, kami akhirnya memilih; 1) membentuk organisasi Merchant of Emotion yang lebih ajeg dari Teater EPIK 2) mulai memproduksi sebagai profesi, 3) menjadi bagian dari pembangunan industri kreatif di Indonesia.

Dan setelah kami memilih, maka kami pun mulai bekerja.

Dan pada akhirnya, kita bertemu disini, jawaban dari kegalauan teman-teman, dan kami. Inilah irisan terbaik dengan pilihan kami. Karena itu berarti ada yang pesan yang tersampaikan dan ada simpulan yang dibangun. Selama kami bisa terus memproduksi sajian yang menjadi teman-teman, selama pilihan kita bisa terus beririsan, maka kita semua, secara bersama-sama sedang membangun sesuatu yang lebih besar; kemapanan industri media Indonesia.

Dan ketika itu tercapai, saya percaya, generasi yang akan datang, generasi setelah saya, tidak akan ada lagi pertanyaan, “ngapain jadi Produser?” — malahan mungkin ketika ada yang meungkapkan kepada orang tuanya, “Mah/Pah, saya mau jadi Produser”, dan orang tuanya akan menjawab “oke, nak, Mama/Papa kenal seorang teman yang jadi Produser, dan katanya dia punya akademi, kamu belajar saja di sana.”.

Dan semua cita-cita itu, pelan-pelan sedang kami bangun, dimulai dari panggung ini, Pementasan Teater Multimedia Sunset Deity.

Selamat menyaksikan!

Ketakutan (contd.)

Teruntuk Pak Budi dan Pak Bill,

Beberapa waktu ke belakang ini, setelah hampir 5 bulan saya melewati sidang tugas akhir, pertanyaan “how do you overcome your fear?” masih sering kali berkutat di kepala saya. Namun, pengalaman yang saya alami selama 5 bulan terakhir ini rasanya membawa saya pada jawaban lain atas pertanyaan tersebut (tentunya selain dari pengalaman, hasil membaca beberapa rujukan bacaan kemarin pun memberikan khasanah berpikir baru pada apa yang hendak saya sampaikan disini).

Perjalanan saya ini dimulai dari tanggal 1 Oktober 2013 kemarin. Saya direkrut Komunitas Salihara untuk menjadi bagian dari tim Marketing & Communication. Selama tiga bulan, saya menjalani masa menjadi karyawan pelatihan (probation period). Walaupun pada akhirnya, saya tidak memperpanjang kontrak kerja di Komunitas Salihara, keberadaan saya selama tiga bulan di Komunitas Salihara mengenalkan saya lebih dalam pada pola-pola dan vocabulary industri budaya pop di Indonesia — industri budaya pop Indonesia yang tumbuh dengan iklim kolektif bukan profesional, perputaran dana yang lebih banyak bergantung pada sponsor ketimbang investor, tidak adanya regenerasi pemain di tingkat industri, produk-produk unggul yang gagal secara finansial, dan lain sebagainya. Namun, utamanya perkenalan ini membawa saya pada proses pembelajaran. Dengan “mengenal”, maka perlahan pun saya “tahu”, dan dengan “mengetahui”, maka “kesadaran” atau “pemahaman” saya bertambah. Terlebih lagi, adanya perjumpaan dengan kategori bacaan baru (The Art & Making of Film/Performance Art/Animation Books) membuat diri saya lagi-lagi mengalami proses pembelajaran (“mengenal-mengetahui-memahami”) tambahan tentang proses kerja di rumah-rumah produksi profesional kelas dunia. Ketika minggu lalu saya berkunjung ke Singapura untuk secara khusus menonton pementasan teater dan datang ke Singapore Bienalle, lagi-lagi saya “mengenal-mengetahui-memahami” hal baru bagi wawasan saya.

Lalu, selama bulan Januari lalu, saya mulai memetakan hasil pembelajaran dan pencarian (research) yang telah saya lalui selama 5 bulan terakhir dengan tujuan mempersiapkan produksi pementasan yang baru. Ya, saya berniat dengan sungguh untuk menjadi impresario atau produser profesional di industri budaya pop. Berbekal dari pembelajaran kemarin, saya pun mempersiapkan diri untuk kembali menginisiasi produksi seni pertunjukan, dan tentunya dengan kejaran tingkat manajemen produksi yang lebih profesional, cerdas, taktis, dan strategis dibandingkan Taraksa. Maka, saya kembali menginisiasi tim baru, bukan Teater EPIK (ada alasan tersendiri dari keputusan ini berdasarkan hasil pembelajaran dan riset, yang tentunya akan lebih menyenangkan jika saya bisa berdiskusi secara langsung dengan Pak Budi dan Pak Bill mengenai keputusan-keputusan yang saya lakukan, sebagaimana sewaktu pengerjaan tugas akhir dulu). Puncaknya adalah minggu lalu. Di hari terakhir perjalanan saya di Singapura. Selama menunggu pesawat pulang dan perjalanan ke Bandung, saya secara sadar merasa begitu tegang, takut, was-was, dan sendirian. Di titik inilah saya mulai coba menggali kembali pengalaman memimpin produksi Taraksa dan membandingkannya dengan kondisi saya sekarang ini, ketika saya lebih “kenal”, “tahu”, dan “sadar” atas apa yang dimaksud dengan “menjadi produser”.

Saya pun langsung teringat pada salah satu pengalaman perjalanan saya di Singapura. Tepatnya, ketika saya menyebrangi jembatan Dragonfly (jembatan yang menghubungkan Kawasan Marina Bay Sands dan Garden by The Bay). Saya seorang yang takut ketinggian. Ketika memasuki jembatan, saya langsung menyadari bahwa jembatan ini berada di ketinggian antara 12 – 15 meter di atas permukaan jalan dengan panjang sekitar 200 meter. Salah satu bagian yang menekan perasaan saya adalah kehadiran tiga sosok gedung tinggi yang membayangi selama penyebrangan. Bentuk gedung yang melengkung memberi kesan “tak ajeg” dan hal tersebut memperparah ketakutan saya akan ketinggian. Saya begitu was-was, tegang, dan sendirian (saya melakukan perjalanan seorang diri, tanpa teman). Perlu waktu hampir 15 menit untuk menyebrangi jembatan Dragonfly karena saya selalu berhenti setiap tiga-empat langkah, entah untuk sekadar diam beristiharat, sedikit melirik gedung hotel dibelakang, atau mengintip jalan dari atas jembatan. Dua ratus meter dan lima belas menit tersebut adalah salah satu dari pengalaman akan “ketakutan” yang membekas di hidup saya.

Tidak begitu jauh rasanya dengan “ketakutan” yang sedang saya hadapi sekarang, hanya saja saat ini saya tidak sedang menyebrangi jembatan Dragonfly, melainkan jembatan “untuk menjadi produser profesional kelas dunia”. Dan saya sadar, bahwa jembatan “untuk menjadi produser profesional kelas dunia” ini bergantung di atas ketinggian “manajemen produksi profesional” yang tidak bisa diukur dengan belasan meter, dikelilingi oleh “rumah-rumah produksi profesional” yang menjulang dengan ajeg, dengan jarak tempuh bukan lagi 200 meter melainkan “Jakarta-London atau Jakarta-New York”, dan cuaca berkabut yang memperburuk jarang pandang. Yang paling dahsyat adalah kehadiran berbagai monster “penonton” (domestik maupun global) yang harus saya taklukan selama penyebrangan ini. Dan saya tidak ada pilihan lain, selain terus berjalan dengan tetap sepenuhnya sadar, berkeras diri, memiliki determinasi tinggi, menjadi pemberani, dan menaklukan segala ketakutan tersebut. Disinilah saya merasa jawaban to embrace the fear itself terlalu bijak dan hanya mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan.

Maka, dibandingkan ketika memproduksi Taraksa dulu, rasanya “ketakutan” tidak hadir sebegitu rupanya (maka bisa jadi jawaban “to embrace the fear itself” tidak sepenuhnya tepat, karena saya tidak sepenuhnya sadar akan hadirnya “ketakutan” tersebut). Sewaktu itu, saya hanya seperti seorang penumpang yang membeli tiket pesawat dengan tujuan keberangkatan tertentu, lalu hanya tinggal duduk di kursi penumpang, maka sisanya sistem penerbangan (awak kabin, kapten, pilot, pihak bandar udara, dan lainnya) yang akan bekerja. Saya tidak pernah tahu seberapa ketinggian saya berada dari permukaan jalan, saya tidak tahu sebenarnya jauh jarak yang saya tempuh, saya tidak tahu seperti apa kondisi langit di sekitar pesawat ini selain dari kaca jendela pesawat, dan bahkan saya tidak punya kuasa untuk mengemudikan pesawat ini. Apakah pilot akan membawa ke tempat tujuan? Apakah benar ini pesawat yang saya tumpangi? Apakah saya akan tiba tepat waktu? Apakah ini benar kursi yang harus saya duduki selama perjalanan ini? Yang jelas, semua pertanyaan barusan sudah tertera di tiket pesawat. Saya hanya perlu menjadi penumpang yang cerdas, yang tahu kapan harus memesan tiket, dimana membeli tiket, maskapai apa yang harus saya gunakan, dan kemana tujuan saya harus berakhir. Sisanya, sistem yang akan menyelesaikan. Sekalipun terjadi kecelakaan, sudah disediakan pelampung dan tabung oksigen toh.

Mungkin alegori di atas tidak sepenuhnya sempurna untuk menggambarkan. Tapi yang jelas, semenjak saya justru semakin mempelajari apa-apa yang berkaitan dengan upaya saya untuk “menjadi produser profesional”, saya semakin tahu seberapa hebat “ketakutan” yang harus saya hadapi. Dan utamanya, saya semakin sadar, bahwa saya akan menyebrangi jembatan, bukan sekadar naik pesawat terbang dan menjadi penumpang. Saya sepenuhnya sadar dan berkuasa akan keputusan-keputusan yang saya ambil. Dan dari kesadaran itu, setidaknya untuk saat ini, saya masih berhasil (karena bukankah kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi di depan?) mengelola diri saya untuk tetap optimis menyebrangi jembatan “untuk menjadi produser profesional kelas dunia”. Maka, sekali lagi (jika memang benar ada “ketakutan” yang saya hadapi selama Taraksa, saat ini saya agak ragu), saya akan coba menaklukan “ketakutan” yang ada di hadapan di saya. Tidak ada pilihan lain. SEBRANGI, MENANG!

Saya masih ingat di hari-H sebelum sidang, saya mengirimkan pesan singkat ke Pak Budi, “apakah ada materi tertentu yang harus saya sampaikan dengan lebih mendalam di sidang?”. Pak Budi membalas, “utamakan pada hal-hal yang bisa kamu ceritakan pada orang-orang yang hendak menjadi entrepreneur.”

Jika saya hendak diberikan kesempatan lagi untuk bercerita, maka saya akan menceritakan kembali tulisan di atas. Sebanyak saya berbincang dengan teman-teman yang memutuskan untuk start-up business setelah kuliah, rasanya mereka masih terjebak pada penggambaran “pesawat terbang”. Seolah-olah dengan “menjadi entrepreneur” dan  “memulai bisnis”, segala cita-cita hidup dapat tercapai sebagaimana yang sering ditemukan pada buku-buku autobiografi, artikel-artikel Harvard Business Review, ataupun tulisan-tulisan self-help dan tips and trick lainnya. Bukan berarti dengan cerita saya, saya berniat memenuhi tumpukan-tumpukan tersebut dengan satu tambahan cerita di atas. Bukan. Saya hanya ingin berbagi. Seperti kata-kata Hume, “karena aku pernah melihat sekumpulan kuda hitam, tidak berarti semua kuda berwarna hitam..”

Ya, saya hanya ingin berbagi tentang kuda pink, yang mungkin norak. Tapi ini tetap bagian dari cerita entrepreneurship saya kira. Semoga saja, teman-teman yang lain (utamanya yang “memulai menjadi entrepreneur”) memiliki kesadaran filosofis David Hume agar tidak terjebak pola-pola yang dibentuk media sehingga bisa menghasilkan produk yang signifikan di masyarakat.

Kira-kira begitu cerita yang ingin saya bagi kepada Pak Budi dan Pak Bill. Tentu akan sangat menyenangkan jika kita bertiga dapat saling meluangkan waktu dan bertemu. Setidaknya bukan di tengah sidang tugas akhir dan ruang auditorium. Mungkin di antara secangkir kopi? hehehe.. Saya cukup menanti waktu-waktu seperti itu dengan Pak Budi dan Pak Bill. Semoga Pak Budi dan Pak Bill dalam keadaan sehat. Terima kasih atas segala bimbingan selama saya di SBM dan terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca surel ini.

Have a really good day, Sir!
Cheers!

Gedung Teater EPIK

Yang menarik dari sebuah pertunjukan teater adalah ketika penonton mengalami secara langsung peristiwa-peristiwa yang disampaikan di atas panggung. Dalam artian, pertunjukan teater (seni pertunjukan) adalah satu-satunya produk fine art yang pada proses ‘penyampaiannya’ amat berkaitan dengan ruang dan waktu.

Maka dari itu, sering kali ada yang luput di antara nama-nama (sutradara, penulis, pemusik, perupa, penari, pemain, dan tim produksi) yang mengisi credit title suatu produksi teater atau seni pertunjukan. Ialah seorang arsitek.

Pada peranannya sebagai perancang ruang, seorang arsitek memiliki pengaruh yang signifikan pada proses produksi pertunjukan teater. Ia tidak hanya berupaya menghadirkan ruang untuk menonton bagi publik, tetapi juga membantu sekaligus menantang proses penggiat teater untuk berkarya.

***

Pada mulanya Teater EPIK hadir sebagai sebuah launching event dari Majalah EPIK — majalah esei dan sastra yang menyasar kalangan mahasiswa seluruh Indonesia. Namun, seiring dengan bertambahnya nomor pementasan dan respon positif dari para penonton, Teater EPIK mulai melepaskan diri dari Majalah EPIK dan bergerak secara otonom. Pada kemandiriannya, Teater EPIK bercita-cita untuk mempelopori pergerakan industri pertujukan teater di Indonesia. Pandangan mendasar yang coba diusung oleh Teater EPIK adalah memperlakukan pertunjukan teater sebagai sebuah hiburan dan melepaskan teater dari sekadar seni kontemporer atau kultural.

Berkaca pada kondisi di Indonesia, pertunjukan teater sebagai bagian dari industri hiburan merupakan suatu ranah khusus yang belum tergarap. Karena pada praktiknya, memang ada beberapa grup teater yang aktif dan konsisten memproduksi pertunjukan teater, seperti Teater Koma, Bengkel Teater Rendra, Teater Garasi, Teater Satu, dan Papermoon Puppet Theater. Namun, grup-grup teater tersebut masih memperlakukan pertunjukan teater sebagai sebuah acara seni ketimbang sebagai produk industri hiburan. Maka, sikap yang coba diusung oleh Teater EPIK ini dapat dikatakan sebagai tesis baru di kancah pertunjukan teater di Indonesia.

Salah satu sosok yang menjadi inspirasi Teater EPIK adalah Andrew Lloyd Webber dengan rumah produksinya, Really Useful Group. Webber adalah seorang komposer Inggris yang sukses menghasilkan komposisi teater musikal terkemuka seperti The Phantom of The Opera, Jesus Christ Superstar, dan Cats. Karya-karya komposisi teater musikalnya dipentaskan secara berkelanjutan selama lebih dari satu dekade baik di West-End (distrik gedung pertunjukan teater di London) dan Broadway (jantung industri pertunjukan teater di New York).

Peter Brook, salah seorang sutradara teater terkemuka asal Inggris lainnya, lewat bukunya The Empty Space mengatakan bahwa syarat untuk sebuah pertunjukan teater adalah adanya tempat, lalu aktor yang melakukan tindakan tertentu di dalam sebuah ruang kosong, sementara sejumlah orang lainnya menonton. Melalui kalimat itu, Peter Brook ingin menyampaikan bahwa ada tiga elemen penting dari teater; 1) penggiat teater, dalam hal ini Brook memfokuskan pada aktor, 2) tempat, dan 3) ruang. Teater EPIK tidak sepenuhnya menyetujui pernyataan tersebut. Brook adalah seorang yang hidup di sebuah negeri dengan industri teater yang mapan, dan pada titik itu barangkali Brook lupa bahwa diperlukan elemen keempat untuk mendorong sebuah pertunjukan teater ke arah industri hiburan; kerja kreatif tim produksi teater.

Hal yang coba diincar oleh kinerja tim produksi Teater EPIK adalah terbentuknya Unique Selling Point, syarat dasar suatu produk dapat diterima oleh pasar atau tidak – pada konteks ini adalah menjual atau tidaknya suatu pementasan teater. Maka, jika hendak dirangkum secara lebih sederhana, pementasan Teater EPIK adalah nomor-nomor pementasan teater yang dapat dinikmati untuk kemudian dijual. Harapannya, seiring dengan eksistensi dan konsistensinya dalam berkarya, pertunjukan-pertunjukan Teater EPIK dapat membentuk animo penonton selayaknya pertunjukan konser-konser musik yang sedang ramai di pasar saat ini. Sehingga, apabila pertunjukan teater telah mencapai kemajuan industri setingkat dengan konser musik, akan tiba masanya ketika para penonton yang akan datang ke pertunjukan lebih ‘mempersiapkan diri’ – dalam artian mencari segala informasi berkenaan dengan pertunjukan (atau artis) yang akan tampil. Untuk menuju ke tahap itu, pendekatan Integrated Marketing Communication sebagai strategi pemasaran nomor-nomor pertunjukan Teater EPIK menjadi penting, mengingat pembentukan animo harus hadir dari dua arah; pengguna (penonton) yang aktif mencari informasi dan channel penyedia informasi yang mudah diakses (situs, poster, iklan, dll).

Pada proses penggarapan naskah pertunjukan, Teater EPIK mencoba melampaui tema-tema realisme sosial, ekonomi, dan politik yang kerap kali menghiasi kancah pertunjukan teater di Indonesia dalam enam sampai tujuh dekade ke belakang. Teater EPIK coba mengeksplorasi cerita fiksi dengan warna yang lebih kontekstual dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini – masyarakat yang secara politik lebih stabil, ekonomi mulai berkembang, dan perkembangan budaya yang kian meluas seiring dengan kemudahan akses informasi. Naskah-naskah Teater EPIK berkisar pada kisah-kisah fiksi dengan genre populer seperti fantasy, musical, thriller, atau romance.

Teater EPIK percaya bahwa perubahan struktur industri tidak lahir dari sekelompok kecil pembesar, melainkan dari sekelompok besar kalangan menengah. Maka, Teater EPIK juga mencoba menjadi wadah bagi mereka yang ingin bermain teater, tanpa harus menekuni pendidikan formal seni pertunjukkan. Adanya posisi ini merupakan sebuah upaya untuk mengangkat emansipasi masyarakat baik dari kepercayaan akan kemampuan berkreasi, sekaligus peningkatan cita rasa hingga ke tingkat yang dapat diterima di dunia internasional.

Dengan pemilihan tema yang populer serta cakupan pemain yang tidak tertutup dari segelintir komunitas, diharapkan pertunjukan teater dapat menjadi sarana entertainment yang lebih dekat, mudah dicerna, laris, dan ditunggu-tunggu keberadaannya.

***

Gedung Teater EPIK adalah sebuah percoabaan arsitektur yang dirancang untuk memfasilitasi visi dan kinerja Teater EPIK. Diharapkan rancangan gedung ini dapat menjadi ‘rumah’ baru bagi industri pertunjukan teater di Indonesia.

Dengan memposisikan diri sebagai alternatif hiburan untuk kalangan menengah – bukan untuk kalangan elitis seni, tapi juga bukan untuk kelas penonton sinetron – Gedung Teater EPIK tidak hadir sebagai art centre, melainkan sebagai tempat bagi siapapun untuk dapat mencoba menggarap sebuah pertunjukan.

Adapun kegiatan yang dapat ditampung dalam Gedung Pertunjukan Teater EPIK adalah bentuk pementasan eksploratif – suatu bentuk pementasan yang tidak harus selalu mengambil pakem format panggung konvensional. Selama sebuah ruang kosong dapat dibagi antara area pementasan dan area penonton, serta dapat diatur penggunaan cahayanya, ruang tersebut tetap memungkinkan untuk dijadikan arena pementasan. Keberadaan bentuk-bentuk ‘ruang pementasan bebas’ ini yang justru diharapkan hadir dalam Gedung Pementasan Teater EPIK, sebuah wahana belajar untuk lahirnya kreativitas baru dalam merespon panggung. Ruang-ruang yang tidak lazim seperti taman, playground, bahkan kolam adalah tempat para penggiat seni dapat merespon media yang beragam mulai dari tanah, alam, hingga air.

Selain sebagai tempat pertunjukan, Gedung Teater EPIK pun diposisikan sebagai sebuah meeting spot. Keberadaan meeting spot ini penting sebagai wadah dari sistem kuratorial yang konsultatif dari Board of Directors Teater EPIK untuk mendukung visi “theater for anyone” tanpa merusak kualitas dasar pembentuk industri. Harapannya, jika proses pengembangan cerita dan strategi pemasaran dapat menyentuh hingga kalangan teater SMA atau sekolah, yang berarti meluasnya distribusi pasar Teater EPIK, maka tidaklah tertutup kemungkinan berkembangnya ide-ide baru yang selalu aktual dan kontekstual.

Bagian bangunan lain yang harus hadir adalah Gerai, tempat asesoris dan merchandise dari berbagai pementasan terpilih dapat dipajang dan diperjual-belikan. Teater EPIK percaya bahwa sebuah pementasan tidak berakhir setelah tertutupnya tirai, namun pada ‘buah bibir’ penikmat yang bercerita tentang pengalaman menonton yang positif. Maka dari itu, keberadaan artefak berupa merchandise akan menjadi bukti pendukung yang kuat, akan sebuah pengalaman yang tidak terlupakan.

Pada titik idealnya, gedung ini tidaklah lagi menjadi milik Teater EPIK seorang, tetapi milik masyarakat yang bertanggung jawab. Di sisi lain, dibutuhkan proses yang tidak cepat dan pengaturan yang ketat untuk Teater EPIK dapat memberikan predikat ‘bertanggung jawab’ pada masyarakat. Maka dari itu, dibutuhkan sistem pengontrolan yang efektif, baik dari segi keamanan, organisasional, dan operasional agar gedung ini tidak hanya menjadi fasilitas yang berguna, namun juga mandiri dan berkelanjutan.

Penulis
Fiola Christina Rondonuwu

Penyunting
Sutansyah Marahakim
Tri Adi Pasha

Esei ini adalah tulisan pengiring untuk Tugas Akhir Arsitektur Fiola Christina Rondonuwu. 

Ketakutan

Teruntuk Pak Bill dan Pak Budi,

Beberapa pertanyaan di sesi tanya jawab kemarin masih membekas, dan amat berkutat di dalam benak saya beberapa hari ini. Salah satu yang paling membekas adalah pertanyaan dari Pak Budi, “How do you overcome your fear?”

Pada sesi tanya jawab, saya masih merasa belum dapat menyampaikan dengan baik, saya hendak sekali lagi, berbagi pandangan melalui email ini.

Ketakutan, saya kira benar adanya bermula dari Ketidaktahuan. Maka, upaya untuk mengatasi Ketakutan erat kaitannya dengan penyikapan akan Ketidaktahuan.

Ada Ketakutan tersendiri ketika pertama kali saya memulai proyek ini, karena jujur saja, memimpin sebuah proyek fine-art performance adalah pengalaman yang baru bagi saya pribadi. Tatkala itu, saya seolah memasuki belantara hutan Ketidaktahuan.

Namun, saya masih mengingatnya dengan terang bahwa sedari awal saya menginisiasi proyek ini, tidak ada itikad lain dari dalam diri ini selain untuk belajar. Maka, selama saya menjalani proses produksi, masa-masa saya berada di antara hutan Ketidaktahuan, saya selalu menempatkan diri sebagai seorang murid yang tekun.

Lalu, saya pun belajar, dan di tengah hutan belantara itu, saya mulai memetakan. Saya mengawalinya dengan memberi nama pada apa-apa ‘yang saya mau’, ‘yang saya mampu’, dan ‘yang saya harus lakukan’. Dan seiring dengan proses pembelajaran tersebut, saya tak sekadar ‘tahu’, tetapi juga ‘mengerti’. Walaupun selama perjalanan, saya berhasil meraih kemenangan-kemenangan kecil dan mendapatkan ketenangan-ketenangan sesaat, Ketakutan tetap selalu hadir disana. Ia hadir pada bentuknya yang tak bisa tergapai. Dan pada titik ini, saya sepaham dengan Kierkegaard, selalu ada batasan yang selamanya tak bisa dilampui. Maka, selama proses memimpin produksi Taraksa, saya mengerti Ketakutan dan Ketidaktahuan hadir sebagai The Natural Act of God. Dan saya menyikapinya sebagai Keberserahan, atau Tawakal. Dalam artian, saya memandang Ketakutan bukan sebagai sesuatu yang intimidatif, melainkan sesuatu yang justru menyadarkan saya pribadi betapa Ada yang Maha di luar sana, ada yang tak bisa sepenuhnya saya tahu, semacam momen spiritualisme bagi diri saya sendiri. Dan pada Kesadaran itu, saya memahami bahwa hanya ada dua cara untuk mengatasi Ketakutan : 1) dengan percaya bahwa kita akan melewatinya, 2) dan selama proses melewatinya, lakukan sebaik-baiknya. Atau apabila hendak disampaikan dengan kalimat lain, the only way to overcome Fear is to embrace The Fear itself.

Teater EPIK

Teruntuk teman-teman bermain yang baru, Tim Taraksa, terutama @marikarsy yang mengingatkan saya untuk sedikit bercerita di balik Teater EPIK. Berikut coba saya ceritakan kembali perjalanan dan cita-cita dari Teater EPIK, dibuat per poin, agar lebih mudah dibaca :

  1. Kami, sebagai muda-mudi, sepenuhnya sadar dengan berbagai posisi, peran, dan potensi yang kami miliki bahwa “gerakan kepemudaan” merupakan cikal-bakal suatu perubahan besar, terutama, bagi negara (bentuk politik yang masih paling mutakhir untuk mengatur kesejahteraan manusia di dunia). Terbukti dengan pergolakan zaman Orde Lama ke Orde Baru, atau bahkan puncak para muda-mudi beraksi ketika Orde Baru menuju Reformasi. Namun, keberhasilan “gerakan kepemudaan” kala itu, tak sepatutnya menjadi romansa di masa kini, karena era telah berganti. Perlu adanya perubahan dari “gerakan kepemudaan”.  Ide-ide tak bisa sekadar di-teriak-an, di-turun-kan ke jalan, atau malah di-tular-kan melalui struktur keorganisasian. Dibutuhkan suatu wadah dimana ide dapat dihimpun, dibagikan kembali, hingga timbul diskusi yang terus menjaga agar ide terus berkembang dan tak lekang oleh zaman.
  2. Pada mulanya, kami mulai menulis, mengumpulkan suara-suara yang tercecer, menggandeng teman-teman dari berbagai latar belakang, mengemas pemikiran-pemikiran dari hasil diskusi, menyajikan pandangan-pandangan alternatif, juga menceritakan romansa-romansa sederhana,  untuk kemudian dibagikan kembali kepada masyarakat melalui corong yang kami namakan Majalah EPIK. Namun, perjalanan dalam membangun usaha ‘media cetak’ tidak semudah yang dikira. Pelbagai kendala teknis, seperti modal, alur distribusi, juga produksi penerbitan, mendesak kami untuk membuat ‘sesuatu-yang-lain’ yang dapat menunjang progres Majalah EPIK, tersebutlah Teater EPIK.
  3. Teater EPIK bermula untuk menyajikan isi/tema majalah yang diangkat dalam rupa yang berbeda, sehingga para pembaca mendapatkan sensasi bermacam yang lebih dari sekadar lembaran dan tulisan. Sebenarnya, bentuk teater sendiri dipilih karena tim kami – yang pada waktu itu masih didominasi kalangan lokal – merasa memiliki kapabilitas untuk membangun suatu pementasan karena sempat terdidik dalam sistem akademis (juga memang merasa kehilangan serunya mata kuliah Seni Pertunjukan dan Praktis Manajemen). Selain daripada itu, suatu produksi teater memberikan wahana bekerja yang mampu menelurkan nilai-nilai yang baik seperti disiplin, sinergi, kolaborasi, juga membangun daya juang yang tinggi.
  4. Seiring berjalannya waktu (juga seiring dengan bertambahnya nomor pementasan dan nomor penerbitan), Teater EPIK semakin mendapatkan sorotan yang menjanjikan, sampai-sampai Teater EPIK kerap kali diberikan kesempatan untuk merambah ragam eksplorasi pementasan, dari musikalisasi puisi hingga bentukan pengisi acara kemahasiswaan (pementasan-pementasan ini tidak kami berikan nomor, pementasan yang diikuti nomor pementasan hanya pada pementasan yang mengiringi penerbitan Majalah EPIK). Pada perlawatan inilah, Teater EPIK mulai menemukan tujuannya yang lebih mandiri dari Majalah EPIK : menjadi wadah yang menaungi para penggiat yang berupaya meramaikan kancah seni pertunjukan di Bandung.
  5. Dengan adanya kehadiran Teater EPIK ini terbukti membuka peluang adanya pertemuan-pertemuan dengan teman-teman yang baru. Kehadiran para penggiat yang terus meningkat membuka peluang-peluang dan ide-ide baru yang juga berarti gulir-nasib yang baru, nasib yang bukan hanya satu dua orang saja, bisa saja nasib seluruh dunia. (coba sejenak kita bayangkan, apabila Bung Karno dan Bung Hatta tidak bertemu di kala, tentu nasib kita semua saat ini bisa jadi tidak sedang membaca tulisan ini, bukan?)
  6. Pada perjalanan ini, menginjak produksi yang kelima, kami menyadari bahwa hal terpenting selanjutnya setelah ‘eksistensi’ bagi suatu komunitas berkarya adalah ‘keberlanjutan’. Dalam artian disini, suatu wadah perlu mulai ‘memberikan asupan’ bagi para penggiatnya, dan dengan bentuk teater, peluang tersebut bukanlah tidak mungkin. Sebut saja misalnya, pementasan teater-teater di Salihara, pertunjukan epos Matah Ati, atau malah nomor-nomor pementasan di Broadway.
  7. Tapi itu semua kembali pada usaha, karena selalu ada kerja di setiap cita-cita. Maka saat ini, mari kita sama-sama saling berusaha mewujudkan Taraksa, sebuah pementasan yang mengusung konsep 360-packaged-brandingAdanya cerita yang tidak hanya coba diterjemahkan melalui bahasa gerak, tata panggung, musik, dan dialog, melainkan juga coba diterjemahkan melalui ilustrasi, strategi promosi, juga adanya aksesoris yang dijual beli. Selain dari itu, dicanangkan bahwa momen Taraksa ini dapat menjadi titik Inaugurasi, Perayaan Kehadiran Kembali EPIK sebagai suatu entitas berkarya yang ‘berlanjut’. EPIK, sebagaimana kredo yang diusungnya, tempat berbagi, dan mencari arti.

EPIK (Majalah & Teater)

Tulisan ini dibuat berkat desakan salah seorang teman, @marikarsy. Katanya, “coba dibuat untuk mempertegas lagi, perjalanan yang pernah kamu lalui.”, setelah jadi, terkesan sedikit curhat. Tapi tidak apa. Sesekali bercerita. Selamat membaca!

Bila hendak bercerita mengenai sebuah awal dari Teater EPIK, maka tak akan lepas dari perjuangan di balik Majalah EPIK.

Semua bermula ketika kami mulai menginjak status mahasiswa. Tepatnya di tahun pertama, di tengah-tengah gegap gempita “gerakan kepemudaaan”. Kami menyadari “gerakan kepemudaan” merupakan cikal-bakal suatu perubahan besar, terutama dalam lingkup negara (bentuk politik yang masih paling mutakhir untuk mengatur kesejahteraan manusia di dunia). Terbukti dengan pergolakan zaman Orde Lama ke Orde Baru, atau bahkan puncak ketika Orde Baru menuju Reformasi. Namun, keberhasilan “gerakan kepemudaan” kala itu, tak sepatutnya menjadi romansa masa kini karena era telah berganti. Perlu adanya perubahan dari “gerakan kepemudaan”. Ide-ide tak bisa sekadar di-teriak-an, di-turun-kan ke jalan, atau malah di-tular-kan melalui struktur keorganisasian. Dibutuhkan suatu wadah dimana ide dapat dihimpun, dibagikan kembali, hingga timbul diskusi yang terus menjaga agar ide terus berkembang dan tak lekang oleh zaman.

Maka, kami memilih untuk mulai menulis.

Kami teringat dengan Naar de Republiek Indonesisch, sebuah tulisan cerkas dari Tan Malaka yang berhasil menggugah semangat juga menjadi inspirasi golongan terpelajar (Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, hingga Sukarni) Indonesia di era perjuangan kala itu. Kekuatan tulisan mampu mendirikan sebuah negara, bahkan menggerakan dunia, atau malah menjatuhkan rezim juga bisa jadi membangkitkan penguasa (ditambah lagi dengan perkembangan teknologi, bukankah segala informasi kini hadir dalam bentuk tulisan?!). Dan di sisi lain, melalui sebuah tulisan, seorang-yang-ragu dapat kembali yakin, mereka-yang-tahu dapat mempertanyakan sekali lagi.

Atas dasar itulah Majalah EPIK lahir, sebagai sebuah ‘media’ yang mengumpulkan suara-suara yang tercecer, menggandeng teman-teman dari berbagai latar belakang, mengemas pemikiran-pemikiran dari hasil diskusi, menyajikan pandangan-pandangan alternatif, juga menceritakan romansa-romansa sederhana,  untuk kemudian dibagikan kembali kepada masyarakat. Pencapaian jangka panjang dari Majalah EPIK sendiri adalah mewujudkan suatu komunitas berkarya − sebuah generator ide yang tidak berpihak, senantiasa bergerak.

November 2009 itulah titik acu perjalanan ini. Hampir memakan waktu sekitar 1 tahun untuk penggodokan ide, pembentukan tim, pengerjaan naskah, hingga persiapan teknis untuk penerbitan edisi perdana. Sampailah pada bulan Agustus 2010, edisi cetak perdana Majalah EPIK terbit. Dengan oplah 500 eksemplar, kami hanya berhasil menjual sekitar 200 eksemplar dalam jangka waktu 2 bulan. Jumlah yang cukup jauh bahkan untuk menutupi modal produksi. Setelah menerbitkan edisi perdana, kami pun terancam merugi.

Memang benar adanya, membangun ‘media’ tak semudah yang dikira, dan memiliki cita-cita berarti menuntut adanya usaha. Yang menjadi persoalan selanjutnya adalah sampai sejauh mana cita-cita tersebut terus kita bela? Barangkali sepanjang ‘keberanian’. Maka, kami berani sekali lagi menghadirkan Majalah EPIK kembali, edisi kedua, Desember 2010. Kala itulah, Teater EPIK lahir, sebagai  ujung tombak pemasaran dari Majalah EPIK − suatu program yang diharapkan bisa menyukseskan penerbitan setiap edisi Majalah EPIK. Dengan sebuah sistem, yaitu menjual majalah sebagai tiket pementasan, terbukti teater ini berhasil menjadi sumber utama pendapatan kami. Selain itu, keberadaan Teater EPIK ini berhasil menarik animo yang cenderung tinggi, jika dibandingkan dengan sekadar menjual produk majalah secara tunggal.

Dengan modal yang pas-pasan dari penjualan sebelumnya (berkat Teater EPIK), kami menerbitkan Majalah EPIK sekali lagi, edisi ketiga, April 2011. Pada penerbitannya, pementasan Teater EPIK vol. 2 : Kupanggili Namamu mengiringi. Namun, kali ini pementasan dilakukan dengan cuma-cuma, sehingga justru berujung kembali pada ketiadaan modal secara materi untuk memproduksi Majalah EPIK edisi selanjutnya. Namun, yang menjadi menarik, menginjak edisi ketiga ini, keterlibatan penggiat dalam tim EPIK sendiri mulai meningkat, pembentukan EPIK sebagai komunitas berkarya mulai teraba. Teater EPIK pun kerap diberikan kesempatan untuk merambah ragam eksplorasi pementasan, dari musikalisasi puisi hingga bentukan pengisi acara kemahasiswaan. Seiring dengan perjalanan itulah Teater EPIK mulai menemukan tujuan yang lebih mandiri, yang sedikit terlepas dari Majalah EPIK : meramaikan kancah seni pertunjukan di Bandung.

Dan kami pun bergerak (Majalah & Teater EPIK) untuk kembali mengadakan sekemas acara yang kompak : adanya penerbitan majalah yang diiringi pementasan, tentunya pementasan yang dikemas dengan cerdas (sebuah upaya sadar untuk memperbaiki kesalahan Teater EPIK vol. 2 : Kupanggili Namamu). Setelah mencoba mencari dukungan dari sana-sini, September 2011 terlaksana : Majalah EPIK edisi keempat dan Teater EPIK vol. 3 bertajuk Nest. Berkat keberhasilan pementasan inilah tergerak niatan untuk menyajikan suatu pementasan dan penerbitan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat yang lebih luas (karena selama ini pementasan Teater EPIK masih dilaksanakan di lingkungan kampus, walaupun memang penerbitan Majalah EPIK mulai merambah ke berbagai saluran distribusi se-nusantara).

Diperlukan waktu sekitar 6 bulan sampai menuju penerbitan besar Majalah EPIK edisi kelima dan pertunjukan Teater EPIK vol. 4 : Mendiang Republik, Mei 2012. Pementasan kala itu, bagi kami, adalah sebuah lompatan besar. Selain pencapaian dalam menyajikan warna baru dalam kancah seni pertunjukan di Bandung, semenjak itu terjadi peningkatan jumlah penggiat dalam jumlah yang cukup besar. Adanya pertemuan dengan teman-teman baru berarti kesempatan, juga gulir-nasib baru bagi kami. Walaupun memang secara kemasan acara, Mendiang Republik dapat dikatakan berhasil, namun secara finansial, Mendiang Republik masih belum dapat mendukung adanya keberlanjutan bagi Majalah dan Teater EPIK ke depannya.

Saat ini, sudah hampir 6 bulan semenjak Mendiang Republik naik ke atas panggung. Terus terang, kami merasa kehilangan, adanya rasa kangen untuk membangun pertunjukan juga penerbitan sekali lagi. Maka, selama beberapa waktu ini kami mencoba berkemas, juga membangun tim yang cerkas. Dengan upaya penerbitan Majalah EPIK edisi keenam, dan pementasan Teater EPIK vol. 5 : Taraksa, kami dipertemukan kembali, tidak hanya dengan yang sudah pernah berjuang bersama kami, tapi juga para penggiat baru yang tertarik untuk membantu. Dengan harapan menghadirkan suatu momen Inaugurasi, Perayaan Kehadiran Kembali, ada romansa tersendiri dalam perjalanan kali ini. Pertemuan dengan teman-teman baru dari kalangan SMA, keberanian untuk mengeksplorasi hal-hal yang baru, kesadaran diri untuk tidak menuntut berlebih, perasaan melakukan pengunduran pementasan, dan keramaian dalam mengorganisasi  80 penggiat.

Yang jelas, saat ini, kami sedang dalam perjalanan kembali untuk menjalani cita-cita kami kesekian kali, menjadi sebuah ‘media’, membangun ‘komunitas berkarya’, menjadi ‘generator ide yang tidak berpihak, dan terus bergerak’, menjadi seutuhnya cita-cita kami yang tertuang pada kredo kami, EPIK, tempat berbagi dan menjadi arti.

Hukum dan Etika

Biarkan kebenaran tetap dipikul, jangan sampai jatuh, agar kebaikan tetap tumbuh. Saat kebenaran jatuh, hanya kekuasaan yang tumbuh. –Ayu Utami

Etika dan hukum : senada namun tak sama. Saling berkaitan namun tidak saling mengisi. Etika tak akan pernah membulatkan hukum, begitu pun hukum, ia tak akan pernah menyempurnakan etika. Etika adalah sebuah kontekstual, sedangkan hukum adalah konteks.

Manusia tercipta berbeda namun mereka hidup dalam wilayah dunia yang sama. Keberadaan manusia yang satu berada dalam satu wilayah dengan keberadaan manusia yang lain. Diperlukan jarak, spasi, antara wilayah manusia yang satu dengan yang lain agar wilayah yang sama ini tidak sesak. Sebuah penataan, sebuah garis pedoman. Etika dan hukum adalah spasi. Bentuk spasi yang berbeda, bentukan jarak yang tak sama. Etika mencoba memaknai perbedaan dari masing-masing individu yang ada sebagai hakikat manusia. Etika adalah spasi yang tak rata, tidak justified. Hukum mencoba membuat bentuk penyeragaman, bentuk sebuah legitimasi, sebuah kekuasaan atas nama kebenaran yang tercipta karena kehadirannya. Hukum adalah spasi rata, justified, penyeragaman kebenaran. Tapi sebenarnya kebenaran itu punya siapa?

Toleransi adalah ambang-tepi rasio berpikir dan merasa. Dia adalah bentuk kesadaran bahwa kebenaran bukan punya siapa-siapa. Hukum selalu berbicara mengenai adanya garis dualitas, hitam dan putih, benar dan salah. Toleransi mencoba mengetengahkan kedua hal itu, menghapus garis pembatas. Dia bentuk abu-abu. Manusia bukan malaikat juga iblis keparat. Tak pernah sepenuhnya menjadi penjahat, juga seorang yang taat. Bukankah justru itu yang membuat kita berbeda pada hakikatnya?

Kebenaran-kebenaran pada konteks hukum berasal dari kumpulan-kumpulan etika masyarakat yang berusaha disarikan untuk aplikasi yang lebih masyarakat yang lebih luas. Namun, pada akhirnya tentu ada keadaan kontekstual yang termaktubkan disana. Karena etika adalah buah pengetahuan, sedangkan hukum adalah produk sains. Etika akan terus bergerak merambah wilayah abu-abu, sedangkan hukum adalah sistematika hitam dan putih.

Hari-hari ini keberadaan yang-lain dalam wilayah dunia yang sama di kehidupan membuat kita semakin sadar bahwa perbedaan bukan untuk disamakan tapi untuk dimaknai dan dihargai. Pluralitas, kejamakan, kebhinekaan ada bukan untuk ditunggalkan, mereka hadir untuk dirawat. Bhinekka Tunggal Ika, walau berbeda tetap satu jua, ya, sebagai seorang manusia. Bagi suatu masyarakat madani, perbedaan bukan halangan, tapi dia adalah momen untuk berdialog, dialog yang tak berkesudahan. Dialog yang tak memperdebatkan yang hitam dan yang putih, tapi mencoba mensarikan yang hitam dan yang putih. Mencoba kembali merambah wilayah manusiawi, wilayah abu-abu, wilayah etika.

Bukankah lebih baik kita hidup dengan etika? Dimana hukum tak lagi mengikat, saat kebaikan dan kebenaran tak lagi dipertanyakan. Hidup tentu akan terasa adil. Adil bukan rata juga bukan sama, tapi dia mencoba memberi makna atas apa yang dirasa. Saya kira hidup bukan masalah benar dan salah, hidup adalah menabur benih kebaikan. Sudahkah menuai?