Senandung Senandika Maliq n D’Essentials : Kita Beda-Beda, Terus Kenapa?

37276058_800_800

Pertama kali album ini dateng di Apple Music, kaget banget ngebaca judul besar dari album ini; Senandung Senandika. Buat temen-temen yang ga ramah sama kata “senandika“, kata itu berarti ke arah sini; ungkapan perasaan yang mendalam dari seorang karakter dalam sebuah cerita, bisa tentang perasaan, cara pandang hidup, firasat, atau hal-hal lainnya yang menggambarkan tatanan nilai dari karakter tersebut.

Dengan judul album se-gede itu, ekspektasi saya buat dengerin album ini tinggi banget. Dan pas diputer, saya cuma bisa teriak-teriak kegirangan, “Apa-apaan nih! Gila, gila, Guruh Soekarno Putra Masa Kini banget nih?”

Kayaknya lewat album ini, Maliq pengen nge-chat ke jejeran band pop-hits-90-an cem GIGI, KLA Project, Sheila on 7, dan lainnya, “makasih buat segala inspirasinya, ini sekarang gw terusin ya perjuangan di garda musik Indonesia, gw bawa ya ini semua semangat ke-Indonesia-an yang udah ditumpuk banyak banget, gw kemas biar masih tetep relevan sama citra zaman sekarang ini..”

Ini masih Maliq yang kita kenal kok. Sentuhan ritmik dan bass yang kental nuansa funk masih ada. Soundscape dengan tone jazz and soul masih keliatan. Yang bener-bener bikin album ini seger adalah identitas Maliq yang udah kita kenal itu ditabrakin sama tensi kultur masa kini Indonesia (dengan segala kekayaan Nusantara) yang ada. Lewat album ini, kita diajak Maliq buat ngeliat Indonesia dengan segala kekayaan dan tabrakannya Spiritualitas, Modernitas, dan Tradisionalitasnya.

Misalnya, di lagu nomor pertama  album ini, Sayap. Di intro lagu, kita dikasih suara Kecapi (atau mungkin Sitar?), tapi tiba-tiba beberapa bar selanjutnya, kita langsung dikasih suara Drop Bass ala EDM. Faker! Di antara segala macem kontras suara yang ada di lagu itu, si Maliq malah nyampein pesan yang “lebih” daripada sekedar kontras tradisionalitas & modernitas, dan pesan itu coba disampein di lirik lagu-nya, “sayap-sayap terbangkan aku, jiwa raga bebaskan aku..

Modul berpikir yang mirip sama lagu Sayap ini juga coba dielaborasi dengan cara lain lewat lagu Titik Temu. Dengan kontras antara suara sitar, ritmik drum and bass berulang, soundscape yang mainin arpegiator, liriknya lagi-lagi ga peduli-in sama sekali soal kontras, malahan ngomong soal, “hingga titik temu membukakan pintu, mengungkap rahasia semua yang fana, demi masa, kita hanyalah manusia..”

Atau misalnya lagi, di nomor lagu ketiga, Maya. Disini Maliq nge-buka lagu dengan ragam perkusi yang ngingetin saya sama aksi rebana dan paduan suara ala marawis. Tapi, begitu masuk ke verse dan inti lagu, suara bass dan aransemen ala EDM yang berulang nge-respon intro lagu ini, pas lagi di tengah-tengah orkestrasi suara itu semua itu, Mbak Indah sama Mas Angga malah nanyain, “siapa kita sebenarnya di antara dua dunia?” Gila, ini lagu lagi ngomongin soal identitas dan hiperealitas, nanyain-nya gitu, terus dibawain-nya kontras antara marawis sama EDM!

Misalnya lagi, salah satu nomor lagu yang seru adalah Kapur. Di lagu ini Maliq pengen coba nyeritain sosok Guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa! Bangsat, buat saya, ini tema yang jauh banget dari misalnya, Menikmati Cinta di era Maliq pas album Free Your Mind.

Kalau mau diringkas, di album ini, Maliq beneran bisa nge-ekstensi-in kekayaan berpikirnya abis-abisan yang berangkat dari nomor-nomor lagu, kayak Beautiful Life & Terlalu dari album The Beautiful Life atau juga lagu-lagu kayak Ananda, Imajinasi, Himalaya, Nirwana dari album Musik Pop, dan single terbaik buat saya pribadi, Aurora. Jadi, buat temen-temen yang suka sama nomor-nomor lagu tadi, album ini dijamin ga bakal ngecewain.

Di titik sekarang ini, saya beneran berani ambil suara kalau ditanya lagu apa yang harus dipasang di gate kedatangan pesawat di airport-airport Indonesia; Maliq n D’Essentials album Senandung Senandika.

Dengan segala tensi politik yang terjadi belakangan ini, belum lagi aksi terorisme di Kampung Melayu kemaren ini, satu album Maliq ini bisa ngasih safe haven banget buat 45 menit. Ngasih penyegaran di antara segala tarik-menarik isu yang sangat bipolar ini. Dan lewat album ini, Maliq dengan coba menyampaikan Senandika-nya dengan cara bersenandung, “kita emang beda-beda, terus kenapa? mau ada yang menang dan kalah salah satu-nya? kenapa ga kita saling respon sambil sama-sama kerja bareng untuk kejar sesuatu yang lebih “agung” barengan aja?”

Dan gara-gara album ini, saya jadi ke-inget sama potongan kalimat penting yang nyamperin saya lewat surat di tengah bulan Desember tahun 2016 kemaren, “nobody are freaks because everybody are freaks, nobody is normal because everybody is normal — such a paradoxical concept..”

Di antara ingatan itu, di depan saya, suara Mbak Indah sama Mas Angga lewat bersenandung lewat nomor lagu terakhir di album ini, yang udah saya puter 30 kali selama 7 hari ini,

Manusia biasa
seperti Kau
luar biasa
bisa terbiasa
menerima
memahami
dan akhirnya memaklumi
tanpa ada Karena..

Manusia biasa
Kamu luar biasa
Aku luar biasa
Kita luar biasa..

Terima kasih, Maliq buat Senandung Senandika-mu! Semoga kita bisa ketemu di kesempatan untuk nge-feature kamu di salah satu Cerita Senandika-ku nanti ya! Selamat mendengarkan buat teman-teman lainnya~

p.s
this post is dedicated to you, yang nulis potongan kalimat diatas —  the empress who can detects the beauty in between duality~

p.s.s
buat kamu yang se-pengen itu ngembangin cerita fiksi yang bisa ngegambarin segala “keindahan” isi kekayaan Indonesia dan Nusantara dalam kemasan yang kini, album ini referensi yang sangat menarik..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s