Antusiasme

Mario, Athalla, Magali

Yang selalu mencuri perhatian dari para ponakan adalah binar mata itu — those sparkly eyes — yang selalu berisyarat dengan sejuta pertanyaan, keinginan, kecemasan, tapi juga kesiapan untuk berpetualang dan mencari jawaban — dengan segala kecerobohan, dengan segala ketidaktahuan.

Saya adalah salah seorang yang mengimani energi di balik binar mata itu — that sense of wander and wonder. Energi yang terbangun karena adanya rasa percaya bahwa selalu ada yang “belum tergapai” di luar sana — there is always undiscovered paradise out there. Saya menyebutnya antusiasme bocah. Antusiasme inilah yang mendorong saya untuk mempertanyakan banyak hal, berani melakukan kenakalan-kenakalan, senang membuat inisiatif-inisiatif kecil, atau malah mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Saya tumbuh besar dengan antusiasme bocah ini dan selalu mengandalkan antusiasme bocah untuk menyelesaikan setiap persoalan.

Sampai-sampai, seringnya saya lupa kalau saya bukan lagi bocah berumur lima, yang bisa dengan polosnya mengandalkan antusiasme belaka untuk menjawab setiap tantangan kehidupan. Sering sekali orang-orang di sekitar selalu mengingatkan dua hal; 1) bahwa umur sudah mulai memasuki paruh kedua usia berkepala dua, 2) untuk “pelan-pelan”, “sabar”, dan “hati-hati”. Peringatan pertama seringnya juga saya lupa, tapi setidaknya setiap tahun selalu diingatkan oleh notifikasi dari facebook. Peringatan kedua, yang selalu diingatkan oleh kedua orang tua bahkan sejak saya umur lima, entah kenapa belakangan ini mulai datang bertubi-tubi, yang seringnya juga saya lupa atau indahkan. Pikiran saya, setiap kali ada orang yang coba mengingatkan, “Kenapa harus pelan-pelan, sabar, dan hati-hati? Bagaimana bisa mencapai titik yang “tak tergapai” kalau kita pelan-pelan, sabar, dan hati-hati? Bukannya itu hanya akan membatasi ruang gerak dan menurunkan tingkat keseruan selama berpetualang?”

Perlu waktu hampir 20 tahun dengan segala problematika dan proses pendewasaannya untuk bisa mengamini apa yang dimaksud orang tua dengan pelan-pelan, sabar, dan hati-hati.

Selama ini, setiap kali saya menemukan pertanyaan baru, hingga akhirnya memutuskan untuk memulai perjalanan, saya selalu mengandalkan antusiasme bocah yang ada di kepala saya, “kayaknya kesini deh”. Dan seringnya memang intuisi itu membawa saya ke sebuah “tempat” dimana jawaban itu seringkali hadir, atau malahan membawa saya ke sebuah pertanyaan dan perjalanan baru. Sampai pada suatu waktu, saya terlalu antusias untuk terus mengikuti intuisi bocah yang ada di kepala saya, sampai tiba pada suatu “tempat” yang memang belum saya “gapai” sebelumnya, tapi tidak memiliki jalan untuk melangkah maju — saya tahu, di titik itu, saya tersesat.

Saya pun memilih untuk memutar balik, menuju suatu titik dimana perjalanan dari suatu pertanyaan itu dimulai. Dan di titik itu, saya bisa melihat dengan lebih jelas, bahwa memang baru saja saya tersesat, dan mulai bertanya, “Bagaimana bisa saya tersesat? Pertanyaannya kan dimulai di sini, kok bisa-bisanya saya menjawab sampai ke situ?” Saya lupa untuk memetakan kembali apa-apa yang sudah saya jalani, seolah saya selalu berjalan dengan kepala yang tidak tahu apa-apa. Padahal, setiap perjalanan yang sudah dilewati pasti meninggalkan peristiwa, meninggalkan tanda. Dan di titik itu, saya sadar, saya terlalu ceroboh.

Kemudian, saya pun pelan-pelan membaca tanda, sekali lagi kembali bertanya, dan mulai menyusun rencana. Dari sana, ada satu hal yang saya sepakati dengan “pelan-pelan, sabar, dan hati-hati” yaitu, setiap perjalanan yang yang ada di depan mata bukan hanya tentang mencapai tempat yang “tak tergapai”, karena bisa jadi sekali lagi saya tersesat, setiap perjalanan ini harus terus menuju tempat yang memang “tak tergapai” tapi juga terus membuka jalan untuk selalu melangkah maju ke depan.

Untungnya, sekarang saya sudah ingat, bahwa saya bukan lagi bocah umur lima, melainkan Tri Adi Pasha yang sudah berumur 25. Saya masih mengimani energi di balik binar mata itu, antusiasme bocah — yang selalu menyimpan sejuta pertanyaan, keinginan, kecemasan, tapi juga kesiapan untuk berpetualang dan mencari jawaban — tapi bukan berarti saya bisa terus antusias dengan ceroboh dan seolah tidak tahu apa-apa. Saya mengerti bahwa “pelan-pelan, sabar, dan hati-hati” justru bukan untuk menihilkan keseruan yang ada selama perjalanan, tapi justru merayakannya. Dengan sekali lagi memastikan bahwa di setiap perjalanan memang selalu ada celah untuk kecerobohan baru, ada kesempatan untuk mempelajari pengetahuan baru, tapi yang jelas, perjalanan itu menuju sebuah keseruan baru, bukan kesesatan baru, sebuah bukaan untuk setiap orang melangkah maju— to not only achieve the undiscovered path, but also, make a way that may lead to the unforeseen chances.

——
entri pindahan dari medium.com/@triadipasha
ditulis 26 September 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s