Pilihan

Selamat malam, teman-teman semua,
selamat datang, para tamu undangan,

Jauh sebelum hari ini, jauh sebelum perjumpaan kita di gedung ini, saya percaya pertemuan kita disini dimulai dari kekuatan paling dasar yang dimiliki manusia : kekuatan untuk memilih.

Biasanya sebelum akhirnya kita kuat untuk memilih, seringkali banyak pertanyaan, atau dalam bahasa yang lebih sering kita jumpai — kegalauan.

Bagi teman-teman semua, sebelum akhirnya memilih meluangkan waktu di malam ini untuk menonton pertunjukan kami, saya kira teman-teman pun pasti dipenuhi kegalauan, “Apa nih Sunset Deity? Siapa nih Merchant of Emotion? Pementasan Teater Multimedia apalagi ini?”

Bagi kami, sebelum akhirnya memilih untuk memproduksi Sunset Deity, ada berbagai kegalauan yang kami hadapi. Kegalauan utamanya adalah “Ngapain ya enaknya abis kuliah, ngapain lagi ya enaknya setelah produksi Taraksa kemarin? Gimana kalau produksi lagi?”

Sepak terjang kami di Teater EPIK, memberikan pengalaman dan keasyikan tersendiri bagi kami. Untuk teman-teman yang mengikuti sepak terjang Teater EPIK, tentunya wajah-wajah yang hadir di panggung ini bukanlah wajah-wajah baru. Mungkin beberapa ada yang sempat melihatnya di nomor-nomor pertunjukan Teater EPIK seperti Taraksa, Mendiang Republik, Nest, ataupun Kontempo Lalu-Lalang. Dulu, memproduksi teater menjadi suatu kegiatan ekstra kuliah yang menyenangkan. Tapi sekarang, selepas dari bangku kuliah, memilih untuk memproduksi berarti memilih berprofesi di dunia pertunjukan.

Maka muncullah kegalauan selanjutnya, “Ngapain Tri jadi produser, udah capek-capek kuliah di SBM-ITB kok malah jadi produser? Ngapain sampai akhirnya memilih untuk memproduksi?”

Perlu waktu hampir 1 tahun untuk akhirnya bisa membahasakan cita-cita dan keinginan kami untuk menjawab pertanyaan itu. Ada mimpi yang kami kejar, yaitu membangun industri media yang masih muda di negeri ini dengan menghadirkan sajian hiburan yang lebih baik bagi Indonesia — we would like to give better entertainment for Indonesia.

Di tengah perkembangan industri kreatif yang sedang pesat-pesatnya, kami sadar, bahwa masih terdapat posisi kosong di industri ini. Adalah peranan pemain lokal yang berfokus pada produksi, publikasi, dan franchise cerita orisinil dalam skala global. Jika dibandingkan dengan industri kreatif di negara-negara maju, seperti Jepang atau Amerika, banyak sekali nama-nama pemain yang menyapa kita dengan akrab melalui ceritanya seperti Disney dengan Lion King-nya, Marvel dengan Avengers-nya, Shogakukan dengan One Piece-nya, atau mungkin Ghibli dengan Totoro-nya.

Melihat fenomena-fenomena di atas, saya kira bahwa di Indonesia sekarang ini, terdapat cara berpikir dan penyikapan produksi yang tidak bertanggung jawab. Seringnya, pembicaraan yang terjadi adalah; produksilah konten yang biasa saja, niscaya banyak penontonnya, dan jangan produksi konten yang bagus karena ga akan ada yang nonton. Saya adalah seorang yang menolak cara berpikir tidak bertanggung jawab seperti itu. Saya percaya bahwa konten yang baik adalah konten yang menang secara pesan, kemasan, dan pemasaran — memiliki pesan moral yang baik, gaya penyampaian yang ringan, dan memiliki wajah pasar yang menarik.

Orang-orang yang berpikir tidak bertanggung jawab itu, saya kira tidak bisa mengapresiasi dengan baik nilai dari produksi judul-judul seperti The Godfather, Nightmare Before Christmas, Samurai X, Forrest Gump, atau bahkan judul-judul di masa keemasan media Indonesia di tahun 90-an dan awal 2000-an, Lorong Waktu, Extravaganza, Bajay Bajuri, atau Si Doel Anak Sekolahan.

Dari kegalauan-kegalauan itulah, kami akhirnya memilih; 1) membentuk organisasi Merchant of Emotion yang lebih ajeg dari Teater EPIK 2) mulai memproduksi sebagai profesi, 3) menjadi bagian dari pembangunan industri kreatif di Indonesia.

Dan setelah kami memilih, maka kami pun mulai bekerja.

Dan pada akhirnya, kita bertemu disini, jawaban dari kegalauan teman-teman, dan kami. Inilah irisan terbaik dengan pilihan kami. Karena itu berarti ada yang pesan yang tersampaikan dan ada simpulan yang dibangun. Selama kami bisa terus memproduksi sajian yang menjadi teman-teman, selama pilihan kita bisa terus beririsan, maka kita semua, secara bersama-sama sedang membangun sesuatu yang lebih besar; kemapanan industri media Indonesia.

Dan ketika itu tercapai, saya percaya, generasi yang akan datang, generasi setelah saya, tidak akan ada lagi pertanyaan, “ngapain jadi Produser?” — malahan mungkin ketika ada yang meungkapkan kepada orang tuanya, “Mah/Pah, saya mau jadi Produser”, dan orang tuanya akan menjawab “oke, nak, Mama/Papa kenal seorang teman yang jadi Produser, dan katanya dia punya akademi, kamu belajar saja di sana.”.

Dan semua cita-cita itu, pelan-pelan sedang kami bangun, dimulai dari panggung ini, Pementasan Teater Multimedia Sunset Deity.

Selamat menyaksikan!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s