Merchant of Emotion

Hopes

Concerns

Cita-cita, ekspektasi, atau mimpi mungkin adalah suatu ‘batas’ yang ingin dicapai. Saya percaya tempelan-tempelan post-it di atas, adalah ‘batas’-nya — disanalah tim kecil kita ini dimulai dan disanalah pula ‘tempat’ bagi kita untuk kembali.

Sutan sempat menuliskan hal menarik di blognya. A dream of a team, not a dream team. Probably what have been filling my thought, because it was always people before product, creator before created.  Dan saya mengamininya. Rapat-garasi-yang-kita-adakan-masih-per-dua-sampai-tiga-minggu-sekali ini (oh, my gosh! we should meet more often, we have so many deadlines, guys!) bukan pertemuan tim-impianmelainkan pertemuan impian-sebuah-tim. Perlahan, menginjak bulan keempat ini, kita bekerja untuk mencari dan menemukan jawaban terpenting dari tim kecil kita ini, can we make this thing happen? can we do this? can we really do this?

Tidak mudah memang untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Karena ‘batas’ yang ingin kita ‘tembus’ bukan lagi sekadar pementasan-seribu-penonton-yang-dikerjakan-secara-sukarela, melainkan hidup kita sendiri, impian kita pribadi.

How if we literally ‘died trying’? Would we feel satisfied even if we died for something we are dying to try? Would you?

Dan di titik ini, tempelan-tempelan post-it itu menjadi ‘tempat’ bagi kita untuk kembali, atau mungkin lebih tepatnya “momen 10 menit ketika masing-masing dari kita menuliskan kalimat demi kalimat pada lembaran demi lembaran post-it” itulah yang penting; momen ketika kita berkehendak. Setelah itu, sisanya adalah pertarungan keyakinan, determinasi. Dan tidak ada pilihan lain, selain harus kuat dan saling menguatkan. And it always takes time, my friends. 

Bagi saya, yang menginisiasi semua ini, proses perjalanan ini mengharuskan Semangat (dengan kapital S) yang ada di dalam diri saya untuk sebegituyakinnya bahwa saya akan puas toh pun saya mati di tengah upaya saya untuk ‘menembus batas’ ini. Namun begitu, selalu ada Nafsu (dengan kapital N) yang memperingatkan saya agar saya ‘mencapai batas’ tersebut selagi saya masih hidup.  Sehingga, yang terus-menerus selalu saya pikirkan adalah metode — cara bagaimana kita melewati perjalanan ini. Give it our best try, if best is not enough, then we should find the exact mambo-jambo ‘touch’ to make our mambo-jambo theatrical stuff happen.

We really got to stay foolish and keep our mind sane, mate..
Keep our mind sane..
and (hopefully) enjoy our journey, my friends and compatriots!

 

Advertisements

One thought on “Merchant of Emotion

  1. Terimakasih pak bos… Jawaban itu rupanya tetap penting.

    Mungkin mati mencoba, tapi coba-coba mati juga gak papa… Paling tidak, kita sama-sama.

    Banyak hal yang penting di dunia ini, banyak juga yang nggak penting, mungkin diantara yang penting dan nggak penting, ada kalian, karena jika hal-hal sok dipentingin jadinya kesombongan, ketika hal terlalu dianggap tidak penting jadinya kemalasan, tapi di antaranya, ada cita-cita.

    Saya harap kita semua bisa terus menjalani semua dengan ikhlas, seperti kata pak bos…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s