Ketakutan (contd.)

Teruntuk Pak Budi dan Pak Bill,

Beberapa waktu ke belakang ini, setelah hampir 5 bulan saya melewati sidang tugas akhir, pertanyaan “how do you overcome your fear?” masih sering kali berkutat di kepala saya. Namun, pengalaman yang saya alami selama 5 bulan terakhir ini rasanya membawa saya pada jawaban lain atas pertanyaan tersebut (tentunya selain dari pengalaman, hasil membaca beberapa rujukan bacaan kemarin pun memberikan khasanah berpikir baru pada apa yang hendak saya sampaikan disini).

Perjalanan saya ini dimulai dari tanggal 1 Oktober 2013 kemarin. Saya direkrut Komunitas Salihara untuk menjadi bagian dari tim Marketing & Communication. Selama tiga bulan, saya menjalani masa menjadi karyawan pelatihan (probation period). Walaupun pada akhirnya, saya tidak memperpanjang kontrak kerja di Komunitas Salihara, keberadaan saya selama tiga bulan di Komunitas Salihara mengenalkan saya lebih dalam pada pola-pola dan vocabulary industri budaya pop di Indonesia — industri budaya pop Indonesia yang tumbuh dengan iklim kolektif bukan profesional, perputaran dana yang lebih banyak bergantung pada sponsor ketimbang investor, tidak adanya regenerasi pemain di tingkat industri, produk-produk unggul yang gagal secara finansial, dan lain sebagainya. Namun, utamanya perkenalan ini membawa saya pada proses pembelajaran. Dengan “mengenal”, maka perlahan pun saya “tahu”, dan dengan “mengetahui”, maka “kesadaran” atau “pemahaman” saya bertambah. Terlebih lagi, adanya perjumpaan dengan kategori bacaan baru (The Art & Making of Film/Performance Art/Animation Books) membuat diri saya lagi-lagi mengalami proses pembelajaran (“mengenal-mengetahui-memahami”) tambahan tentang proses kerja di rumah-rumah produksi profesional kelas dunia. Ketika minggu lalu saya berkunjung ke Singapura untuk secara khusus menonton pementasan teater dan datang ke Singapore Bienalle, lagi-lagi saya “mengenal-mengetahui-memahami” hal baru bagi wawasan saya.

Lalu, selama bulan Januari lalu, saya mulai memetakan hasil pembelajaran dan pencarian (research) yang telah saya lalui selama 5 bulan terakhir dengan tujuan mempersiapkan produksi pementasan yang baru. Ya, saya berniat dengan sungguh untuk menjadi impresario atau produser profesional di industri budaya pop. Berbekal dari pembelajaran kemarin, saya pun mempersiapkan diri untuk kembali menginisiasi produksi seni pertunjukan, dan tentunya dengan kejaran tingkat manajemen produksi yang lebih profesional, cerdas, taktis, dan strategis dibandingkan Taraksa. Maka, saya kembali menginisiasi tim baru, bukan Teater EPIK (ada alasan tersendiri dari keputusan ini berdasarkan hasil pembelajaran dan riset, yang tentunya akan lebih menyenangkan jika saya bisa berdiskusi secara langsung dengan Pak Budi dan Pak Bill mengenai keputusan-keputusan yang saya lakukan, sebagaimana sewaktu pengerjaan tugas akhir dulu). Puncaknya adalah minggu lalu. Di hari terakhir perjalanan saya di Singapura. Selama menunggu pesawat pulang dan perjalanan ke Bandung, saya secara sadar merasa begitu tegang, takut, was-was, dan sendirian. Di titik inilah saya mulai coba menggali kembali pengalaman memimpin produksi Taraksa dan membandingkannya dengan kondisi saya sekarang ini, ketika saya lebih “kenal”, “tahu”, dan “sadar” atas apa yang dimaksud dengan “menjadi produser”.

Saya pun langsung teringat pada salah satu pengalaman perjalanan saya di Singapura. Tepatnya, ketika saya menyebrangi jembatan Dragonfly (jembatan yang menghubungkan Kawasan Marina Bay Sands dan Garden by The Bay). Saya seorang yang takut ketinggian. Ketika memasuki jembatan, saya langsung menyadari bahwa jembatan ini berada di ketinggian antara 12 – 15 meter di atas permukaan jalan dengan panjang sekitar 200 meter. Salah satu bagian yang menekan perasaan saya adalah kehadiran tiga sosok gedung tinggi yang membayangi selama penyebrangan. Bentuk gedung yang melengkung memberi kesan “tak ajeg” dan hal tersebut memperparah ketakutan saya akan ketinggian. Saya begitu was-was, tegang, dan sendirian (saya melakukan perjalanan seorang diri, tanpa teman). Perlu waktu hampir 15 menit untuk menyebrangi jembatan Dragonfly karena saya selalu berhenti setiap tiga-empat langkah, entah untuk sekadar diam beristiharat, sedikit melirik gedung hotel dibelakang, atau mengintip jalan dari atas jembatan. Dua ratus meter dan lima belas menit tersebut adalah salah satu dari pengalaman akan “ketakutan” yang membekas di hidup saya.

Tidak begitu jauh rasanya dengan “ketakutan” yang sedang saya hadapi sekarang, hanya saja saat ini saya tidak sedang menyebrangi jembatan Dragonfly, melainkan jembatan “untuk menjadi produser profesional kelas dunia”. Dan saya sadar, bahwa jembatan “untuk menjadi produser profesional kelas dunia” ini bergantung di atas ketinggian “manajemen produksi profesional” yang tidak bisa diukur dengan belasan meter, dikelilingi oleh “rumah-rumah produksi profesional” yang menjulang dengan ajeg, dengan jarak tempuh bukan lagi 200 meter melainkan “Jakarta-London atau Jakarta-New York”, dan cuaca berkabut yang memperburuk jarang pandang. Yang paling dahsyat adalah kehadiran berbagai monster “penonton” (domestik maupun global) yang harus saya taklukan selama penyebrangan ini. Dan saya tidak ada pilihan lain, selain terus berjalan dengan tetap sepenuhnya sadar, berkeras diri, memiliki determinasi tinggi, menjadi pemberani, dan menaklukan segala ketakutan tersebut. Disinilah saya merasa jawaban to embrace the fear itself terlalu bijak dan hanya mudah untuk diucapkan, tapi sulit untuk dilakukan.

Maka, dibandingkan ketika memproduksi Taraksa dulu, rasanya “ketakutan” tidak hadir sebegitu rupanya (maka bisa jadi jawaban “to embrace the fear itself” tidak sepenuhnya tepat, karena saya tidak sepenuhnya sadar akan hadirnya “ketakutan” tersebut). Sewaktu itu, saya hanya seperti seorang penumpang yang membeli tiket pesawat dengan tujuan keberangkatan tertentu, lalu hanya tinggal duduk di kursi penumpang, maka sisanya sistem penerbangan (awak kabin, kapten, pilot, pihak bandar udara, dan lainnya) yang akan bekerja. Saya tidak pernah tahu seberapa ketinggian saya berada dari permukaan jalan, saya tidak tahu sebenarnya jauh jarak yang saya tempuh, saya tidak tahu seperti apa kondisi langit di sekitar pesawat ini selain dari kaca jendela pesawat, dan bahkan saya tidak punya kuasa untuk mengemudikan pesawat ini. Apakah pilot akan membawa ke tempat tujuan? Apakah benar ini pesawat yang saya tumpangi? Apakah saya akan tiba tepat waktu? Apakah ini benar kursi yang harus saya duduki selama perjalanan ini? Yang jelas, semua pertanyaan barusan sudah tertera di tiket pesawat. Saya hanya perlu menjadi penumpang yang cerdas, yang tahu kapan harus memesan tiket, dimana membeli tiket, maskapai apa yang harus saya gunakan, dan kemana tujuan saya harus berakhir. Sisanya, sistem yang akan menyelesaikan. Sekalipun terjadi kecelakaan, sudah disediakan pelampung dan tabung oksigen toh.

Mungkin alegori di atas tidak sepenuhnya sempurna untuk menggambarkan. Tapi yang jelas, semenjak saya justru semakin mempelajari apa-apa yang berkaitan dengan upaya saya untuk “menjadi produser profesional”, saya semakin tahu seberapa hebat “ketakutan” yang harus saya hadapi. Dan utamanya, saya semakin sadar, bahwa saya akan menyebrangi jembatan, bukan sekadar naik pesawat terbang dan menjadi penumpang. Saya sepenuhnya sadar dan berkuasa akan keputusan-keputusan yang saya ambil. Dan dari kesadaran itu, setidaknya untuk saat ini, saya masih berhasil (karena bukankah kita tidak pernah mengetahui apa yang akan terjadi di depan?) mengelola diri saya untuk tetap optimis menyebrangi jembatan “untuk menjadi produser profesional kelas dunia”. Maka, sekali lagi (jika memang benar ada “ketakutan” yang saya hadapi selama Taraksa, saat ini saya agak ragu), saya akan coba menaklukan “ketakutan” yang ada di hadapan di saya. Tidak ada pilihan lain. SEBRANGI, MENANG!

Saya masih ingat di hari-H sebelum sidang, saya mengirimkan pesan singkat ke Pak Budi, “apakah ada materi tertentu yang harus saya sampaikan dengan lebih mendalam di sidang?”. Pak Budi membalas, “utamakan pada hal-hal yang bisa kamu ceritakan pada orang-orang yang hendak menjadi entrepreneur.”

Jika saya hendak diberikan kesempatan lagi untuk bercerita, maka saya akan menceritakan kembali tulisan di atas. Sebanyak saya berbincang dengan teman-teman yang memutuskan untuk start-up business setelah kuliah, rasanya mereka masih terjebak pada penggambaran “pesawat terbang”. Seolah-olah dengan “menjadi entrepreneur” dan  “memulai bisnis”, segala cita-cita hidup dapat tercapai sebagaimana yang sering ditemukan pada buku-buku autobiografi, artikel-artikel Harvard Business Review, ataupun tulisan-tulisan self-help dan tips and trick lainnya. Bukan berarti dengan cerita saya, saya berniat memenuhi tumpukan-tumpukan tersebut dengan satu tambahan cerita di atas. Bukan. Saya hanya ingin berbagi. Seperti kata-kata Hume, “karena aku pernah melihat sekumpulan kuda hitam, tidak berarti semua kuda berwarna hitam..”

Ya, saya hanya ingin berbagi tentang kuda pink, yang mungkin norak. Tapi ini tetap bagian dari cerita entrepreneurship saya kira. Semoga saja, teman-teman yang lain (utamanya yang “memulai menjadi entrepreneur”) memiliki kesadaran filosofis David Hume agar tidak terjebak pola-pola yang dibentuk media sehingga bisa menghasilkan produk yang signifikan di masyarakat.

Kira-kira begitu cerita yang ingin saya bagi kepada Pak Budi dan Pak Bill. Tentu akan sangat menyenangkan jika kita bertiga dapat saling meluangkan waktu dan bertemu. Setidaknya bukan di tengah sidang tugas akhir dan ruang auditorium. Mungkin di antara secangkir kopi? hehehe.. Saya cukup menanti waktu-waktu seperti itu dengan Pak Budi dan Pak Bill. Semoga Pak Budi dan Pak Bill dalam keadaan sehat. Terima kasih atas segala bimbingan selama saya di SBM dan terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca surel ini.

Have a really good day, Sir!
Cheers!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s