Gedung Teater EPIK

Yang menarik dari sebuah pertunjukan teater adalah ketika penonton mengalami secara langsung peristiwa-peristiwa yang disampaikan di atas panggung. Dalam artian, pertunjukan teater (seni pertunjukan) adalah satu-satunya produk fine art yang pada proses ‘penyampaiannya’ amat berkaitan dengan ruang dan waktu.

Maka dari itu, sering kali ada yang luput di antara nama-nama (sutradara, penulis, pemusik, perupa, penari, pemain, dan tim produksi) yang mengisi credit title suatu produksi teater atau seni pertunjukan. Ialah seorang arsitek.

Pada peranannya sebagai perancang ruang, seorang arsitek memiliki pengaruh yang signifikan pada proses produksi pertunjukan teater. Ia tidak hanya berupaya menghadirkan ruang untuk menonton bagi publik, tetapi juga membantu sekaligus menantang proses penggiat teater untuk berkarya.

***

Pada mulanya Teater EPIK hadir sebagai sebuah launching event dari Majalah EPIK — majalah esei dan sastra yang menyasar kalangan mahasiswa seluruh Indonesia. Namun, seiring dengan bertambahnya nomor pementasan dan respon positif dari para penonton, Teater EPIK mulai melepaskan diri dari Majalah EPIK dan bergerak secara otonom. Pada kemandiriannya, Teater EPIK bercita-cita untuk mempelopori pergerakan industri pertujukan teater di Indonesia. Pandangan mendasar yang coba diusung oleh Teater EPIK adalah memperlakukan pertunjukan teater sebagai sebuah hiburan dan melepaskan teater dari sekadar seni kontemporer atau kultural.

Berkaca pada kondisi di Indonesia, pertunjukan teater sebagai bagian dari industri hiburan merupakan suatu ranah khusus yang belum tergarap. Karena pada praktiknya, memang ada beberapa grup teater yang aktif dan konsisten memproduksi pertunjukan teater, seperti Teater Koma, Bengkel Teater Rendra, Teater Garasi, Teater Satu, dan Papermoon Puppet Theater. Namun, grup-grup teater tersebut masih memperlakukan pertunjukan teater sebagai sebuah acara seni ketimbang sebagai produk industri hiburan. Maka, sikap yang coba diusung oleh Teater EPIK ini dapat dikatakan sebagai tesis baru di kancah pertunjukan teater di Indonesia.

Salah satu sosok yang menjadi inspirasi Teater EPIK adalah Andrew Lloyd Webber dengan rumah produksinya, Really Useful Group. Webber adalah seorang komposer Inggris yang sukses menghasilkan komposisi teater musikal terkemuka seperti The Phantom of The Opera, Jesus Christ Superstar, dan Cats. Karya-karya komposisi teater musikalnya dipentaskan secara berkelanjutan selama lebih dari satu dekade baik di West-End (distrik gedung pertunjukan teater di London) dan Broadway (jantung industri pertunjukan teater di New York).

Peter Brook, salah seorang sutradara teater terkemuka asal Inggris lainnya, lewat bukunya The Empty Space mengatakan bahwa syarat untuk sebuah pertunjukan teater adalah adanya tempat, lalu aktor yang melakukan tindakan tertentu di dalam sebuah ruang kosong, sementara sejumlah orang lainnya menonton. Melalui kalimat itu, Peter Brook ingin menyampaikan bahwa ada tiga elemen penting dari teater; 1) penggiat teater, dalam hal ini Brook memfokuskan pada aktor, 2) tempat, dan 3) ruang. Teater EPIK tidak sepenuhnya menyetujui pernyataan tersebut. Brook adalah seorang yang hidup di sebuah negeri dengan industri teater yang mapan, dan pada titik itu barangkali Brook lupa bahwa diperlukan elemen keempat untuk mendorong sebuah pertunjukan teater ke arah industri hiburan; kerja kreatif tim produksi teater.

Hal yang coba diincar oleh kinerja tim produksi Teater EPIK adalah terbentuknya Unique Selling Point, syarat dasar suatu produk dapat diterima oleh pasar atau tidak – pada konteks ini adalah menjual atau tidaknya suatu pementasan teater. Maka, jika hendak dirangkum secara lebih sederhana, pementasan Teater EPIK adalah nomor-nomor pementasan teater yang dapat dinikmati untuk kemudian dijual. Harapannya, seiring dengan eksistensi dan konsistensinya dalam berkarya, pertunjukan-pertunjukan Teater EPIK dapat membentuk animo penonton selayaknya pertunjukan konser-konser musik yang sedang ramai di pasar saat ini. Sehingga, apabila pertunjukan teater telah mencapai kemajuan industri setingkat dengan konser musik, akan tiba masanya ketika para penonton yang akan datang ke pertunjukan lebih ‘mempersiapkan diri’ – dalam artian mencari segala informasi berkenaan dengan pertunjukan (atau artis) yang akan tampil. Untuk menuju ke tahap itu, pendekatan Integrated Marketing Communication sebagai strategi pemasaran nomor-nomor pertunjukan Teater EPIK menjadi penting, mengingat pembentukan animo harus hadir dari dua arah; pengguna (penonton) yang aktif mencari informasi dan channel penyedia informasi yang mudah diakses (situs, poster, iklan, dll).

Pada proses penggarapan naskah pertunjukan, Teater EPIK mencoba melampaui tema-tema realisme sosial, ekonomi, dan politik yang kerap kali menghiasi kancah pertunjukan teater di Indonesia dalam enam sampai tujuh dekade ke belakang. Teater EPIK coba mengeksplorasi cerita fiksi dengan warna yang lebih kontekstual dengan kondisi masyarakat Indonesia saat ini – masyarakat yang secara politik lebih stabil, ekonomi mulai berkembang, dan perkembangan budaya yang kian meluas seiring dengan kemudahan akses informasi. Naskah-naskah Teater EPIK berkisar pada kisah-kisah fiksi dengan genre populer seperti fantasy, musical, thriller, atau romance.

Teater EPIK percaya bahwa perubahan struktur industri tidak lahir dari sekelompok kecil pembesar, melainkan dari sekelompok besar kalangan menengah. Maka, Teater EPIK juga mencoba menjadi wadah bagi mereka yang ingin bermain teater, tanpa harus menekuni pendidikan formal seni pertunjukkan. Adanya posisi ini merupakan sebuah upaya untuk mengangkat emansipasi masyarakat baik dari kepercayaan akan kemampuan berkreasi, sekaligus peningkatan cita rasa hingga ke tingkat yang dapat diterima di dunia internasional.

Dengan pemilihan tema yang populer serta cakupan pemain yang tidak tertutup dari segelintir komunitas, diharapkan pertunjukan teater dapat menjadi sarana entertainment yang lebih dekat, mudah dicerna, laris, dan ditunggu-tunggu keberadaannya.

***

Gedung Teater EPIK adalah sebuah percoabaan arsitektur yang dirancang untuk memfasilitasi visi dan kinerja Teater EPIK. Diharapkan rancangan gedung ini dapat menjadi ‘rumah’ baru bagi industri pertunjukan teater di Indonesia.

Dengan memposisikan diri sebagai alternatif hiburan untuk kalangan menengah – bukan untuk kalangan elitis seni, tapi juga bukan untuk kelas penonton sinetron – Gedung Teater EPIK tidak hadir sebagai art centre, melainkan sebagai tempat bagi siapapun untuk dapat mencoba menggarap sebuah pertunjukan.

Adapun kegiatan yang dapat ditampung dalam Gedung Pertunjukan Teater EPIK adalah bentuk pementasan eksploratif – suatu bentuk pementasan yang tidak harus selalu mengambil pakem format panggung konvensional. Selama sebuah ruang kosong dapat dibagi antara area pementasan dan area penonton, serta dapat diatur penggunaan cahayanya, ruang tersebut tetap memungkinkan untuk dijadikan arena pementasan. Keberadaan bentuk-bentuk ‘ruang pementasan bebas’ ini yang justru diharapkan hadir dalam Gedung Pementasan Teater EPIK, sebuah wahana belajar untuk lahirnya kreativitas baru dalam merespon panggung. Ruang-ruang yang tidak lazim seperti taman, playground, bahkan kolam adalah tempat para penggiat seni dapat merespon media yang beragam mulai dari tanah, alam, hingga air.

Selain sebagai tempat pertunjukan, Gedung Teater EPIK pun diposisikan sebagai sebuah meeting spot. Keberadaan meeting spot ini penting sebagai wadah dari sistem kuratorial yang konsultatif dari Board of Directors Teater EPIK untuk mendukung visi “theater for anyone” tanpa merusak kualitas dasar pembentuk industri. Harapannya, jika proses pengembangan cerita dan strategi pemasaran dapat menyentuh hingga kalangan teater SMA atau sekolah, yang berarti meluasnya distribusi pasar Teater EPIK, maka tidaklah tertutup kemungkinan berkembangnya ide-ide baru yang selalu aktual dan kontekstual.

Bagian bangunan lain yang harus hadir adalah Gerai, tempat asesoris dan merchandise dari berbagai pementasan terpilih dapat dipajang dan diperjual-belikan. Teater EPIK percaya bahwa sebuah pementasan tidak berakhir setelah tertutupnya tirai, namun pada ‘buah bibir’ penikmat yang bercerita tentang pengalaman menonton yang positif. Maka dari itu, keberadaan artefak berupa merchandise akan menjadi bukti pendukung yang kuat, akan sebuah pengalaman yang tidak terlupakan.

Pada titik idealnya, gedung ini tidaklah lagi menjadi milik Teater EPIK seorang, tetapi milik masyarakat yang bertanggung jawab. Di sisi lain, dibutuhkan proses yang tidak cepat dan pengaturan yang ketat untuk Teater EPIK dapat memberikan predikat ‘bertanggung jawab’ pada masyarakat. Maka dari itu, dibutuhkan sistem pengontrolan yang efektif, baik dari segi keamanan, organisasional, dan operasional agar gedung ini tidak hanya menjadi fasilitas yang berguna, namun juga mandiri dan berkelanjutan.

Penulis
Fiola Christina Rondonuwu

Penyunting
Sutansyah Marahakim
Tri Adi Pasha

Esei ini adalah tulisan pengiring untuk Tugas Akhir Arsitektur Fiola Christina Rondonuwu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s