Teater EPIK

Teruntuk teman-teman bermain yang baru, Tim Taraksa, terutama @marikarsy yang mengingatkan saya untuk sedikit bercerita di balik Teater EPIK. Berikut coba saya ceritakan kembali perjalanan dan cita-cita dari Teater EPIK, dibuat per poin, agar lebih mudah dibaca :

  1. Kami, sebagai muda-mudi, sepenuhnya sadar dengan berbagai posisi, peran, dan potensi yang kami miliki bahwa “gerakan kepemudaan” merupakan cikal-bakal suatu perubahan besar, terutama, bagi negara (bentuk politik yang masih paling mutakhir untuk mengatur kesejahteraan manusia di dunia). Terbukti dengan pergolakan zaman Orde Lama ke Orde Baru, atau bahkan puncak para muda-mudi beraksi ketika Orde Baru menuju Reformasi. Namun, keberhasilan “gerakan kepemudaan” kala itu, tak sepatutnya menjadi romansa di masa kini, karena era telah berganti. Perlu adanya perubahan dari “gerakan kepemudaan”.  Ide-ide tak bisa sekadar di-teriak-an, di-turun-kan ke jalan, atau malah di-tular-kan melalui struktur keorganisasian. Dibutuhkan suatu wadah dimana ide dapat dihimpun, dibagikan kembali, hingga timbul diskusi yang terus menjaga agar ide terus berkembang dan tak lekang oleh zaman.
  2. Pada mulanya, kami mulai menulis, mengumpulkan suara-suara yang tercecer, menggandeng teman-teman dari berbagai latar belakang, mengemas pemikiran-pemikiran dari hasil diskusi, menyajikan pandangan-pandangan alternatif, juga menceritakan romansa-romansa sederhana,  untuk kemudian dibagikan kembali kepada masyarakat melalui corong yang kami namakan Majalah EPIK. Namun, perjalanan dalam membangun usaha ‘media cetak’ tidak semudah yang dikira. Pelbagai kendala teknis, seperti modal, alur distribusi, juga produksi penerbitan, mendesak kami untuk membuat ‘sesuatu-yang-lain’ yang dapat menunjang progres Majalah EPIK, tersebutlah Teater EPIK.
  3. Teater EPIK bermula untuk menyajikan isi/tema majalah yang diangkat dalam rupa yang berbeda, sehingga para pembaca mendapatkan sensasi bermacam yang lebih dari sekadar lembaran dan tulisan. Sebenarnya, bentuk teater sendiri dipilih karena tim kami – yang pada waktu itu masih didominasi kalangan lokal – merasa memiliki kapabilitas untuk membangun suatu pementasan karena sempat terdidik dalam sistem akademis (juga memang merasa kehilangan serunya mata kuliah Seni Pertunjukan dan Praktis Manajemen). Selain daripada itu, suatu produksi teater memberikan wahana bekerja yang mampu menelurkan nilai-nilai yang baik seperti disiplin, sinergi, kolaborasi, juga membangun daya juang yang tinggi.
  4. Seiring berjalannya waktu (juga seiring dengan bertambahnya nomor pementasan dan nomor penerbitan), Teater EPIK semakin mendapatkan sorotan yang menjanjikan, sampai-sampai Teater EPIK kerap kali diberikan kesempatan untuk merambah ragam eksplorasi pementasan, dari musikalisasi puisi hingga bentukan pengisi acara kemahasiswaan (pementasan-pementasan ini tidak kami berikan nomor, pementasan yang diikuti nomor pementasan hanya pada pementasan yang mengiringi penerbitan Majalah EPIK). Pada perlawatan inilah, Teater EPIK mulai menemukan tujuannya yang lebih mandiri dari Majalah EPIK : menjadi wadah yang menaungi para penggiat yang berupaya meramaikan kancah seni pertunjukan di Bandung.
  5. Dengan adanya kehadiran Teater EPIK ini terbukti membuka peluang adanya pertemuan-pertemuan dengan teman-teman yang baru. Kehadiran para penggiat yang terus meningkat membuka peluang-peluang dan ide-ide baru yang juga berarti gulir-nasib yang baru, nasib yang bukan hanya satu dua orang saja, bisa saja nasib seluruh dunia. (coba sejenak kita bayangkan, apabila Bung Karno dan Bung Hatta tidak bertemu di kala, tentu nasib kita semua saat ini bisa jadi tidak sedang membaca tulisan ini, bukan?)
  6. Pada perjalanan ini, menginjak produksi yang kelima, kami menyadari bahwa hal terpenting selanjutnya setelah ‘eksistensi’ bagi suatu komunitas berkarya adalah ‘keberlanjutan’. Dalam artian disini, suatu wadah perlu mulai ‘memberikan asupan’ bagi para penggiatnya, dan dengan bentuk teater, peluang tersebut bukanlah tidak mungkin. Sebut saja misalnya, pementasan teater-teater di Salihara, pertunjukan epos Matah Ati, atau malah nomor-nomor pementasan di Broadway.
  7. Tapi itu semua kembali pada usaha, karena selalu ada kerja di setiap cita-cita. Maka saat ini, mari kita sama-sama saling berusaha mewujudkan Taraksa, sebuah pementasan yang mengusung konsep 360-packaged-brandingAdanya cerita yang tidak hanya coba diterjemahkan melalui bahasa gerak, tata panggung, musik, dan dialog, melainkan juga coba diterjemahkan melalui ilustrasi, strategi promosi, juga adanya aksesoris yang dijual beli. Selain dari itu, dicanangkan bahwa momen Taraksa ini dapat menjadi titik Inaugurasi, Perayaan Kehadiran Kembali EPIK sebagai suatu entitas berkarya yang ‘berlanjut’. EPIK, sebagaimana kredo yang diusungnya, tempat berbagi, dan mencari arti.
Advertisements

One thought on “Teater EPIK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s