EPIK (Majalah & Teater)

Tulisan ini dibuat berkat desakan salah seorang teman, @marikarsy. Katanya, “coba dibuat untuk mempertegas lagi, perjalanan yang pernah kamu lalui.”, setelah jadi, terkesan sedikit curhat. Tapi tidak apa. Sesekali bercerita. Selamat membaca!

Bila hendak bercerita mengenai sebuah awal dari Teater EPIK, maka tak akan lepas dari perjuangan di balik Majalah EPIK.

Semua bermula ketika kami mulai menginjak status mahasiswa. Tepatnya di tahun pertama, di tengah-tengah gegap gempita “gerakan kepemudaaan”. Kami menyadari “gerakan kepemudaan” merupakan cikal-bakal suatu perubahan besar, terutama dalam lingkup negara (bentuk politik yang masih paling mutakhir untuk mengatur kesejahteraan manusia di dunia). Terbukti dengan pergolakan zaman Orde Lama ke Orde Baru, atau bahkan puncak ketika Orde Baru menuju Reformasi. Namun, keberhasilan “gerakan kepemudaan” kala itu, tak sepatutnya menjadi romansa masa kini karena era telah berganti. Perlu adanya perubahan dari “gerakan kepemudaan”. Ide-ide tak bisa sekadar di-teriak-an, di-turun-kan ke jalan, atau malah di-tular-kan melalui struktur keorganisasian. Dibutuhkan suatu wadah dimana ide dapat dihimpun, dibagikan kembali, hingga timbul diskusi yang terus menjaga agar ide terus berkembang dan tak lekang oleh zaman.

Maka, kami memilih untuk mulai menulis.

Kami teringat dengan Naar de Republiek Indonesisch, sebuah tulisan cerkas dari Tan Malaka yang berhasil menggugah semangat juga menjadi inspirasi golongan terpelajar (Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, hingga Sukarni) Indonesia di era perjuangan kala itu. Kekuatan tulisan mampu mendirikan sebuah negara, bahkan menggerakan dunia, atau malah menjatuhkan rezim juga bisa jadi membangkitkan penguasa (ditambah lagi dengan perkembangan teknologi, bukankah segala informasi kini hadir dalam bentuk tulisan?!). Dan di sisi lain, melalui sebuah tulisan, seorang-yang-ragu dapat kembali yakin, mereka-yang-tahu dapat mempertanyakan sekali lagi.

Atas dasar itulah Majalah EPIK lahir, sebagai sebuah ‘media’ yang mengumpulkan suara-suara yang tercecer, menggandeng teman-teman dari berbagai latar belakang, mengemas pemikiran-pemikiran dari hasil diskusi, menyajikan pandangan-pandangan alternatif, juga menceritakan romansa-romansa sederhana,  untuk kemudian dibagikan kembali kepada masyarakat. Pencapaian jangka panjang dari Majalah EPIK sendiri adalah mewujudkan suatu komunitas berkarya − sebuah generator ide yang tidak berpihak, senantiasa bergerak.

November 2009 itulah titik acu perjalanan ini. Hampir memakan waktu sekitar 1 tahun untuk penggodokan ide, pembentukan tim, pengerjaan naskah, hingga persiapan teknis untuk penerbitan edisi perdana. Sampailah pada bulan Agustus 2010, edisi cetak perdana Majalah EPIK terbit. Dengan oplah 500 eksemplar, kami hanya berhasil menjual sekitar 200 eksemplar dalam jangka waktu 2 bulan. Jumlah yang cukup jauh bahkan untuk menutupi modal produksi. Setelah menerbitkan edisi perdana, kami pun terancam merugi.

Memang benar adanya, membangun ‘media’ tak semudah yang dikira, dan memiliki cita-cita berarti menuntut adanya usaha. Yang menjadi persoalan selanjutnya adalah sampai sejauh mana cita-cita tersebut terus kita bela? Barangkali sepanjang ‘keberanian’. Maka, kami berani sekali lagi menghadirkan Majalah EPIK kembali, edisi kedua, Desember 2010. Kala itulah, Teater EPIK lahir, sebagai  ujung tombak pemasaran dari Majalah EPIK − suatu program yang diharapkan bisa menyukseskan penerbitan setiap edisi Majalah EPIK. Dengan sebuah sistem, yaitu menjual majalah sebagai tiket pementasan, terbukti teater ini berhasil menjadi sumber utama pendapatan kami. Selain itu, keberadaan Teater EPIK ini berhasil menarik animo yang cenderung tinggi, jika dibandingkan dengan sekadar menjual produk majalah secara tunggal.

Dengan modal yang pas-pasan dari penjualan sebelumnya (berkat Teater EPIK), kami menerbitkan Majalah EPIK sekali lagi, edisi ketiga, April 2011. Pada penerbitannya, pementasan Teater EPIK vol. 2 : Kupanggili Namamu mengiringi. Namun, kali ini pementasan dilakukan dengan cuma-cuma, sehingga justru berujung kembali pada ketiadaan modal secara materi untuk memproduksi Majalah EPIK edisi selanjutnya. Namun, yang menjadi menarik, menginjak edisi ketiga ini, keterlibatan penggiat dalam tim EPIK sendiri mulai meningkat, pembentukan EPIK sebagai komunitas berkarya mulai teraba. Teater EPIK pun kerap diberikan kesempatan untuk merambah ragam eksplorasi pementasan, dari musikalisasi puisi hingga bentukan pengisi acara kemahasiswaan. Seiring dengan perjalanan itulah Teater EPIK mulai menemukan tujuan yang lebih mandiri, yang sedikit terlepas dari Majalah EPIK : meramaikan kancah seni pertunjukan di Bandung.

Dan kami pun bergerak (Majalah & Teater EPIK) untuk kembali mengadakan sekemas acara yang kompak : adanya penerbitan majalah yang diiringi pementasan, tentunya pementasan yang dikemas dengan cerdas (sebuah upaya sadar untuk memperbaiki kesalahan Teater EPIK vol. 2 : Kupanggili Namamu). Setelah mencoba mencari dukungan dari sana-sini, September 2011 terlaksana : Majalah EPIK edisi keempat dan Teater EPIK vol. 3 bertajuk Nest. Berkat keberhasilan pementasan inilah tergerak niatan untuk menyajikan suatu pementasan dan penerbitan yang dapat dikonsumsi oleh masyarakat yang lebih luas (karena selama ini pementasan Teater EPIK masih dilaksanakan di lingkungan kampus, walaupun memang penerbitan Majalah EPIK mulai merambah ke berbagai saluran distribusi se-nusantara).

Diperlukan waktu sekitar 6 bulan sampai menuju penerbitan besar Majalah EPIK edisi kelima dan pertunjukan Teater EPIK vol. 4 : Mendiang Republik, Mei 2012. Pementasan kala itu, bagi kami, adalah sebuah lompatan besar. Selain pencapaian dalam menyajikan warna baru dalam kancah seni pertunjukan di Bandung, semenjak itu terjadi peningkatan jumlah penggiat dalam jumlah yang cukup besar. Adanya pertemuan dengan teman-teman baru berarti kesempatan, juga gulir-nasib baru bagi kami. Walaupun memang secara kemasan acara, Mendiang Republik dapat dikatakan berhasil, namun secara finansial, Mendiang Republik masih belum dapat mendukung adanya keberlanjutan bagi Majalah dan Teater EPIK ke depannya.

Saat ini, sudah hampir 6 bulan semenjak Mendiang Republik naik ke atas panggung. Terus terang, kami merasa kehilangan, adanya rasa kangen untuk membangun pertunjukan juga penerbitan sekali lagi. Maka, selama beberapa waktu ini kami mencoba berkemas, juga membangun tim yang cerkas. Dengan upaya penerbitan Majalah EPIK edisi keenam, dan pementasan Teater EPIK vol. 5 : Taraksa, kami dipertemukan kembali, tidak hanya dengan yang sudah pernah berjuang bersama kami, tapi juga para penggiat baru yang tertarik untuk membantu. Dengan harapan menghadirkan suatu momen Inaugurasi, Perayaan Kehadiran Kembali, ada romansa tersendiri dalam perjalanan kali ini. Pertemuan dengan teman-teman baru dari kalangan SMA, keberanian untuk mengeksplorasi hal-hal yang baru, kesadaran diri untuk tidak menuntut berlebih, perasaan melakukan pengunduran pementasan, dan keramaian dalam mengorganisasi  80 penggiat.

Yang jelas, saat ini, kami sedang dalam perjalanan kembali untuk menjalani cita-cita kami kesekian kali, menjadi sebuah ‘media’, membangun ‘komunitas berkarya’, menjadi ‘generator ide yang tidak berpihak, dan terus bergerak’, menjadi seutuhnya cita-cita kami yang tertuang pada kredo kami, EPIK, tempat berbagi dan menjadi arti.

Advertisements

2 thoughts on “EPIK (Majalah & Teater)

  1. Yang menjadi masalah dari ‘mulai menulis’, adalah keberadaan titik efektif dari distribusi tulisan itu sendiri.

    Dunia sudah terlalu jauh melompati titik tersebut. Jumlah tulisan yang beredar terlalu banyak, dan jumlah orang yang ‘mau membaca’ tidaklah berkembang.

    Penulis yang baik di masa ini adalah penulis yang ‘eksis’, yang disukai karena rela menjadi pragmatis. Aktif di acara acara dan ‘scene scene’ pergaulan, sehingga baik tidaknya tulisan terus terpengaruh oleh reputasi dunia nyata sang penulis.

    Bagaimana kita mau eksis? sang editor saling komen dengan pemred di blog masing masing, dan kegiatan itu berulang bahkan ketika ia berada bersebelahan dalam satu kantor kecil.

    Ini menggelikan.

    Karena kita pada akhirnya orang orang sendiri yang merasa terlalu kesepian dan mencari teman. Namun sekeras apapun kita berusaha, kita adalah orang yang sendiri. Yang grogi ketika terpaksa bertemu terlalu banyak manusia.

    Tapi mungkin juga saya hanya seorang pesimis biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s