Hukum dan Etika

Biarkan kebenaran tetap dipikul, jangan sampai jatuh, agar kebaikan tetap tumbuh. Saat kebenaran jatuh, hanya kekuasaan yang tumbuh. –Ayu Utami

Etika dan hukum : senada namun tak sama. Saling berkaitan namun tidak saling mengisi. Etika tak akan pernah membulatkan hukum, begitu pun hukum, ia tak akan pernah menyempurnakan etika. Etika adalah sebuah kontekstual, sedangkan hukum adalah konteks.

Manusia tercipta berbeda namun mereka hidup dalam wilayah dunia yang sama. Keberadaan manusia yang satu berada dalam satu wilayah dengan keberadaan manusia yang lain. Diperlukan jarak, spasi, antara wilayah manusia yang satu dengan yang lain agar wilayah yang sama ini tidak sesak. Sebuah penataan, sebuah garis pedoman. Etika dan hukum adalah spasi. Bentuk spasi yang berbeda, bentukan jarak yang tak sama. Etika mencoba memaknai perbedaan dari masing-masing individu yang ada sebagai hakikat manusia. Etika adalah spasi yang tak rata, tidak justified. Hukum mencoba membuat bentuk penyeragaman, bentuk sebuah legitimasi, sebuah kekuasaan atas nama kebenaran yang tercipta karena kehadirannya. Hukum adalah spasi rata, justified, penyeragaman kebenaran. Tapi sebenarnya kebenaran itu punya siapa?

Toleransi adalah ambang-tepi rasio berpikir dan merasa. Dia adalah bentuk kesadaran bahwa kebenaran bukan punya siapa-siapa. Hukum selalu berbicara mengenai adanya garis dualitas, hitam dan putih, benar dan salah. Toleransi mencoba mengetengahkan kedua hal itu, menghapus garis pembatas. Dia bentuk abu-abu. Manusia bukan malaikat juga iblis keparat. Tak pernah sepenuhnya menjadi penjahat, juga seorang yang taat. Bukankah justru itu yang membuat kita berbeda pada hakikatnya?

Kebenaran-kebenaran pada konteks hukum berasal dari kumpulan-kumpulan etika masyarakat yang berusaha disarikan untuk aplikasi yang lebih masyarakat yang lebih luas. Namun, pada akhirnya tentu ada keadaan kontekstual yang termaktubkan disana. Karena etika adalah buah pengetahuan, sedangkan hukum adalah produk sains. Etika akan terus bergerak merambah wilayah abu-abu, sedangkan hukum adalah sistematika hitam dan putih.

Hari-hari ini keberadaan yang-lain dalam wilayah dunia yang sama di kehidupan membuat kita semakin sadar bahwa perbedaan bukan untuk disamakan tapi untuk dimaknai dan dihargai. Pluralitas, kejamakan, kebhinekaan ada bukan untuk ditunggalkan, mereka hadir untuk dirawat. Bhinekka Tunggal Ika, walau berbeda tetap satu jua, ya, sebagai seorang manusia. Bagi suatu masyarakat madani, perbedaan bukan halangan, tapi dia adalah momen untuk berdialog, dialog yang tak berkesudahan. Dialog yang tak memperdebatkan yang hitam dan yang putih, tapi mencoba mensarikan yang hitam dan yang putih. Mencoba kembali merambah wilayah manusiawi, wilayah abu-abu, wilayah etika.

Bukankah lebih baik kita hidup dengan etika? Dimana hukum tak lagi mengikat, saat kebaikan dan kebenaran tak lagi dipertanyakan. Hidup tentu akan terasa adil. Adil bukan rata juga bukan sama, tapi dia mencoba memberi makna atas apa yang dirasa. Saya kira hidup bukan masalah benar dan salah, hidup adalah menabur benih kebaikan. Sudahkah menuai?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s