Spesifik Namun Holistik

Halo, 35 menit dari skrg, saya akan coba membahas mengenai fenomena pendidikan saat ini. Terutama pendidikan di masa kuliah.

Teaser : “Aduh, ngapain sih saya belajar ilmu itu, toh kan saya nantinya akan ambil yang ini” . Ya, diawali dengan kalimat tadi.

Selamat menikmati. Tapi 35 – 45 menit lagi, saya masih harus mengendarai, si joni yg tak terawat lagi.hihihi..

Maaf, terlambat, sempat macet dan mampir sebentar ke toko buku.hehe.. Kita mulai! Akan saya beri judul “Spesifik namun Holistik”

Kalimat ini : “Aduh, ngapain sih saya belajar ilmu itu, toh kan saya akan ambil yang ini dan jadi ini”, acap kali terucap. Saya menyayangkan ini.

Penjurusan yang ada bukanlah bentuk segregasi – pemisahan. Itu merupakan upaya memiliki kemampuan khusus – basic skill.

Basic Skill itu contohnya seperti ini : Arsitek – bikin bangunan, Planologi – bikin tata kota, Perminyakan – pengeboran minyak.

Nah, terkadang, para mahasiswa terlalu fokus akan bidangnya, hingga terkadang lupa membuka kancah wawasan lebih luas.

Buku teks sudah membuluk, buku-buku lain apalagi, membusuk. Terlalu banyak kegiatan ini itu, lupa membuka wawasan ilmu.

Coba kita ambil contoh yg gampang : arsitek. Dia mau bikin bangunan. Ga cuma melulu dia harus fokus pada bangunannya.

Dia pun hrs memikirkan, bagaimana perizinannya – hukum, bagaimn apresiasi assetnya – ekonomi, dari segi tata kota apakah tepat – planologi.

Dalam satu proyek arsitek saja, keterlibatan berbagai basic skill bertemu. Apalagi dalam proyek yg melibatkan kemanusiaan.

Politik misalnya. Suatu kebijakan, akan berdampak pada berbagai ranah. Dari mulai ekonomi, sosial, teknologi, bahkan seni.

Spesialisasi hanya bagi semut!  Semut menutup diri akan pengetahuan-pengetahuan yg lain. Manusia memang semut?

Menurut sy, pemikiran seperti menutup diri akan ilmu, anggapan bahwa IPA tidak perlu belajar IPS, hanya akan membuat peradaban melambat.

Mungkin ada pengaruh dari passion atau terkadang dari sisi pendidik. Namun, coba netralisir hal itu. Wawasan akan menambah ruang.

Yang terpenting bukan sekedar nilai, coba pahami ilmu yg ada di dalamnya, biar pintar, menambah wawasan. Perluasan – menjadi lbh holistik.

Waktu yg berkurang, akibat wawasan yang bertambah. Memang rugi yah? Wah, mungkin anda termakan zaman, bukan ingin merubah zaman.

Kita harus punya basic skill – spesifik, namun kita harus memiliki wawasan yang luas – holistik.

Perkembangan manusia mencakup berbagai aspek kehidupan. Basic skill saja tidak cukup.

Mau jadi businessman tapi ga mau belajar finance, hanya mau marketing saja. Lah itu sih jadi salesman.hehe..

Mau jadi teknokrat di bidangnya tapi enggan untuk tahu ekonomi, politik, dan ilmu sosial. Itu sih jualan besi saja sampai berkarat.

Mau jadi businessman tapi hanya mau tau manajemen. Jualan ajah tuh produk2 sekarat atau malah jasa yg tercekat.

Mau jadi seniman tapi tidak mau tahu apa arti menawan bagi para cendikiawan, atau bahkan tukang jualan bakwan. Bikin saja karya di awan.

Jadi, kuliahlah biar pintar, bukan sekedar lulus cumlaude. Menjadi spesifik namun holistik.

Sekian, terima kasih. Maaf merusak timeline akhir pekan anda. Salam terhangat untuk @senninurul atas obrolannya di mobil.hehe..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s