Usaha, Industri, dan Sedikit Tentang Ekonomi

Dua hari ini terdapat acara berkonsep menarik namun kurang tereksekusi dengan baik : #MoalBebeja. Dibalik semua plus dan minusnya, ada semangat menarik yang dibawa dari #MoalBebeja : semangat kewirausahaan. Tulisan ini akan bercerita sedikit ulasan tentang semangat kewirausahaan yang sedang marak belakangan ini. Sedikit terpancing dengan tanggapan via twitter dari @mathdroid.

Semangat kewirausahaan, pada pandang ekonomi amat baik. Mendorong adanya perputaran modal yang berimbas pada pertumbuhan ekonomi. Dengan semangat yang serempak ini, terutama di Bandung, terdapat beberapa komentar mengenai hal ini.

1.

Keserempakan (kelatahan?) semangat kewirasusahaan ini  melahirkan kompetisi yang bersifat seperti pedang bermata dua : membangun progresi atau justru me-mutilasi usaha yang baru mulai. Benar adanya, iklim kompetisi yang baik dan tepat akan mengubah istilah ‘pedang bermata dua’ menjadi ‘sekali dayung dua tiga pulau terlampaui’. Dalam artian, kompetisi yang baik akan memberikan progresi dengan tidak memutilasi usaha yang baru mulai. Maka, pada poin ini diperlukan pembangunan iklim kompetisi yang baik. Menurut saya, pondasi yang cerdas bagi suatu pembangunan iklim kompetisi kewirausahaan : adanya asupan informasi yang baik, tepat, dan beragam.

CATATAN :

  • Usaha yang baru dimulai perlu dilindungi, diberikan wahana yang baik untuk tumbuh guna mendukung pergerakan ekonomi Indonesia secara makro.
  • Kompetisi disini dibatasi oleh Sasaran Pasar & Positioning.
  • Keserempakan ini biasanya dipicu oleh adanya produk yang berhasil digandrungi oleh masyarakat (sasaran pasar) dalam jumlah masif, kemudian muncul produk ‘serupa namun berbeda dengan konsep yang belum kokoh‘. Pada poin ini, keseremapakan ini justru mengganggu siklus produk. Sering kali pada karakteristik pasar seperti ini, perkembangan produk mengalami siklus fads (cepat naik, cepat pula turunnya). Contohnya, Fixie atau Keripik Pedas pada konteks di Bandung ini.

2.

Guna memicu perkembangan semangat kewirausahaan ini, mengutip dari kuliah @ridwankamil di Akademi Berbagi, perlu 3 elemen pendukung : Universitas, Kafe, dan Modal Ventura. Universitas sebagai gudang ide dan penggiat usaha, Kafe sebagai tempat bertemu ide dan para penggiat usaha, dan Modal Ventura sebagai sarana modal guna mengimplementasi usaha. Saya kira di Bandung ini, elemen Universitas dan Kafe sudah tercukupi dengan baik. Sarana modal yang masih kurang (mungkin belum waktunya). Namun, pada poin ini, saya pribadi mendukung adanya percepatan berkembangan sarana modal (semacam modal ventura, bisnis inkubator, atau mungkin kredit khusus mahasiswa) di Bandung ini. Tanpa adanya sarana modal akan banyak sekali ide menarik yang tidak mampu tereksekusi dengan baik, yang nantinya justru memperburuk iklim kompetisi.

CATATAN :

  • Apabila setiap orang tidak memiliki akses yang sama ke permodalan, maka iklim kompetisi yang terbangun akan berima ‘yang kuat modal yang berkuasa’.
  • Iklim kompetisi yang baik adalah adu ide, bukan hanya adu modal.

3.

Pada titik terakbarnya, semangat kewirausahaan ini patut dikembangkan ke arah industri, tidak bisa dalam skala kecil menengah terus-menerus (jika produk dan model bisnisnya memungkinkan dibawa ke arah industri). Selain akan menekan biaya produksi per satuan barang, perkembangan kewirausahaan ke arah industri akan membuka banyak celah tenaga kerja, juga ide-ide persaingan baru, yang nantinya akan kembali mendorong lebih dahsyat lagi pertumbuhan ekonomi. Salah satu contoh yang berhasil melewati tahap ini adalah Kem Chicks dari Bob Sadiono.

4. 

Perkembangan semangat kewirasuhaan ini harus terus didukung.Pun semangat ini menjadi arus-utama pun tidak apa-apa, justru malah berdampak bagus selama iklim kompetisi tetap terjaga dengan baik dan tepat. Dalam artian, bukan berarti jika semua membuka usaha, maka tidak ada pangsa pasar, justru pasar semakin membesar. Pada perkembangan terbaiknya dari semangat kewirausahaan ini, jika hendak mengistilahkan kira-kira seperti ini : ‘kue semakin besar, namun potongannya semakin kecil’.

CATATAN :

  • Pasar disini adalah sekumpulan individu ekonomi, dan tiap-tiap individu adalah entitas ekonomi yang tak mampu berdiri sendiri. Dengan masing-masing individu membuka usaha sendiri, tentu akan menambah  penghasilan, istilahnya ‘menggendutnya kelas menengah’. Dengan semakin berkembanganya kelas menengah, hal tersebut mengindikasikan adanya pasar yang semakin membesar : daya beli meningkat, permintaan naik.
  • Selama tiap-tiap usaha mendapatkan market share yang substansial (mampu menghidupi keberlangsungan usaha) bagi perkembangan usahanya, maka iklim kompetisi dari semangat kewirausahaan ini berada pada titik idealnya.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s