Berdikari

Suatu masa, sebuah cerita, era. Era globalisasi, begitu khalayak mengistilahkan kisah di abad ke 21 ini. Imbuhan –isasi, yang berarti proses, mengikuti kata dasar global sehingga istilah  ini memiliki arti lengkap : proses menuju global, menjadi kesatuan yang meliputi seluruh dunia. Bung Karno, pada masanya, tidak pernah mengenal istilah ini. Ia mengenalnya dengan istilah karyanya sendiri Neo-Kolonialisme, Neo-Kapitalisme, dan Neo-Imperialisme.

Globalisasi dan Nekolim

Globalisasi sebenarnya sudah lama terjadi, ia berasal dari adanya interaksi lintas bangsa. Peradaban dan upaya pemenuhan kebutuhan memicu lahirnya bentuk perdagangan. Sekitar pada 500 SM, jalur Sutera, jalur perdagangan darat pertama, mulai dikenal. Jalur Sutera adalah bukti nyata yang merekam adanya interaksi lintas bangsa. Nusantara sendiri mulai terlibat perdagangan lintas bangsa semenjak beralihnya dari jalur perdagangan darat ke laut. Malaka menjadi salah satu pusat perdagangan pada masa itu.

Perdagangan yang terjadi membawa berbagai macam kebaikan dan pertumbuhan peradaban. Pertukaran yang terjadi tidak saja dalam hal ekonomi tetapi juga nilai dan budaya. Dampak positif ini tentu terasa bagi bangsa-bangsa yang terlibat dalam perdagangan ini. Namun, kemudian interaksi perdagangan ini berbicara lain. Pada tahun 1602, Vereenigde Oostindische Compagniekongsi dagang Hindia Timur Belanda berdiri di Nusantara ini.

Pada mulanya, kongsi dagang ini berdiri guna mengatasi persaingan harga komoditas rempah di negeri Belanda akibat mulai banyaknya perusahaan dagang disana. Bagi Nusantara, keberadaan kongsi dagang ini tidak menguntungkan karena para petani harus menjual komoditasnya dengan harga yang disesuaikan oleh pihak VOC. Kongsi dagang ini mulai berusaha untuk mencoba memonopoli perdagangan yang terjadi.Liberalisasi ekonomi mewabah pada daerah Timur, Nusantara. Liberalisme ekonomi mulai membawa liberalisme dalam politik, begitu yang terkutip dari buku ‘Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat’ karya Cindy Adams. Imperialisme dan kolonialisme mulai terjadi, penguasaan atas Nusantara oleh VOC. Pembentukan negara koloni yang hanya menjadi sapi perah bagi yang mendudukin negeri ini. Timbulnya revolusi industri memicu kapitalisme terjadi sebagai salah satu faktor penguat kolonialisme. Penumpukan modal di negeri Eropa membuka jalan penanaman modal di negeri koloninya juga menuntut adanya perluasan pasar dan industri. Nusantara yang mulanya produsen mulai menjadi konsumen, hanya menerima upah, bukan lagi berdagang. Berbagai penghisapan hasil bumi Nusantara, perbudakan melalui kerja rodi, penguasaan hak atas tanah.

Setidaknya, begitu pula yang terjadi pada masa kini, era globalisasi. Kapitalisme dan kolonialisme hadir kembali dalam bentuknya yang baru, Neo-Kolonialisme dan Neo-Imperialisme – Nekolim, begitu biasa Bung Karno menyingkatnya. Penjajahan bukan lagi atas dasar wilayah. Penghisapan bukan lagi terjadi dalam bentuk kerja rodi penuh kekerasan. Penjajahan dan penghisapan hadir dalam bentuk kongsi dagang yang baru, penguasaan sumber daya oleh pihak asing. Penguasan dalam bentuk kepemilikan perusahaan. Kepemilikan yang tentunya sejalan dengan laba bersih perusahaan. Apa yang kita miliki kembali tidak kita kuasai. Penanaman modal asing hingga akuisisi perusahaan lokal oleh perusahaan asing. Kepemilikan asing atas akses informasi hingga akses transportasi,  pendidikan hingga ilmu pengetahuan, hasil bumi hingga abdi, dari otak hingga hati. Akhirnya kita hanya menjadi pekerja di negeri kita sendiri. Pertukaran ekonomi, budaya, dan informasi yang akhirnya malah melemahkan jati diri.

Globalisasi yang didukung dengan perkembangan teknologi dan arus informasi membuka lebar akses perdagangan lintas bangsa. Batas wilayah bukan lagi hambatan melainkan kesempatan perluasan. Perluasan pasar juga industri. Produk-produk asing datang membanjiri. Dari mulai pasar para konglemerat hingga para pejalan kaki. Tentunya hal ini menciptakan arena persaingan tersendiri bagi produk-produk domestik. Namun sayangnya, produk-produk asing ini lebih digemari. Semua ingin memakai produk ini dalam upaya mempercantik diri. Hasil dari kerja keras, uang didapat, dibelanjakan sesuka hati, produk asing di tangan, uang yang sudah susah payah kita perjuangkan hanya tinggal kenangan – sudah digondol pihak asing untuk pembangunan di negeri seberang. Semakin negeri seberang berkembang, semakin banyak pula produk-produk yang akan datang membanjiri, semakin banyak pula kekayaan negeri dikeruk orang. Tidak jauh seperti apa yang alami di masa silam. Semestinya mampu menjadi produsen malah menjadi konsumen. Kita kembali dalam masa kerja rodi – kerja rodi yang baru. Hasil kerja keras kita, uang yang susah payah kita dapat, hanya membawa manfaat bagi negeri seberang. Globalisasi mulai menggoyahkan kaki-kaki kita yang belum bisa berdiri sendiri, menjerat kita pada kemudahan dengan ujung penghisapan.

Berdikari

Di era 1960-an, Bung Karno selalu mengingatkan bangsa ini untuk berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Akronim yang digelorakannya dalam api orasi-orasinya. Dalam orasinya, Bung Karno berkata,

Sebab inti daripada imperialisme ialah membuat bangsa-bangsa enggan berdiri di atas kaki sendiri. Inti daripada imperialisme adalah membuat bangsa-bangsa memerlukan barang-barang bikinan imperialis, memerlukan persenjataan daripada pihak imperialis, memerlukan bantuan daripada pihak imperialis. Dalam hal pertahanan tidak berhenti-henti tolong.. tolong..tolong… Mana itu berdikarinya sodara-sodara, sama sekali tidak ada!

Zaman berubah. Istilah itu sudah melapuk. Tersimpan dan terpatri rapi dalam elemen sejarah Indonesia berdiri. Padahal, akronim ini adalah pedang suci yang harusnya kita hunus tinggi-tinggi.

Berdikari, sebuah semboyan dengan nilai yang dalam. Akronim ini sakti, ia memiliki dampak domino yang sangat hebat. Namun, di lain sisi, ia menuntut usaha dan semangat belajar yang dahsyat. Ia bentuk dari revolusi, revolusi pemikiran dan tindakan. Sebuah bentuk kemandirian – ketidaktergantungan.

Inti dari berdikari adalah segera melepaskan ketergantungan akan produk-produk hasil produksi kaum imperialis, melepaskan jerat pertolongan dari pihak imperialis. Bangsa Indonesia harus dapat mengelola segala kekayaan dalam negeri sendiri. Segala macam produk yang kita perlukan buatlah sendiri. Misalnya, Indonesia butuh nasi, ayo kita tanam padi, kita produksi alat bajak sendiri, kita produksi pupuk sendiri, kita buat toko untuk menjual beras sendiri, kita buat karung beras sendiri, kita buat mobil pengangkutan sendiri, kita coba kelola kekayaan kita sendiri. Hal ini akan berdampak sangat positif : perputaran uang di negeri sendiri untuk keuntungan negeri sendiri dan kesejahteraan rakyat sendiri. Jika kita masih belum bisa membuat sendiri, ayo kita belajar. Kita cari tahu segala macam ilmunya. Ilmunya dari mana? Belajarlah dari yang tahu, entah itu dari kaum imperialis sekalipun atau bahkan kaum marhaen di tanah sendiri. Setelah dipelajari, lalu buatlah sendiri, belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri untuk bangsa sendiri. Jangan  malah menjadi ikan segar santapan kaum-kaum imperialis. Bangsa kita adalah bangsa yang besar, rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Bukan malah mengejar untung sesaat yang perlahan jadi buntung.

Walaupun pada nyatanya, kehadiran bangsa asing itu tidak dapat dipungkiri. Modal investasi asing pada kadar tertentu memang memicu pertumbuhan ekonomi bangsa Indonesia juga membuka lapangan kerja. Perkembangan arus informasi yang semakin merata juga memicu perkembangan dalam berpikir. Masuknya teknologi baru pun tentu memicu peningkatan mutu dan kualitas yang berdampak pada kesejahteraan bangsa. Namun, hal positif jangan menjadi celah penghisapan kembali. Kita harus tetap jejakan kaki kita sendiri, jangan malah kita digendong, dioyong-oyong. Kita harus berdikari – tidak tergantung.

Satu Daerah, Satu Komoditi

Berdikari dapat implementasikan dengan lebih menyeluruh sebagai tonggak ekonomi Indonesia. Potensi Indonesia yang begitu beragam, apabila dapat diolah dengan semangat berdikari, tentu menciptakan lalu-lintas perdagangan sendiri tanpa perlu menilai ulang arus globalisasi. Fadel Muhammad, Menteri Kelautan dan Perikanan yang pernah menjabat Gubernur Gorontalo pada tahun 2001 – 2009, berhasil menerapkan semangat berdikari dengan apik. Pada kala itu, Fadel Muhammad membuat suatu kebijakan agar Gorontalo difokuskan untuk memproduksi jagung. Jagung yang tidak hanya sekedar jagung hasil dari pertanian, pabrik-pabrik pengolahan dari bahan baku jagung pun dibuka, tunjangan infrastruktur pun diberikan, sebuah industri ditegakkan. Rakyat Gorontalo berupaya menjejakan diri di atas kaki sendiri. Akhirnya kesejahteraan rakyat berhasil meningkat. Kepuasan rakyat terhadap kesejahteraan itu tercermin pada pemilihan Pilkada 2006, Fadel Muhammad berhasil memperoleh 81 persen tanpa kampanye besar-besaran.

Apabila hal seperti itu dapat diterapkan, berdikari yang menggali potensi diri, di seluruh Indonesia, tentu berdampak besar pada lalu lintas perdagangan Indonesia. Satu daerah fokus memproduksi satu komoditi yang sesuai potensi dengan semangat berdikari. Pemenuhan kebutuhan yang lainnya dipenuhi melalui perdagangan dengan daerah yang lain. Keberagaman potensi Indonesia menjadi sebuah nilai lebih. Bahkan apabila tiap daerah dapat fokus memproduksi dengan semangat-berdikari-sesuai-potensi, negeri kita ini dapat mengkonsumsi lebih dari saat ini, suatu bentuk kesejahteraan akan tercapai tanpa harus peduli lagi mengenai globalisasi, tanpa bentuk ketergantungan.

Sudah lebih dari 50 tahun yang lalu, gelora berdikari disuarakan salah seorang Bapak Republik kita. Berdikari  tak akan terjadi tanpa adanya upaya dari diri kita sendiri. Sudahkah membeli buatan negeri kita sendiri?  Mari kita tumbuhkembangkan pertumbuhan industri lokal yang memiliki kualitas yang baik. Sembari kita mulai juga membenahi hati, meyakinkan diri kita bahwa Indonesia ada di urat nadi kita. Merdeka atau mati. Semboyan itu rasanya tepat untuk saat ini. Kita merdeka sepenuhnya atau bangsa kita akan mati – ya, perlahan tapi pasti.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s