Kebutuhan Akan Agama 1 (Petilan Tugas Akhir Individu Etika Agama)

3.1 Agama dan Sekulerisme

Sebagaimana disebutkan pada data-data di atas bahwa agama merupakan suatu pedoman hidup, pedoman yang menjelaskan mengenai ‘benar’ dan ‘salah’-nya tindak laku manusia. Sebagai tuntunan, tentu aturan-aturan di dalamnya tak sepatutnya diganggu gugat, dalam artian tiap agama memiliki bentuk idealnya masing-masing.

Merujuk pada data-data di atas, disebutkan bahwa tiap-tiap agama memberikan ruang bagi masing-masing individu untuk memilih, adanya kebebasan. Setelah menentukan pilihan maka tiap individu dipertuntunkan menuju suatu wujud kebenaran masing-masing, menuju ideal dari masing-masing agama. Yang menjadi penting, tentunya ketika masing-masing individu berinteraksi dalam kehidupan praktis di dunia, bukankah barang tentu akan terjadi pergesekan pandangan ideal?

Pada titik inilah barangkali diperlukan suatu tatanan penyelenggaraan kehidupan yang lain selain dari agama, suatu tatanan moral yang baru. Karena tidak mungkin dalam skema penyelenggaraan kehidupan sehari-hari, kita harus tetap beriringan dalam, misal di Indonesia, lima ‘garis batas’ yang berbeda. Hal inilah yang memicu lahirnya bentuk-bentuk sekulerisme –  adanya pelepasan nilai religi pada pembentukan penyelenggaraan kehidupan, tatanan moral dibentuk bukan berdasar pada agama.

Namun sekalipun begitu, lagi-lagi sekulerisme, malah justru menjadi bumerang, karena menawarkan ideal lain yang baru, yang justru juga membawa kontradiksi : ‘melepaskan agama pada penyelenggaraan hidup sehari-hari, namun tetap diperkenankan beragama bagi masing-masing individu’. Seolah-olah individu memiliki dua ‘ruang dan waktu’, ‘ruang dan waktu’ bersama, juga ‘ruang dan waktu’ untuk sendiri, dimana masing-masing ‘ruang dan waktu’ memiliki standar nilai yang berbeda dan juga junjungan hukum yang berbeda. Selain dari hal-hal yang disebutkan barusan, sekulerisme pada bentuk akhirnya merupakan wujud dari ‘ketakajegan’, karena seolah hukum yang terjadi adalah hasil diskusi, hasil ‘negosiasi rasio’. Dibandingkan hukum agama yang menarik garis ke ‘atas’, mengacu pada yang transeden, sekulerisme tentu memiliki kelemahan dalam derajat kepatuhan.

3.2 Agama, Individu, dan Kebebasan

Agama hadir sebagai pilihan bagi individu untuk mendapatkan dasar struktur bagi tatanan moral. Namun disisi lain, terdapat hal yang kerap kali lupa disadari dari pandangan masyarakat terhadap individu : tak beragama pun merupakan pilihan.

Stigma inilah yang acap kali mengaburkan kebebasan yang sering ditawarkan oleh agama itu sendiri. Pada titik personalnya beragama ataupun tidak merupakan hak individu sebagai makhluk sentien. Sentien dalam artian sepenuhnya sadar akan konsekuensi dari pilihan mereka pribadi. Sehingga sekalipun tidak beragama, bukan berarti individu tersebut tidak memiliki tatanan moral.

Dalam pandagan Agama, Individu, dan Kebebasan, tentunya praktik misionaris atau khutbah agama pun patut dipikirkan kembali. Dalam artian praktik tersebut tak hendaknya mengajak, namun sepatutnya hanya sekadar memberi wawasan bagi individu untuk memiliih. Karena bupada hakikatnya masing-masing agama memang memberikan ruang bagi individu untuk memilih, bukan memaksa individu untuk mengikuti ajarannya.

3.3 Tentang Agama

Ketika hanya agama yang menjadi landasan dari struktur tatanan moral di masyarakat, barangkali pada saat itulah yang sakral menjadi profan. Dalam artian, ketika semua perihal di dunia disangkutkan pada yang transeden, maka tak akan pernah hadir suatu tatanan mengenai perdamaian. Dan pada poin ini, saya bersikap, tanpa adanya diskusi yang terbuka, dan argumen yang subtil, perdamaian tidak akan pernah dicapai.

Agama sendiri pada praktisnya memang tak bisa sepenuhnya dilepaskan begitu saja. Sejalan dengan pemikiran Alain de Botton bahwa rumusan-rumusan dalam agama sungguh kompleks dan seringkali sangat brilian, saking briliannya agama tak sepatutnya berdiri sendiri sebagai dasar tatanan moral. Sehingga, oleh karena itu, preposisi skriptur-skriptur agama tidak semuanya patut ditolak bagi individu sekuler. Karena agama itu sendiri memang lahir sebagai proses intelektual yang cukup meyakinkan hingga diyakini oleh banyak orang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s