Kain (Cerpen dari 'Hegemoni')

Awal bulan Agustus tiba, aku akan berdiri kembali untuk kesekian kali. Aku dan kalimat itu akan tempampang gagah di setiap pintu gerbang. Seolah, menjadi lambang suksesi diri atas segala hal mengenai prestasi.

Setiap kali kembali, aku hanya mencoba untuk mengerti atau barangkali tak akan pernah bisa mengerti, tentang perasaan bangga yang kerap menyelimuti mereka. Kikuk rasanya ketika mereka memuja kata-kata yang tertera pada tubuh ini. Imbuhan ter- yang berati paling, diikuti kata baik – paling baik. Lalu mereka akan mengulang kata-kata itu dan berteriak, seperti sebuah rentetan.

Aku jadi ingin tahu, betapa pentingnyakah diriku ketika mereka itu menatapku dengan pandangan penuh haru. Seakan mereka tahu kata-kata itu adalah awal gebrakan-gebrakan baru.

Tapi toh aku hanya bisa diam, sedikit menerka, lalu mencoba membaca hal-hal yang terjadi di depan mata. Rasanya, mereka malah semakin bangga. Mereka kerap kali bercerita tentang kampusnya, keadaannya, juga keberadaanya. Mereka ini nampaknya terlalu cinta dengan rasa bangga mereka, sampai-sampai mereka kembali lagi untuk bekerja dan menjadi perantara bagi mereka-mereka yang baru. Hingga suatu waktu, aku menyadari bahwa rasa bangga mereka semakin menjadi-jadi. Mereka sekarang selalu merasa paling pintar, paling benar. Anehnya lagi, rasa bangga mereka malah membawa mereka dianggap nomor satu. Ah, mereka  terlalu bangga akan masa lalu yang pernah tercetak oleh pendahulu-pendahulunya.

Tapi pada suatu titik aku bingung, rasa bangga ini karena aku atau mereka. Sepertinya mereka juga yang selalu menjadikan mereka-mereka-yang-baru memiliki rasa bangga itu. Bahkan, mereka yang telah keluar dari kampus ini dengan segala prestasi tidak pernah lupa untuk membawa pula prestise. Mereka tidak mau dan jarang tersaingi. Kadang aku merasa mereka lupa.

Rasanya nista jika aku enggan mengakuinya. Rasa bangga yang tidak kentara, segala mimpi mengagungkan diri. Mungkin semua bermula dari sini. Mungkin aku adalah orientasi, aku lambang hegemoni.

Mungkin kata-kata itu : Selamat Datang, Putra-Putri Terbaik Bangsa . Padahal hanya satu kalimat, tidak lebih. Mungkin benar, aku yang membuat mereka tidak tahu diri. Aku yang membuat mereka tidak dapat menyadari bahwa masih banyak di luar sana yang lebih hebat. Ah, ingin sekali aku menambahkan huruf T kapital pada akhir kalimat itu. Bangsat memang, di luar sana juga putra-putri terbaik bangsa, kebanggaan semua.Mungkin kata-kata itu yang terkadang membuat mereka lupa bahwa yang lain pun punya bagi bangsa, tidak ada yang terbaik.

Semakin aku terlarut dalam mungkin, aku semakin menyesal. Mungkin memang aku menjadikan mereka menjadi bocah-bocah arogan lupa daratan. Aku yang menjadikan mereka menjadi sosok dengan bentuk-bentuk arogansi. Aku yang membuat mereka menstratakan diri.

Tapi jika ada satu jasaku, mungkin juga aku yang membuat mereka bersatu. Bersatu dalam satu belenggu, belenggu dari diriku. Mungkin itu yang membuat mereka merasa berbeda, aku yang menyebabkannya.

Ah, entahlah, ini salah siapa, aku atau mereka? Aku yang tak akan pernah bisa meminta maaf. Aku yang hanya dapat bersanding tanpa bisa bertanding. Yang jelas, mereka kalah oleh aku, sehelai kain terpancang tinggi.

Advertisements

2 thoughts on “Kain (Cerpen dari 'Hegemoni')

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s