Monolog 4 Pendiri (Naskah Pementasan UAS Apresiasi Sastra – Teaser Mendiang Republik)

PENTAS DIMAINKAN OLEH SATU ORANG DENGAN BERBAGAI PERAN.

SET PANGGUNG TERDIRI DARI KAIN-KAIN YANG TERJUNTAI KE BAWAH, MENGGANTUNG, TIDAK SEPENUHNYA MENUTUPI PANGGUNG. TERDAPAT JEDA ANTAR KAIN. JEDA DIISI OLEH CAHAYA LAMPU YANG MEMBUAT SEOLAH BELAKANG PANGGUNG TANPA BATAS.

MUSIK DENGAN SUASANA IMAJINER (OST. NEST – Tino Eka Sambora)

DI PANGGUNG HANYA TERDAPAT KURSI, RADIO TUA, DAN PODIUM KECIL. BAGIAN DISUSUN SEOLAH TAK SALING SATU. LAMPU SOROT DARI 2 POJOK PANGGUNG.

(MUSIK MAIN)

(LAMPU MASUK LANGSUNG, TANPA DIM)

(SOSOK SOEKARNO SUDAH SIAP DI ATAS PODIUM)

Ide Soekarno :
Revolusi tidak dimulai dalam kegegapgempitaan. Tidak dipenuhi dengan barisan peniup terompet yang megah, tidak pula dimeriahkan oleh para pembesar dengan pantalon terbaiknya. Pun tidak ada wanita-wanita cantik berbaju satin dengan perhiasan intan-berlian.

Pagi itu, tidak ada perayaan kemerdekaan. Hanya rakyat-rakyat yang bersemangat. Tidak ada tiang bendera yang cukup kokoh untuk pengibaran Merah Putih, hanya bambu, tidak terlalu tinggi, ditancapkan secara kasar. Tidak ada protokoler, hanya Kapten Latif Hendraningrat, seorang diri yang berseragam lengkap. Tidak ada musik. Hanya lantunan nada bersuara. Bangunlah jiwanya. Bangunlah badannya..

(JEDA SEJENAK)

Tepat pukul sepuluh pagi. Revolusi dimulai.

(SEMBARI DUDUK DI PODIUM)

(DENGAN MUKA PENUH HARAPAN AKAN MASA DEPAN)

Revolusi adalah ‘kawah candradimuka’ dengan pergolakan ‘paham’ di dalamnya. Hingga itu selalu ada pertikaian, dan pergolakan kadang memang menyakitkan. Perang perlu diredam, pemersatu harus terus maju. Pada seruan itu, aku kerap kali pongah. Puja-pujian nomor satu perlahan membunuhku.

(MENGHELA NAFAS)

Karena bagiku sekali proklamasi tidak boleh mati. Untuk negara, sekali merdeka tetap merdeka!

(LAMPU PERLAHAN SURUT, DENGAN DIM)

(SOSOK PERLAHAN BERGERAK KE ARAH KURSI, LALU DUDUK)

(LAMPU MASUK LANGSUNG, TANPA DIM)

Ide Hatta :
Aku membayangkan suatu negeri, dimana revolusi tak melulu tentang demagogi yang romantik. Ada kalanya ia hanya gumam, jauh di Selatan. Onhoorbaar groeit de padi, yang tak terdengar tumbuhlah padi. Kata-kata yang terus menjelma jadi kerja, dan lewat kerja maka suatu negara ada.

Tapi revolusi bukan sekadar negeri yang harus berdiri, ia berbicara tentang apa yang hendak dibangun dan dinaungi. Semangat demokrasi. Tentang manusia dan yang berkuasa. Ketika negeri menjelma menjadi struktur birokrasi, dan mimpi.. (SEOLAH MENGGANTUNG)

Proklamasi telah menjadi mimpi, para pengabdi masih terus berlari : demokrasi yang berlangsung pada porsinya, bukan demi kemauannya sendiri.

(MERENUNG, JEDA SEJENAK)

Jadi, jika kau bertanya, yang mana tanah airku? Hanya ada satu tanah airku, ia berkembang karena usaha, dan usaha itu adalah usahaku.

(LAMPU PERLAHAN SURUT, DENGAN DIM)

(SOSOK PERLAHAN BERGERAK KE ARAH TENGAH, LALU MENGELUARKAN YOYO)

(LAMPU MASUK LANGSUNG, TANPA DIM)

Ide Sjahrir :

Nelayan menyelam mencari mutiara, saudagar berlayar mengarungkan perahu, sementara anak-anak menghimpun batu dan menebarkannya kembali..

Revolusi seperti pagi, pagi di Banda Neira. Sederhana. Ia datang bukan karena paksaan, ia datang karena memang jawaban berbagai keadaan.

Sebuah perubahan yang cepat juga mengakar. Tak hanya bergerak di garda depan panggung perpolitikan. Revolusi hadir melalui tangan kader-kader yang tangkas dan sigap. Ide-ide mengalir tak berhenti, menelusup jauh dari jumlah kursi yang pantas untuk diduduki. Revolusi sebagia kerja yang ‘sendiri’. Diplomasi-diplomasi yang tak pernah sepenuhnya dipahami. Keinginan untuk berdiri sama tinggi, juga untuk duduk sama rendah. Negara tak akan pernah ada, jika dunia enggan mengakuinya.

(LAMPU PERLAHAN SURUT, DENGAN DIM)

(MUSIK NAIK)

(SOSOK PERLAHAN DUDUK DI BAWAH, DI SAMPING RADIO)

(MUSIK TIBA-TIBA JATUH)

(LAMPU MASUK LANGSUNG, TANPA DIM)

(SUASANA TIBA-TIBA HENING)

Ide Tan Malaka :
Barangkali telah kutulis namamu pada butir peluru, ke-mer-de-ka-an. Kata-kata usang pada cita-cita

Negeri dan revolusi. Negara yang merdeka. (TERSENYUM SINIS) Mungkin manusia tak pernah sepenuhnya merdeka. Lantas apa itu merdeka?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s