Peter Zumthor – (Tugas Arsitektur Modern)

Gerakan arsitektur modern : gerakan arsitektur yang ‘baru’. Dalam artian adanya bentuk ‘pembaharuan’ disini, adanya upaya ‘menembus batas’. Dimulai sejak masa revolusi industri, masa ketika perkembangan ilmu dan pengetahuan pesat kemajuannya, perkembangan arsitektur pun mulai meninggalkan prinsip-prinsip preseden yang ‘baku’. Arsitektur  bergerak dari ‘yang ada’ ke ‘yang tiada’, arsitektur mulai berbicara tentang ruang.

Pada moda perkembangannya, patut diakui bahwa arsitektur memang tak pernah lekang dari yang kasat mata, bentuk-bentuk kerap kali diringkas sebatas style untuk mempermudah (atau memperburuk?) pemberitaan dan pembelajaran. Sehingga mata begitu mendominasi, persepsi dibentuk oleh hal-hal dalam wilayah visual yang selalu menjadi pusat utama perhatian. Tapi, arsitektur pada hakikat kemapanannya dimulai dari kekosongan. Seperti yang pernah dituliskan oleh Avianti Armand, bukankah kosong, ruang diantara dinding yang dapat kita huni? Juga keteduhan di bawah atap tempat berlindung dari basah hujan dan sengat matahari? Dan gang-gang sempit dimana kita bisa berjalan berhimpit?

Seorang pemimpi yang terus mencari – yang tidak pernah puas dengan ‘penampilan’, seseorang yang menikmati arti-arti sederhana dari kehidupan,  hal-hal yang sepele.

Seperti gagang pintu – licin dan dingin dalam genggaman – yang terlihat seperti pertanda masuk khusus ke dalam ‘dunia’ dengan nuansa dan wewangian yang berbeda. Atau seperti ingatan tentang suara lantai segi enam yang terinjak, kilatan sayu anak tangga kayu oak.

Begitulah Peter Zumthor, seorang arsitek dari Swiss, bercerita tentang pencariannya atas ‘arsitektur yang hilang, ‘ yang disampaikan dalam bukunya Thinking Architecture. Zumthor tidak bercerita tentang suatu ‘kemegahan’, ‘kesempurnaan’, atau hal-hal yang ‘ilahiah’, ia hanya bercerita tentang berbagai pengalaman sensorik yang diperolehnya ketika singgah di dapur bibinya. Pengalaman sebagai kumpulan imagery. Imaji-imaji itu datang dalam rupa yang sederhana dan subtil, tersimpan dengan baik di memorinya sebagai modal dasar  ketika ia berbicara tentang arsitektur.

Barangkali karena keasikan dirinya pada hal-hal sederhana itulah, ia tidak dikenal seperti starchitect lainnya. Ia tidak seperti Rem Koolhaas yang fasih berbicara tentang teori-teori arsitektur, atau ia tidak seperti Frank Gehry yang menerapkan metodologi desain dan bentuk arsitektur dekonstruktivis yang kontroversial. Zumthor adalah seorang arsitek yang ‘diam’. Ia amat jarang menerbitkan publikasi karya arsitekturnya, ia memiliki sikap bahwa arsitektur harus dinikmati dengan pengalaman, bukan sekedar pemberitaan : arsitektur tidak boleh terperangkap pada jurang yang banal.

Mungkin itulah sikap modern yang hendak ditawarkan oleh Zumthor, bahwa arsitektur yang ‘baru’ tidak hanya berbicara tentang ruang yang dibentuk berdasarkan fungsi. “In order to design buildings with a sensuous connection to life, one must think in a way that goes far beyond form and construction,” tulis Zumthor masih dalam buku yang sama. Bagi Zumthor, yang modern adalah ketika ruang dibangun jauh melebihi bentuk dan fungsi, ketika ruang menjadi penyematan pengalaman-pengalaman sensorik yang hendak disampaikan : ruang menjadi wahana selebrasi. Nampaknya nilai yang dianut dianut Zumthor ini serupa dengan yang pernah disampaikan oleh Heidegger bahwa pengalaman sensorik dan emosi merupakan alat ukur.

Konsep modernitas lain yang ditawarkan oleh Zumthor adalah arsitektur sebagai alat resistensi. Dalam artian khusus, ia menyatakan bahwa arsitektur perlu menjadi bentuk ‘perlawanan’ dari lingkungan sosial yang mengagungkan hal-hal yang tidak esensial. Bagi Zumthor, yang esensial adalah ketika arsitektur menjadi alat pembentuk lingkungan-binaan khusus yang mampu ‘berbicara’. Oleh karena itu, ia selalu percaya bahwa arsitektur bukanlah mengenai style tertentu, setiap bangunan dibangun dengan kebutuhan tertentu, untuk tujuan tertentu, bagi masyarakat tertentu. Sehingga pada aplikasi proyek-proyek arsitekturalnya, Zumthor selalu menaruh penghargaan tinggi pada keunggulan situs yang hendak dibangunnya, warisan budaya lokal, juga nilai-nilai historis arsitektural. Seperti yang disampaikan oleh salah seorang juri Pritzker Price, Lord Palumbo, “In Zumthor’s skillful hands, like those of consummate craftsman, materials from cedar shingles to sand-blasted glass are used in a way that celebrates their own unique qualities, all in the service of permanence.”

Kekuatan desain Zumthor dalam memebentuk ruang sebagai wahana bermain sensorik ini amat terlihat dari berbagai karyanya seperti Museum Kolumba, Serpentine Gallery Pavilion, Bruder Klaues Field Chapel, Kunthaus Bregenz, atau bahkan Atelier Zumthor sendiri. Modular dasar berbentuk persegi panjang mendominasi karya-karya Zumthor. Dalam pengolahan spasial dan sensorial, Zumthor memikirkan detail dari tiap elemen, mulai dari penataan cahaya, penggunaan material desain (dalam merangsang sensor tekstur juga wewangian), dan bunyi (elemen yang kerap kali dilupakan pada pembentukan suatu bangunan).

Sebagai bentuk pemahaman lebih jauh mengenai kekhasan Zumthor dalam mendesain bangunan, barangkali dapat dicapai dengan pembahasan karya yang dianggap masterpiece­-nya : Thermal Bath Vals.

Terletak di Vals, Swiss, 1.200 meter dari permukaan laut, tempat pemandian ini adalah bagian dari sebuah kompleks hotel dan spa yang telah ada sejak tahun 1960. Pada topologi situs pembangunan yang didominasi oleh gunung dan batu, Zumthor tidak memaksa, ia mencoba memahami dan menerima.

Massa bangunan, yang dibangun atas prinsip modular persegi panjang yang sederhana, seolah tersusun atas kerukan dan susunan batu yang muncul dari tanah, namun tetap ramah pada nuansa gunung. Kekuatan bangunan ini, bila disimpulkan dengan suatu kalimat sederhana : pembentukan ruang yang menyajikan pengalaman sensorial yang kontras namun harmonis. Ruang-ruang hadir dalam bentuk ambiguitas yang subtil, adanya bias yang kompak antara eksterior dan interior, adanya tautan yang erat juga wilayah privasi yang bebas. “Ruang seolah rongga yang terjadi dan tersisa, lubang dengan proporsi dan skala yang berbeda, tersusun dalam harmoni yang penuh kejutan : menyempit, meninggi, mendaki, menurun, tiba-tiba melebar, dan hilang batas, atau mampat berhenti. Elastis bahkan plastis,” tulis Avianti pada ulasan lain tentang Thermal Bath Vals.

Material yang didominasi oleh air dan batu pun menjadi penyusun utama dari suasana kontras yang harmonis, seolah kita diajak bermain dan re(-)kreasi. Elemen batu yang diam, keras, dan kaku bertemu dengan elemen air yang bergerak, cair, dan mengalir. Pun tak hanya diajak bermain secara visual, rangsang pada indra peraba ketika bersentuhan dengan tekstur batu – kadang kasar, kadang halus –  dan air dengan temperatur berbeda – kadang hangat, kadang panas, juga kadang dingin mengigilkan – menjadi wahana re(-)kreasi sensorial yang unik. Bebunyian pun hadir, dari suara air yang menetes, mengucur, atau yang tinggal tenang. Bunyi  menjelma jadi  gema pada batu, atau bunyi sebagai pertanda yang sunyi, sesuatu yang lampus.

Barangkali pada bentuk ambiguitas yang kompak antara kontras dan harmonis arsitektur menjadi wajar, dalam artian, ia kembali menyadarkan bahwa hidup selalu hadir pada skala yang tak pernah ‘tentu’. Arsitektur bersentuhan dengan kita secara intim, melalui rasa. Bangunan menjadi media untuk menyajikan berbagai rupa : ‘yang nyata’  juga ‘yang tak nyata’. Sehingga ruang menjadi wahana. Imaji-imaji pengalaman kemudian mengendap, tinggal. Tubuh akhirnya hanyalah alat.  Pada Thermal Bath Vals mungkin tulisan Zumthor tentang pencariannya atas ‘arsitektur yang hilang’ mendapatkan pembelaan yang kuat : ia kembali mengingatkan bahwa kita diberkahi tidak hanya ‘melihat’, tapi juga ‘mengalami’.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s