Keberlanjutan KMSBM (Sebuah Pledoi)

Saya kira, poin tulisan saya malam kemarin masih meninggalkan ‘bolong’ besar yang masih belum dikomentari apa-apa : lantas bagaimana keberlanjutan dari KMSBM dalam langkah yang lebih jauh ke depannya?

Sebelum menjawab lebih lanjut, mari kita coba cek apa tujuan KMSBM di Anggaran Dasar :

BAB III

TUJUAN
Pasal 6

Tujuan KMSBM:

  1. Mendukung cita-cita Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung dalam mendidik dan mengembangkan generasi baru pemimpin yang inovatif dan berjiwa kewirausahaan.
  2. Menanamkan rasa kepedulian, memupuk rasa persaudaraan serta kekeluargaan terhadap masyarakat dan civitas akademika.
  3. Memfasilitasi dan menjadi wadah aspirasi bagi mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen untuk menyatukan minat, bakat, dan kreativitas yang berbasis keprofesian.

Jadi, disana ada beberapa poin-poin penting, saya kira : berjiwa kewirausahaan, berbasis keprofesian, fasilitas, ‘wadah‘, dan ‘kekeluargaan‘. Dalam lingkup tujuan seperti disebutkan di atas, saya rasa, pendapat saya mengenai ‘perlunya ada’ KMSBM sebagai fasilitas gerakan mahasiswa dapat dibilang tepat, bahkan pada penjelasan Tujuan di atas mendapatkan penekanan lebih lanjut menganai bentuk gerakan mahasiswa yang difasilitasi oleh KMSBM : gerakan mahasiswa yang berbasis keprofesian. Sehingga jelas keberlanjutan dari KMSBM adalah sebagai fasilitas atau wadah bagi semangat gerakan mahasiswa yang berbasis keprofesian (ini sebenarnya menyisakan pertanyaan besar bagi pendidikan SBM, sebenarnya profesi kita disiapkan untuk menjadi Manager atau Business Owner, saya sendiri lebih setuju ke arah Business Owner). Mengenai langkah praktis kepengurusannya barangkali usulan saya (kepengurusan berdasarkan proyek) kemarin di tulisan KMSBM memiliki kerunutan berpikir yang cukup subtil.

Namun barangkali ada suatu yang luput dari penjelasan Tujuan adanya KMSBM yaitu, pencapaian. Maksudnya, sampai pada suatu ‘titik’  seperti apa keberadaan KMSBM ini dibilang ‘sukses’. Jika berbicara mengenai perusahaan, pencapaiannya amat jelas : memaksimalkan kekayaan para pemiliki modal, namun pada lingkup KMSBM rasanya cukup rancu untuk dapat mendefinisikan pencapaian dengan cukup solid (atau barangkali memang selalu cukup rancu untuk mendefinisikan pencapaian bagi organisasi-organisasi setingkat KMSBM? Ah, tapi nyatanya SI tetap jelas memiliki pencapaian). Namun, berhubung tulisan ini adalah sebuah pledoi, sebuah pembelaan dari tulisan saya sebelumnya, maka saya akan menyampaikan bahwa titik sukses KMSBM adalah ketika ia mampu memfasilitasi berbagai proyek dan proyek-proyek tersebut menuai untung bagi commision-based dan mencapai tujuan bagi initiative-based (karena lagi-lagi ini adalah sebuah pledoi, diasumsikan bahwa kondisi praktis yang ditawarkan di tulisan sebelumnya benar diimplementasikan). Lalu apakah kondisi praktis yang saya usulkan harus terus diimplementasikan dari tahun ke tahun?

Jawabannya adalah ‘tidak’. Berhubung KMSBM merupakan suatu wadah, KMSBM memang sepantasnya menaungi, mewadahi. Dalam artian, ‘bentuk’ KMSBM dapat berubah, tapi barangkali semangat keprofesianlah yang harus terus menjadi semangat dasar dari KMSBM. Usulan ‘bentuk’, yang kemarin coba saya tawarkan. merupakan hasil sintesis pribadi melihat kondisi dan fenomena saat ini. Jika untuk ke depannya ditemukan sintesi baru (anti-sintesis) yang dirasa lebih pas, maka tinggal dipakai saja sintesis yang baru. Maka, pada poin idealnya, Ketua Himpunan tiap tahunnya akan menjadi perupa ‘bentuk’ KMSBM (jika memang ditemukan wadah lain di luar KMSBM yang mampu memfasilitasi semangat gerakan mahasiswa di suatu masa, barangkali keberadaan KMSBM dapat dipertanyakan kembali). Lalu, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana nasib kaderisasi (kaderisasi dalam artian adanya prosesi orientasi jurusan dan lain-lain sebagainya) di dalam KMSBM sebagai wadah keberlanjutan KMSBM?

Saya akan menjawab, barangkali tidak perlu ada dalam rupa yang ‘jemawa’ seperti kejadian tunnel kemarin lalu. Saya ingat bahwa SBM 2012 adalah angkatan pertama yang mengalami prosesi kaderisasi semacam itu. Prosesi kaderisasi semacam ini diinisiasi oleh Kabinet Brian Yohanes Wiseso melalui Menteri Human Resource-nya, Della Ahmad Fawaz, dengan menunjuk staf divisi Human Resoruce kala itu, Dirwanta Firsta sebagai Ketua Pelaksana Acara. Acara tersebut dinamai dengan cukup menawan : Masa Pembentukan Karakter (MPK). Semangat awal yang ingin dibawa melalui MPK oleh Brian, Della, dan Dirwan, kira-kira jika diibaratkan sebuah kisah seperti ini :

Ketika suatu benih dituai, tentu perlahan ia akan mulai tumbuh. Dengan sinar matahari di iklim yang subur, tentu mudahlah bagi sang benih untuk terus tumbuh ke atas. Barangkali sesekali ia lupa bahwa pertumbuhan pohon selain ke atas, ia pun mampu memperkokoh akarnya ke bawah. Sehingga akhirnya, terlalu asiklah dirinya untuk terus tumbuh ke atas. Hingga pada suatu ketika, angin menerpa, dan badai datang tanpa diundang. Benih yang sudah terlihat menjadi pohon yang kokoh, ternyata jatuh. Akarnya tidak terlalu kuat untuk menopang semangat pertumbuhan ia ke atas. Benih yang malang.

Lain ceritanya dengan benih yang satu ini. Ketika benih tersebut dituai, sang penuai sadar melalui kisah sebelumnya bahwa benih tersebut nanti akan menjadi pohon yang besar, tapi pohon yang besar harus tetap disangga oleh akar yang kuat. Maka, sang penuai pun sadar, ia ingin coba membuat pertumbuhan yang kuat bagi benih tersebut. Dikeruklah tanah disekitar benih tersebut, hingga membentuk suatu cekungan, lalu ditutupilah benih tersebut dengan batu yang besar, besarnya tentu melebihi cekungan tersebut. Benih yang malang, ia tak dapat sinar untuk tumbuh ke atas. Ah, tapi benih tersebut tidak hilang akal, bahwa ia tidak harus melulu untuk tumbuh ke atas, akhirnya ia mencari hara ke bawah, memperkokoh pertumbuhan melalui akar-akarnya. Hingga ketika akarnya telah cukup kuat untuk menopang pertumbuhan ke atas, pelan-pelan pohon tersebut mencoba untuk mendobrak batu yang menghalangi sinar matahari baginya. Pada suatu titik, akhirnya ia berhasil, batu tersebut tak menghalanginnya lagi, dan ia pun siap untuk tumbuh  ke atas dengan tenang. Akar telah kuat untuk menopang pertumbuhannya ke atas, juga mampu untuk membuat ia terus bertahan dari angin yang menerpa atau badai yang tiba-tiba datang.

Bentuk MPK disiapkan sebagai batu yang mengahalangi pohon tersebut, agar pohon tersebut berupaya untuk mencoba memperkuat akarnya sebagai pokok landasan ia tumbuh, dalam artian metafor ini adalah karakter. Sehingga pada bentuk idealnya, prosesi kaderisasi yang selama ini kita kenal itu (MPK atau Apprentice) bukan disiapkan untuk menjawab kebutuhan keberlanjutan KMSBM, melainkan lagi-lagi untuk mewadahi semangat gerakan mahasiswa, mewadahi kebutuhan mahasiswa : pembentukan karakter guna mempersiapkan masa depan. Sehingga amat disayangkan apabila saat ini prosesi kaderisasi tersebut (Apprentice, yang kemarin) lebih dirasakan sebagai gerbang awal untuk memasuki KMSBM. Terjadi sedikit pergeseran paradigma disini, seakan-akan KMSBM butuh massa, padahal poinnya adalah massa membutuhkan KMSBM sebagai wadah, sebagai bagian luapan semangat pergerakan mahasiswa.

Jadi sebenarnya yang lebih perlu disiapkan dalam menjawab keberlanjutan KMSBM adalah suatu sistem, sebagaimana komentar Brian Yohanes di tulisan saya sebelumnya, bukan prosesi-prosesi kaderisasi dalam rupa yang ‘jemawa’ seperti kemarin-kemarin. Saya kira, kita sebagai mahasiswa SBM, semampunya dapat menjawab tantangan ini. Bukannya manajemen memang berbicara mengenai sistem?

Hingga pada kesimpulan akhirnya, KMSBM harus selalu menjadi cerminan semangat mahasiswa di masanya. Keberlanjutan KMSBM ada di tangan para mahasiswa yang ingin dinaunginya. Dan saya rasa, semangat dasar KMSBM yang coba dituangkan di Anggaran Dasar masih cukup ideal untuk diimplementasikan hingga saat ini : semangat keprofesian. Saya cukupkan pledoi ini, semoga membuka ruang untuk kembali berdiskusi.

note :
rangkaian cerita metafor di atas langsung didapatkan dari Brian Yohanes baru-baru ini, setelah 2 tahun lewat saya melewati masa MPK. 

Advertisements

3 thoughts on “Keberlanjutan KMSBM (Sebuah Pledoi)

  1. Nice article bang !

    Perkenalin saya Nugraha bang angkatan 2014

    Saya setuju banget tuh bang , untuk kaderisasi atau apapun namanya itu , yang lebih banyak ditujuin ke adik kelas kita yang baru masuk ke lingkungan SBM , diperluin adanya penekanan output : Pembentukan Karakter sebagai peralihan masa transisi dari siswa SMA ke mahasiswa dan jangan lupa juga, untuk penurunan nilai budaya ITB. Menurut saya sih ga semua hal yang dilakuin himpunan lain atas kaderisasi mereka selain KMSBM itu salah , soalnya yang bisa dipelajari dari mereka adalah dengan kaderisasi yang mereka lakuin , nilai – nilai nya bener – bener tersampaikan. Bisa diliat kan mereka begitu loyal dengan almamater mereka , bener – bener saling mensupport , kekeluargaan dan solidaritas yang kental and ga ada gang – gang diantara mereka , yang mungkin ga bisa kita pungkirin banyak sekali terjadi di SBM.

    Menurut saya sih kalo bisa sih ada suatu “integrated kaderisasi” antara SBM ama KMSBM bahwa kaderisasi diwajibkan untuk seluruh mahasiswa baru SBM sebagai pembentukan karakter dan penanaman nilai semangat kemahasiswaan ITB dengan catetan , tidak ada permainan fisik . Balik lagi katanya dasar SBM dibangun mau menjadi katalis di ITB , tapi selama saya kuliah sampe sekarang ga ada penekanan ke arah itu and malahan di kaderisasi lah saya ditekenin untuk mikirin hal itu. Bayangin juga dosen – dosen kita sering kan ngobrolin ke kita bahwa output mahasiswa SBM adalah attitudenya. Tapi bayangin darimana sih kita dapet attitude itu? Dari kuliah? Dari lingkungan kita yang mayoritas menengah ke atas dengan ego individualis yang tinggi sampe-sampe fakultas lain mengganggap kita fakultas ekslusif?
    Nah melalui “integrated kaderisasi” inilah selama setahun SBM ama KMSBM membuat suatu rancangan kaderisasi yang fokusnya adalah dua hal : 1, Attitude , 2.Semangat ke-ITBan . Ya minimal outputnya ego sok berkuasa individulis kita , termasuk saya , yang berasal dari kalangan menengah ke atas mulai mencair , salam tangan ke dosen – dosen ama tutor bahkan ke satpam setiap masuk SBM , and semangat untuk membawa misi SBM menjadi katalis ITB , ga cuma pikiran untuk lulus 3 tahun .

    Selanjutnya saya setuju dengan sistem KMSBM diluruskan lagi dengan semangat keprofesian . Untuk tahun ini saya salut dengan Bang Mirza yang uda ngebentuk SBM Consulting Group ya untuk ngebawa hasil karya ITB ataupun UKM untuk kita tingkatkan added valuenya. Dan saya lebih sangat setuju lagi kalo KMSBM bener – bener fokus dibawa ke arah semangat keprofesian dengan arah untuk menjadi katalis di ITB. Udah saatnya lah kita sebagai mahasiswa SBM-“ITB” sadar kita punya embel – embel ITB dibelakangnya.

    Just my opinion bang . Very nice article sekali lagi. Kapan – kapan buatlah bang Epik diskusi – diskusi macam ini hehe.

    1. Tapi yang lebih pentingnya : apa coba nilai? dan haruskah nilai diturunkan? apa yang harus diturunkan?

      poin terpentingnya adalah kebebasan, KMSBM ga boleh mengungkung, orang-orang boleh milih mau ikut KMSBM atau ga. sesederhana itu. jadi KMSBM, belum tentu buat semua mahasiswa SBM. Detailnya cek komentar di artikel “KMSBM” ya! Terima kasih!

      1. Eh, tapi tujuan dari sini tuh, pgn coba menjawab : gmn sih bentuk KMSBM yang bisa mewadahi semuanya. hehe.. maaf maaf..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s