KMSBM

Ketika yang diperbincangkan di depan hanyalah berbagai perihal yang seolah nyata, padahal tak ada beda dengan hal-hal yang mengada-ada, rasanya ada yang salah dengan masa depan mahasiswa di lingkungan saya.

Barangkali ada yang kurang tepat pada moda berhimpun seperti saat sekarang, maksudnya diperlukan sedikit perubahan guna menyesuaikan perkembangan zaman. Sebelumnya saya sudah pernah menyampaikan hal ini lewat twitter (untuk lebih lanjut bisa klik di link : @azuzubulahtap) namun argumen yang coba disampaikan belum lengkap, pada tulisan kali ini, akan coba dibahas lebih lanjut dan lebih fokus penerapannya di KMSBM. Ya, saya tidak berbicara tentang mereka, tapi saya berbicara mengenai kita yang katanya keluarga. (Saya kira pada mulanya, pemilihan lema keluarga disini akan berbicara mengenai rasa sayang, pengorbanan, pengertian, atau cinta kasih, tapi nyatanya belakangan ini tak lebih sekedar saudara tua yang merasa lebih tahu segala dan saudara muda yang seolah tak tahu apa-apa, tanpa ibu bapak. Yah, namanya juga mahasiswa, katanya kan harus mulai dewasa, tak perlulah ricuh berbicara mengenai orang tua.)

Sebelum berbicara mengenai hal-hal praktis, hal-hal yang kerap ditanyakan dalam forum hearing seperti malam tadi, barangkali ada baiknya kita mencoba sejenak berhenti untuk sedikit berpikir kembali tentang mengapa kita sampai tiba pada malam ini. KMSBM sendiri berdiri, pada mulanya, berlandaskan suatu semangat yang sederhana : agar dapat turut serta dalam Olimpiade, bukan berlandaskan AD/ART yang seringkali kita jadikan tameng dalam forum-forum seperti malam tadi. KMSBM berdiri pada suatu semangat, dalam artian, ia hadir karena ia perlu ada, ia bukan hadir karena ia harus ada (ketika kita berbicara mengenai ‘perlu’, maka kita berbicara mengenai suatu ‘kebutuhan’ dengan berbagai alasan dibaliknya. Namun, barangkali sedikit berbeda dengan ‘harus’, suatu ‘keharusan’ seakan-akan menampakan dirinya dalam sebuah dogma, dan kita kerap bingung, ketika ditanya kenapa). Maka, pertanyaan terpentingnya, tergelitik dari seorang kakak kelas dulu, menjadi : apakah KMSBM perlu ada? Jika memang perlu ada, kenapa? Jika memang harus ada, pun pertanyaannya adalah kenapa?

Dan pertanyaan terpenting ini tak pernah selesai dijawab bahkan pada forum-forum seperti malam tadi. Pada opini saya yang sederhana ini, saya kira, KMSBM perlu tetap ada, dalam semangat yang amat jauh berbeda dengan apa yang sudah-sudah kita bicarakan sebelumnya. Maksudnya, KMSBM tidak perlu meniru cara-cara yang kerap dipakai oleh himpunan-himpunan lainnya, karena sekali lagi, saya tidak berbicara mengenai mereka, saya berbicara mengenai kita yang katanya keluarga (walaupun memang dengan mereka pun kita keluarga, namun tulisan ini memang dibuat sebagai praktis di lingkungan KMSBM). Maka pertanyaan selanjutnya adalah kenapa perlu tetap ada? Dan semangat seperti apa?

Saya akan coba menjawab seperti ini : (1) KMSBM perlu tetap ada sebagai alat komunikasi/interaksi dengan lembaga-lembaga lain di dalam intern ITB (2) KMSBM perlu tetap ada sebagai fasilitator/katalisator semangat gerakan mahasiswa. Namun alasan ini menyisakan pertanyaan penting lainnya : “gerakan mahasiswa seperti apa?”. Dan akan saya kembali mencoba menjawab : gerakan mahasiswa yang baru, yang tidak melulu berbicara mengenai pemerintah, kaderisasi, atau malah politik kampus, gerakan mahasiswa yang amat menyadari bahwa mahasiswa adalah aset bangsa untuk mencipta karya, dalam hal ini, saya kira, karya sama dengan produk (barangkali, alangkah lebih baiknya produk yang dikembangkan lebih ke arah consumer goods, agar kritik dapat langsung hidup pada skema pasar, ah pembahasaan ini dapat memakan satu tulisan lagi sendiri, nanti-nanti). Suatu pengembangan produk (barang, jasa, atau acara) amat memerlukan pengetahuan lintas disiplin, mengingat alasan pendirian SBM pada ITB, saya kira, cukup tepat metode perkembangan arah berhimpun di KMSBM lebih ke arah pengembangan produk. Lalu langkah praktisnya seperti apa?

Langkah praktisnya kira-kira seperti ini : berhubung Ketua Himpunan berhak sepenuhnya membentuk badan penggurusnya, maka ide saya, Kahim hanya membawahi 4 Sekjen : Sekjen Commision-Based Project, Sekjen Initiative-Based Project, Sekjen Eksternal, Sekjen Penggalang Dana. Jika dirasa perlu Bendahara dan Sekretaris KMSBM, Kahim tinggal menambahkan saja-lah. Sebelum berlanjut, ada sedikit poin yang ingin saya unggapkan terlebih dahulu : pada praktiknya kehadiran himpunan sebagai fasilitator/katalisator semangat gerakan mahasiswa diwujudkan dalam bentuk program kerja atau acara atau istilah yang nanti bakal dipakai dalam pembahasaan ke depan adalah proyek (project). Lanjut ke langkah praktis. Sekjen Commision-Based Project akan mengoordinasikan proyek-proyek yang tujuannya adalah menghasilkan duit atau istilahnya produk-produk (barang, jasa, atau acara) yang komersil. Setiap proyek akan dikepalai oleh seorang project manager, mengenai tim per proyeknya bebas merekrut siapa saja, mau dari fakultas lain pun silakan, yang jelas memiliki kompentensi dan minat untuk terjun langsung ke dalam proyek tersebut. Mengenai Sekjen Initiative-Based Project, ia akan mengoordinasikan acara-acara inisitatif yang tidak komersil seperti misalnya Malam Keakraban, Pengabdian Masyarakat, Pentas Seni Budaya, atau misalnya Pekan Olahraga. Sekjen Penggalangan Dana akan coba mengoordinasikan lembaga-lembaga pemodal ventura sebagai pembentuk iklim investasi riil  bagi commision-based project di KMSBM. Sedangkan Sekjen Eksternal akan mengurus perihal perangkat KMSBM sebagai alat komunikasi/interaksi bagi elemen-elemen di luar KMSBM, misalnya KMSBM ke ITB, KMSBM ke Alumni, atau KMSBM ke luar kampus ITB.

Barangkali, kira-kira seperti itu suatu pandangan singkat dari saya, salah seorang anggota KMSBM, bagi KMSBM. Saya rasa, sayang sekali, jika KMSBM harus tertarik pada bentuk-bentuk budaya yang memang kurang pas dengan iklim SBM yang amat murah untuk diskusi (bukankah iklim di SBM memang nikmat sekali untuk berdiskusi, kita bisa berbicara perihal seks hingga ketuhanan? Ah iya, mungkin kita perlu bersyukur adanya Pak Benny dan Bunda di tahun pertama). Dan satu lagi, saya rasa, kita memang keluarga disini, tidak perlu ragu-ragu untuk berbicara, apalagi bercanda, mengenai tua dan muda, ah itu hanya mengenai waktu saja siapa yang dulu masuk ke sini, sisanya setelah disini, kita sama saja, sama-sama mahasiswa, tidak ada bedanya.

Advertisements

8 thoughts on “KMSBM

  1. Permisi Kak Tri, izin komentar! Hehe.
    Ini Cahya 2013. Sedikit banyak setuju dgn ide yang di atas, terutama pada hal bahwa KMSBM tidak harus mengikuti gaya-gaya yang ada di himpunan-himpunan lain.
    Kalau untuk saya, mungkin alasannya adalah kadang apa yang dibilang “kaderisasi” dirasa eksesif dan jika segalanya harus dihubungkan dengan “kaderisasi” agak redundant dan malah jadinya tidak efektif dan tidak selesai dan menghasilkan sesuatu (karena selalu dan selalu akan menjadi sebuah proses).
    Dan kadang kalau alasan dan justifikasi dari hal-hal yang kita lakukan adalah “budaya”, menurut saya toh budaya tidak sepenuhnya benar, dan apakah jika ada “budaya” yang lebih benar, kita tidak boleh mencoba mengadaptasinya? (Agak OOT di sini sebenarnya)

    Menuju KMSBM yang baru dan berbeda mungkin butuh waktu lebih dari satu tahun kepengurusan. Tapi, bolehlah masih berharap akan ada perubahan yang lebih baik di kepengurusan tahun ini.
    Hehe.

    Hanya sekedar opini, terbuka untuk sanggahan maupun koreksi. Cheers! 😀

  2. Halo halo, Cahya, saya senang sekali udah ada yang komentar dalam jangka waktu secepat ini. Saya sendiri masih belum beres ngedit soalnya. hahaha…

    oke oke, jadi kita coba luruskan dulu yah, istilah ‘kaderisasi’ yang saya diskusikan di atas adalah perihal-perihal yang berhubungan sama orientasi, ya apalah itu osjur, atau kadwil istilahnya.hehe..

    saya setuju sepenuhnya bahwa kaderisasi adalah suatu proses yang barangkali tak pernah selesai.

    maaf maaf, itu yang saya coba sampaikan adalah bentuk budaya, bukan budayanya. hehehe.. karena kalau diskusi budaya nampaknya kita perlu undang AWI atau Pak BR kesini. hehehe..
    tapi, poin terpentingnya saya rasa bentuk budaya bukan mengenai ‘benar’ tapi lebih mengenai ‘pas’ atau ‘tepat’. Ya, kayak seleksi alam gitu sih fenomenanya.

    menuju KMSBM yang baru memang perlu waktu, saya setuju. saya kira, tulisan ini bisa sedikit memperpendek waktu itu. mudah-mudahan. hehehe..

    sip sip, senang ada yang ngajak diskusi. hehehe..

  3. hehe habis di twitter muncul terus judulnya menarik. jadi langsung baca…dan langsung komen.

    tadi yang dimaksud dengan “budaya” itu yang sering disebut-sebut jika ada suatu ide baru. semisal “ya itu kan budaya kampus” “itu udah jadi tradisi di ITB” dan sejenisnya. mungkin term-nya salah yah… kurang tahu kalau penggunaan term yang tepat itu yang mana. hehe.
    soalnya pas itu saya pernah gak setuju sama suatu “budaya kampus”, tapi pas ditanya kenapa ke si Mamang kampus, hanya dijawab “ya itu budaya di ITB”.

    hanya menjelaskan maksud kata tadi….

  4. Waaa nice article mas tri, as expected from you haha.. Mengenai kaderisasi, coba liat tulisan dosen dr link ini http://blogs.itb.ac.id/rahard/2012/02/28/kelakukan-mahasiswa-yang-menyedihkan/ dan coba liat comment2nya. Ada yg bilang “ospeknya kurang, kaderisasi kurang bagus dll”, ya ini masih kultur kita.

    Opini gua pribadi sih, pada akhirnya kultur lingkungan setempat lah yang paling berpengaruh, bukan kaderisasinya. Kita cenderung fokus sama kaderisasi tapi lupa bangun kultur yang baik dan membangun untuk semua orang. Gampangnya, kalo lu pergi ke singapura, kcenderungan untuk mau menyebrang di zebra cross pasti meningkat, gausah dikader juga pasti gaenak kalo nyebrang sembarangan di singapur.

    Ayo dong semangat bikin terobosan, jangan kalah sama pakem-pakem yg ada. Sedih euy, jd merasa bersalah kalo adik kelas masih berkutat di hal yg sama muter2 aja bahasannya. Hayuk lah ngobrol kapan2, pokoknya go tri go majalah epik!

  5. wah, menyenangkan sampai dibaca Mas Brian. hehehe..
    nah, itu dia bikin terobosan, mas. sayang bgt misalnya kalau ga bikin terobosan. hehehe..

    setuju sepenuhnya sama contoh kejadian yang coba dipaparin mas brian. hehe..

    tadi baru baca link-link yang coba dirujuk, mengenai link yang “kelakuan mahasiswa” wah seru sekali yah, berkutat dengan komen-komen yang rancu. hehehe..

    yang keluaritb belum intens nih, mas bacanya. nanti coba saya baca lagi.

    ayo dong, ngobrol. banyak kabar terbaru juga dari majalah epik soalnya. hahaha..

  6. jika himpunan berdiri sebagai konstelasi ide dan harapan anggotanya, tentunya kultur/budaya akan himpunan tsb menjadi sebuah aspek non-statis yang akan selalu berkembang. contohnya, mungkin KMSBM akan menjadi himpunan yang mengutamakan rasionalitas dan daya pikir kritis anggotanya, jika KMSBM diisi oleh anggota yang kritis dan rasional. tentunya mungkin saja KMSBM menjadi lebih “engineer” dengan menekankan “certainty”, “discipline”, dan kepatuhan jika anggotanya didominasi oleh orang yang demikian. pada dasarnya kultur merupakan sebuah medan elektromagnetik yang saling tarik menarik. yang kuat yang menang. ekspektasi terhadap asimilasi kultur akan sangat susah terjadi. disinilah bagaimana kultur tersebut terbentuk..

    tentunya kultur yang diciptakan tidak akan pernah memberikan kepuasan bagi setiap anggotanya.kultur kuat didalam organisasi yang kuat selalu memberikan nuansa repulsif. bagi individu yang terbiasa di lingkungan rasional dan kritis, bertahan dalam lingkungan yang mengekang kebebasan berpendapat tentunya akan sangat tidak menyenangkan, begitu pula sebaliknya. meskipun banyak orang berkata bahwa sebuah organisasi bisa memoderasi keinginan seluruh anggotanya, saya tidak berpendapat demikian. hal ini disebabkan karena proses moderasi tsb sebenarnya adalah proses repulsif bagi stakeholder lain yang menginginkan putih dan hitam, bukan abu-abu.

    oleh karena itu, pergerakan organisasi seharusnya mengakui adanya subjektivitas [interest] dari para stakeholder. disinilah opsi dan kebebasan menjadi aspek penting. seringkali himpunan menempatkan posisi dimana anggotanya “harus” terlibat, tanpa sadar bahwa lingkungan organisasi tersebut repulsif bagi kebanyakan orang. meskipun secara formal keikutsertaan terhadap himpunan adalah sebuah pilihan, secara sistematis himpunan membuat kondisi yang menyudutkan individu untuk tidak memliki pilhan. entah dengan keengganan untuk berinteraksi, pemberian label “ansos” dan “apatis”, serta upaya lainnya yang menghilangkan hak dasar individu tersebut untuk mendapatkan manfaat dari himpunannya (Re: ikut acara himpunan, voting, dll)

    oleh karena itu, tentunya dapat disimpulkan bahwa organisasi yang baik harusnya mengakui konsep “pilihan”. jika memang mahasiswa dilatih untuk dewasa, alangkah hipokritnya bila mereka dianggap tidak layak untuk bebas memilih pilihan hidupnya. pengabdian adalah hak, bukan tuntutan dan kewajiban..

    just my 2 cents..feel free to comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s