Perempuan yang Dirajam Menjelang Malam

Perempuan yang dirajam menjelang malam
memandang ke seberang daratan.

Matahari telah memar. Cakrawala
luka bakar
magrib raib, dan gelap seperti lesit
menghisap sisa darah
yang basah pada langit

Perempuan yang dirajam menjelang malam, adakah ia mencari
seorang laki-laki yang menulis sesuatu pada pasir
saksi terakhir
semua ini?

Yang ada hanya aku:
tangan yang menulis
pada sabak hitam
ketakutanku

Orang-orang dengan batu di tangan
telah pulang

Dosa telah dilenyapkan

Senja telah dibersihkan

Dan langit telah lapang.

Tapi aku tak bisa pulang.

Tubuh itu juga.

Kulihat di pelupuknya darah antri
seperti nira hitam

Dan di bola mata yang pecah, ia seperti telah berkata,
“Hamba telah berzinah”

Perempuan yang dirajam menjelang malam,
ingatkah kau kepadaku?

Ia hanya memandang ke seberang dataran

Sampai akhirnya kelelawar-kelelawar yang terbang
memekik
mengenali jasad itu:
di nanahnya ada namaku,
sesuatu yang ingin ia sembunyikan
seperti kesedihanku.

“Ya,” begitulah ia berkata sekali waktu, “Aku hanya
mencintaimu.”

Perempuan yang dirajam menjelang malam
pejamkanlah
pelupukmu.


Goenawan Mohamad
1990

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s