Etika Agama Esei (1)

Catatan :

Video “George Carlin – Religion is Bullshit” merupakan salah satu bagian dari rangkaian besar salah satu pementasan George Carlin “You Are All Diseased”. George Carlin adalah seorang stand-up komedian, pengkritik sosial, aktor, dan penulis yang memenangkan 5 Grammy Awards sepanjang hidupnya. Gaya black humor memang menjadi andalan dari Carlin.

Sebuah penyerangan dogma (saya menyebutnya penyerangan, dengan berbagai kalimat sarkastik yang dilontarkannya, dan tiadanya ruang untuk diskusi). Kerap kali begitu. Memang demikian ciri khas dari seorang George Carlin. Pertunjukannya selalu menyajikan berbagai paradoks antara dogma dengan kerunutan berpikir secara logika.

‘Penyerangan dogma dalam penyajian paradoksal’ itulah, saya rasa, yang memang menjadi daya tarik dari video ini. Berbagai hantaman kalimat demi kalimat yang sekejap membuat kita tertawa, lalu kemudian kita kembali terhenyak, “apa benar?”, dan akhirnya kita kembali berpikir. Hingga pada akhirnya, saya rasa, pertanyaan terbesarnya;  sebuah dogma, apakah seharusnya ditelan begitu saja? Namun, bukankah agama (juga sebuah dogma, poin yang sedang dibahas di video ini) memang tidak sepatutnya dipertanyakan?

Carlin mungkin kerap kali bertanya mengenai agama, dan barangkali akhirnya terus mencari. Dan hasil dari penjelejahannya mungkin ingin coba ia jawab pada pementasan malam itu dalam bentuk rasionalisasi religi. Dalam artian yang saya tangkap, adalah kondisi konsep dan praktis religi kerap kali sudah mencapai (ada proses perkembangan disini) tahap irelevan terhadap logika. Carlin ingin coba mengajak kembali sejenak berpikir melalui sekemas kerunutan akal dan pikiran. Kita seakan dibawa ke dalam ‘bolong’-nya sebuah dogma, agama. Dan ketika kita terhenyak, dan mempertanyakan, “apa benar?”, saya rasa, di situlah Carlin berhasil menggelitik sisi rasio kita. Kita kembali bertanya dan berpikir. Berpikir, sebagai bagian dari sebuah fitrah agung yang hanya dimiliki manusia. Sebuah mula kembali dalam pencarian dalam ‘menggapai Tuhan –  Tuhan, dengan kapital T’.

Sejenak saya teringat salah satu pernyataan Kierkegaard bahwa terdapat “jurang dalam yang tak terbatas” antara manusia dan Tuhan. Dalam upaya menjembatani ‘jurang’ tersebutlah kepercayaan hadir – tidak lebih dari itu, suatu iman yang dipegang kuat-kuat, dan tidak pernah menjadi data ilmiah, juga bukan merupakan deduksi logis. Mungkin memang, pada suatu titik spiritualisme dalam lingkup individu, dalam titik kesendiriannya, kepercayaan (religi) mungkin memang tak sepatutnya dipertanyakan. Mungkin pada titik ini Carlin tidak sepenuhnya tepat. Seolah ia ingin mendobrak titik kepersonalan dari sisi kepercayaan. Tapi apakah kepercayaan dan apakah agama? Apakah benar dan apakah salah? Bukankah sebuah dogma memberi kita tuntunan untuk dapat membedakannya?

Kepercayaan mungkin tak sepenuhnya agama. Agama mungkin adalah ‘batas’, ketika hukum Tuhan menjelma jadi sebuah garis, dan yang Illahiah dipersonifikasikan. Seolah Tuhan menjadi seorang Juri dan Dermawan dalam saat yang bersamaan – mungkin poin ini yang hendak dikritik Carlin pada pembukaan video tersebut. Agama menjadi sebuah ‘lompatan’ untuk menyebrangi ‘jurang dalam yang tak terbatas’ . Dan pendaratan kita mungkin bukan dalam genggam jawab, hanya sebuah tempat rehat bagi pertanyaan-pertanyaan ‘jahat’ – mungkin kata itu yang kerap dilabeli oleh para kaum relijus bagi pertanyaan-pertanyaan yang ‘menggelitik’ seperti Carlin.

Maka pada poin keberseteruan itu, saya rasa, kita harus membagi wilayah ‘kebenaran’ tersebut. Andreas Harsono, pernah menyebutkan dalam bukunya Agama Saya Adalah Jurnalisme, bahwa salah satu sikap seorang wartawan adalah hidup dalam wilayah kebenaran fungsional, dimana kebenaran dapat terus direvisi. Dalam artian, suatu tingkat kebenaran terus berubah apabila ditemukan informasi-informasi tambahan yang mendukung perubahan tersebut.

Kebenaran fungsional merupakan landasan dari sebuah penyelenggaraan kehidupan (sampai saat ini, panitia penyelenggaraan kehidupan yang dirasa paling pas masih dalam format negara). Hukum dapat direvisi, dogma dapat dikritisi melalui diskusi.  Tentu semua diskusi, revisi itu harus dilandaskan dengan tetap menjaga sikap empati. Saya rasa, atmosfer seperti itulah yang dapat mendukung sebuah  penyelenggaraan kehidupan yang lebih madani, dimana progresi dapat terus dicari. Sehingga proses kehidupan tidak berlangsung secara ajeg dan kaku.

Agama (religi) sendiri berada pada wilayah kebenaran absolut, dimana kebenaran merupakan sesuatu yang ajeg, dan tak biasa diganggu gugat. Saya kira, perbedaan pemahaman inilah yang patut dijembatani oleh penyelenggaraan mata kuliah etika agama ini –  jika memang cita-cita dari mata kuliah etika agama ini ingin memberikan sebuah bentuk kearifan dalam berpikir, bertindak, dan bersikap. Bukan mengenai keajegan dari set of rules-nya, tapi bagaimana kita sama-sama saling membangun sekemasa pemahaman akan set of rules tersebut. Jika etika agama hanya perihal mengungkung, membatasi, dan menggurui, bagaimana tidak saya mengiyakan pendapat seorang Carlin, religion (religious study) is bullshit.

Tri Adi Pasha
190 09 045 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s