Haribaan

malam itu, bulan sabit,
seperti tersenyum
tidak terlalu sipit, tidak penuh,

ia gamang dalam ketiadaan.

langit bersih,
bintang menyeruak,
menyelimuti malam.

dingin,
tidak menusuk,
hanya menenangkan.

angin menunggang,
saling bersahutan.

di sebuah ruang terbuka,
menelusur busur waktu,
sudah lebih dari 900 hari hingga kini, katamu.

sekitar pukul 2 dini hari.

hanya ada kita,
berdua.

(tidak saling bertatapan, keduanya menerawang jauh)

“dengan begini, akankah jadi lebih baik?”

“aku tak tahu.”

“ya, kita tak pernah tau.”

“aku hanya…”

(memotong)
“bermimpi, itu yang selalu kau katakan padaku.”

(hampir berbarengan)
“Jalani hidup selayaknya mimpi menghidupi hidup.”
“Jalani hidup  selayaknya mimpi menghidupi hidup.”

(jeda barang satu dua detik)

“kita tak pernah bisa..”

“kita berdua, tak pernah berani..”

“kita terlalu takut untuk tetap jejak.”

“dan jejak mungkin pilihan.”

(dengan nada sedikit memaksa)
“tapi kamu bukan pilihan.”

hening,
sebersit kunang-kunang lewat,
menari sesaat,
teduh,
temaramnya hangat.

ingatan,
datang berhamburan,
saling sirap,
surut,
terbilang,
dan tak tersembunyikan.

dan kenangan…

(dengan nada rela dan lega)
“mimpi, bagi kita mungkin candu..”

“aku tersesat..”

“kita tersesat, tapi juga terpikat..”

“kita terlalu memaksakannya..”

(jeda, memberi ruang untuk saling meresapi)

(dengan penuh pengertian)
“kamu makhluk mimpi, juga impian.”

“mungkin mimpi tak selamanya menghidupi hidup.”

“hidup bergulir juga mengalir. Ada yang patut dinikmati..”

“seperti saat ini,”

“ya, dengan kamu disini.”

“sangat berarti.”

“juga bagiku.”

“mungkin dengan begitu, akan jadi lebih baik.”
(keduanya tersenyum masih menerawang)

menyelami malam,
yang tenang,
yang lenggang,
yang lapang.

 … 

(menoleh)
“akan adakah lain kali?”

(mengusap lembut rona pipi, berkata dengan halus, sembari bertatapan)
“lain kali selalu ada, kalau kau mau.”

lalu kau berjinjit, menenggadah,
dikecupnya lembut,
tidak berpagut,
aroma itu,

terhirup syahdu,
wangi bunga plum putih kukira.
selalu itu.

(senyap, sekitar 10 detik)

“kita pulang..”

“kita sudah pulang.”

angin menghempas
membebaskan,
kelopak mawar putih,
jatuh,
kolam beriak. 

(seraya berbalik, berpegangan tangan)

heart is where our home is

Advertisements

2 thoughts on “Haribaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s