Hegemoni

Awal bulan Agustus, tiba saatnya aku akan beraksi kembali untuk kesekian kali di depan para siswa yang akan segera menyandang gelar maha.

Aku,  yang selalu bertahtakan kalimat itu. Terpampang dengan gagah di setiap pintu gerbang. Lambang awal dari sebuah suksesi diri atas segala hal mengenai prestasi.

Aku,  yang mencoba untuk mengerti, betapa mereka bangganya akan kata pada kalimat yang tersanding di tubuhku. Imbuhan ter- yang berati paling, diikuti kata baik – paling baik. Pengulangan demi pengulangan. Rentetan teriakan, rasa bangga akan almamater.

Aku, yang selalu ingin tahu, betapa pentingnyakah kehadiranku. Di kala para mahasiswa-baru menatapku dengan pandangan penuh haru. Mereka seakan tahu kalimat itu adalah awal gebrakan-gebrakan baru.

Aku yang hanya bisa berdiam, menerka, dan merasa segala pola interaksi yang ada di depan mata. Mereka yang selalu bangga akan kampusnya. Mereka yang kerap bangga akan keadaannya. Mereka yang kerap merasa mendominasi di tiap tahunnya. Mereka yang kembali lagi bekerja untuk menjadi perantara pencetakan mereka-mereka yang baru. Mereka yang selalu merasa paling pintar, paling benar.  Mereka yang semua orang selalu anggap bahwa mereka nomor satu. Mereka yang selalu bangga akan masa lalu yang pernah tercetak oleh pendahulu-pendahulunya. Mereka yang selalu menjadikan mereka-mereka yang baru memiliki rasa itu. Mereka yang telah keluar dari kampus ini dengan segala prestasi dan prestise. Mereka yang tidak mau dan jarang tersaingi. Mereka yang menjadi lupa diri.

Aku yang kini disulurkan oleh rasa nista. Semua hal yang ada di depan mata, semua berawal dari sini. Segala pola interaksi, rasa bangga yang tidak kentara, segala mimpi mengagungkan diri. Berawal dari sini, dari aku yang hanya sehelai kain panjang yang membentang diantara pancang. Aku adalah orientasi. Aku lambang hegemoni.

Semua hanya akibat satu kalimat yang terukir di antara tubuhku : Selamat Datang, Putra-Putri Terbaik Bangsa. Hanya satu kalimat, tidak lebih. Rasa bangga itu, rasa dominasi itu, rasa yang akan selalu menyelimuti. Aku yang membuat mereka tidak tahu diri. Aku yang membuat mereka tidak dapat menyadari bahwa masih banyak di luar sana yang lebih hebat. Apakah memang diluar sana bukan putra-putri terbaik bangsa? Tidak! Semua adalah putra-putri terbaik bangsa, kebanggaan Ibu Pertiwi. Terkadang mereka lupa bahwa yang lain pun berguna bagi bangsa. Tidak ada yang terbaik.

Aku yang menjadikan mereka menjadi bocah-bocah arogan lupa daratan. Aku yang buat mereka menjadi sosok yang kerap menyombongkan diri, tanpa ada rasa saling membantu, malah mengurung diri. Semangat persatuan hilang. Aku yang membuat mereka bersatu. Bersatu hanya dalam satu belenggu. Belenggu dari diriku. Bersatu hanya dalam warna biru. Rasa nasionalime yang selalu mereka banggakan disaat masa-masa orientasi hanya menjadi barang dagangan. Tidak pernah benar-benar mereka perjuangkan.

Aku yang membuat mereka menstratakan diri dengan berbagai kalimat tolol arogansi diri. Aku yang menciptakan hegemoni penghancur semangat persatuan ini. Aku yang merusak rasa kepemilikan mereka. Membuat mereka tak pernah dapat memahami apa itu makna dari kepemilikan holistik,  cikal bakal sila ke-3 pada Pancasila – Persatuan Indonesia. Aku yang buat mereka tak menghargai perbedaan. Aku yang buat mereka merasa berbeda.

Mereka lebih pantas menjadi putra-putri terbaik bangsat. Bangsat memang. Segala ulah mereka menyombongkan dan menstratakan diri. Nasionalisme sudah hilang jati diri. Mereka lebih cinta akan sesuatu dengan ruang lebih kecil. Layaknya Belanda pada masa lampau. Devide et Impera.

Entah ini salah siapa, sebuah hegemoni yang terlalu dijunjung tinggi. Aku atau mereka? Aku yang tak akan pernah bisa meminta maaf. Aku yang hanya dapat bersanding tanpa bisa bertanding. Mereka kalah oleh aku, yang hanya sekedar benda mati, sehelai kain terpancang tinggi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s