Hanya Aku dan Kamu.

“Hai, kembali lagi kita bertemu!”

“Hai! Ya, cuma kamu bagiku disini.”

“Hehehe..”

____________________________________________________________________________________________

Disini, dimensi yang putih bersih. Tanpa warna atau bias cahaya mentari.
Dunia yang kosong akibat pundi di hati yang tak hadir disini. Terlalu sibuk sendiri.
Begitu pun aku dan kamu disini, terbui oleh waktu dan pilihan — konsekuensi diri.
Aku dan kamu tahu bahwa kita tersesat disini.
Bukan, bukan tak tahu jalan pulang.
Hanya saja, belum mau pulang.

Disini, dimensi tanpa peluh hati yang termakan waktu.
Pilu hanya lalu.
Duka, disaji dalam sebuah cerita.
Ini adalah pengulangan masa yang sudah lama tak pernah terasa.
Aku dan kamu tahu bahwa rasa ini bukan dusta, tapi mungkin tercela.
Bukan, bukan rasa cinta pada belahan jiwa.
Hanya saja, teman pelipur lara. Alasan kita berdua.

Disini, dimensi yang hanya mengenal dua dalam sebutan esa.
Kagumku, tawamu, jiwaku, parasmu, menyatu.
Ini adalah pertemuanku denganmu yang baru.
Kamu adalah aku.
Bukan, bukan aku.
Hanya saja, aku terlalu kamu bagiku.

Disini, dimensi yang bukan tak mengenal waktu.
Kamu ada karena waktu, bukan aku yang mau, atau kamu yang meminta.

____________________________________________________________________________________________

“Mungkin, sudah waktunya aku pulang tinggalkanmu.”

“Jangan dulu.”

“Maaf, tapi mungkin ini semu.”

“Tidak ada yang semu, yang ada hanya kamu.”

“Tapi, dia menungguku.”

“Kalau begitu, aku pun akan tetap menunggumu. Disini.”

____________________________________________________________________________________________

Ya, disini. Di dunia yang hanya kita kenal berdua.
Hanya dunia aku dan kamu, tempat kita bertemu.

Nantianku sudah termanggu, gelagatku mulai bisu.
Rinduku hanya untukmu.
Aku tahu, tak ayal lagi bagiku untukmu.

Semoga kita bisa bertemu.

____________________________________________________________________________________________

“Halo, ada orang disini?”

Suaraku hanya bergema naungi ruang kosong tanpa kamu.
Tanpa balasmu.

____________________________________________________________________________________________

Sudah, sudah cukup bagi mimpiku untuk bertemu denganmu.
Sinar mentari yang selalu siap sambut pagi bagi diri di luar dimensi kelabu warna ungu.
Selamat tinggal, kamu, teman sedimensiku.
Tapi, kamu, dimensiku, jangan kamu kemana-mana, hanya disini, aku dan kamu bisa bertemu.

Sesaat hendak ku tinggal lalu.

“Hai, apa kabar?”

“Kamu?”

“Ya, ini aku.”

“Selamat datang kembali!”

“Hehehe..”

“Terima kasih.”

“Kembali, kasih.”

____________________________________________________________________________________________

Aku tahu, kamu pun tahu.

Hanya disini, kita bisa bertemu.

Hanya aku dan kamu.

Advertisements

3 thoughts on “Hanya Aku dan Kamu.

  1. orgasme saya bacanya.
    bayangkan kamu bermonolog dalam ruang gelap bak raung relung jiwa. tertawa dan menangis menjadi rancu dalam waktu.

  2. dia adalah diriku, mungkin itu benar

    tapi setiap manusia berada dalam dalam gempita.
    yang hanya tahu bahwa aku berkata ‘iya’ meski ketiadaan menanti

    jujur kulihat wajah ketika ku membaca setiap baitnya

    hebat tri! hahaha itu yang penting!! sebuah karya, baik itu tulisan maupun pementasan, harus menampakkan ‘wajah’ baik itu buruk maupun indah. ‘wajah’ itu berarti jiwa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s