"Harta yang Ada" Kini Tiada

Aku bukan john lennon dan kau pun bukan paul mccartney.
Zaman kita pun bukan lagi lagu-lagu pop ballad dengan lirik penuh cinta dan larik nada yang amat memikat.
Katamu, sekarang adalah zamannya larik tanpa lirik.
Aku coba untuk itu.

Masih terlalu muda 13 tahun untuk dapat mengalahkan kisah legendaris mereka.
Mereka berkarya dalam untaian darah yang menyatu, berpadu.
Kita pun selayaknya mereka, berpadu dalam olesan selai yang setia mengisi tiap ketukan dalam bar hidup kita.
Kita, aku dan kamu.
Tak pernah peduli akan kehadiran mereka.

Pedih, peluh, cemas, tawa, mulut-mulut yang mangap, dan kening yang berkerut kita lalui.
Orgasme tidak kita raih dalam glodak kasur tengah malam.
Titik kepuasan tertinggi adalah saat ritme dan nada yang menyatu, bersahut2an.
Dalam ruangan tertutup busa, ruang kecil di lantai 2 di tgh gegap gempita dentingan sendok, atau bahkan di ruang terbuka dimana orang lalu lalang tanpa tepuk tangan.

Sudah penghujung kuartal pertama.
Kau disini, dan aku entah dimana.
Pencarian akal sehat atau malah mata rantai jiwa kita yang semakin pudar.
Sudah tak ada lagi rasanya suatu keberuntungan bersama.
Kuterkulai pun toh kamu pun tak peduli.
Kubuktikan sendiri tapi tetap rasanya ada yang kosong.
Hartaku yang ada kini tiada.

Semoga ini bukan bar terakhir dalam partitur lagu jiwa kita.
Tidak, kita tidak pernah kenal diksi partitur dalam jiwa kita.
Kalau kau mengakhiri, aku akan memulai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s