Yang Fana & Abadi

Di kantor beberapa waktu belakangan ini, digawangi oleh Sarah Soeprapto, lagi sering ngebuat kesimpulan (sok) filosofis dengan  pola “(isi sesuatu disini) itu sementara, (isi sesuatu disini) itu selamanya”. Seperti biasa, saya sebagai antek SarSup pun terbuai dengan modul bertutur itu, dan akhirnya mulai ngide-ngide sendiri (atau kadang berdua sama Raras). Di tengah lagi ngide-ngide, tiba-tiba keinget kalau pola tadi itu mirip banget sama potongan sajaknya Sapardi yang cukup terkenal, yang fana itu waktu, kita abadi. Jadi, ini iseng-iseng berhadiah aja, kalau ada yang suka, silakan dibungkus aja ya. Daftar ini akan di-update kalau memang ada ide-ide tambahan. Mari mari~

galau itu sementara, pendewasaan itu selamanya
ngerti itu sementara, bingung itu selamanya
ingat itu sementara, lupa itu selamanya
jawaban itu sementara, pertanyaan itu selamanya

 

Sunshower (Tribute to Raygava & Chris Cornell)

Teruntuk Mas Rega,

Kemaren-kemaren ini, pas nama Chris Cornell banyak tampil di media sosial, saya beneran ga tau siapa itu Chris Cornell. Sampe akhirnya Mas Rega ngepos di Path baru-baru ini soal lagu kaveran Mas Rega Tribute to Chris Cornell dengan judul lagu Sunshower. Seperti biasa, semua postingan Mas Rega tentang karya-karya kaveran maupun lagu sendiri Mas Rega selalu menarik perhatian saya (Hemat Pangkal Kaya, Teorinya itu bakal jadi bahasan lain di email lain kayaknya). Saya langsung selancar ke link YouTube itu, lagu mulai, saya mulai anticipating, dan puncaknya adalah ketika masuk ke reff, saya beneran terenyuh, “apa-apaan nih, ini lagu kaveran atau obituari?”
 
Buat nyari insight, saya langsung coba cek ke description si video itu, dan nemuin di situ nemuin,
Why Sunshower? This was Chris Cornell’s single. Not Soundgarden and not Audioslave, so I thought it’s just proper to commemorate him with one of his earliest solo tracks. It was also in the late 90s when I first heard chris made a song like this (it was for Great Expectations soundtrack before the euphoria morning album). It’s the one song that has always stuck in my fingers. I would played them everytime we hang out at a friend’s place (but of course I could never sing it properly). This song also has a positive meaning. Something I wish people will remember Chris Cornell for.”
Dan setelah baca itu, saya makin yakin kalau 5 menit yang baru aja saya lewatin itu adalah sebuah obituari. Saya ga pernah tau Mas Rega udah berapa kali denger suara ataupun komposisi dari Chris Cornell sepanjang hidup Mas Rega, saya ga pernah tau ada berapa koleksi CD, Tape, atau mungkin Piringan Hitam dengan nama Chris Cornell di dalem booklet-nya, saya ga pernah tau juga seberapa banyak video yang harus Mas Rega browsing buat bikin si video 5 menit ini, saya ga tau, Mas Rega. Tapi, yang jelas, abis dengerin lagu Sunshower kaveran Mas Rega, saya ngerasin segala macem setiap perasaan Mas Rega soal Chris Cornell, that particular feeling; about your attempt to play this song every time you hang out at your friend’s place, your automatically played fingers-memory to play this song when your hands are on the guitar, about your intention to sing your feeling out from right-part of screen to the left-part of the screen, about your lost on Chris Cornell. Dan setelah saya cek lagi lirik lagu-nya, kayak seolah Mas Rega beneran lagi cerita sebagai orang pertama, merapal doa, sekaligus ngasih pesan ke fans-fans Chris Cornell yang juga ngerasain kehilangan lewat lagu ini,

“But its all right
When you’re all in pain
And you feel the rain come down
Oh its all right
When you find your way
Then you see it disappear..
Oh its all right
Though your gardens gray
I know all your graces
Someday will flower
Oh in the sweet sunshower
Oh in the sweet sunshower
In the sweet sunshower..”

Terima kasih banyak sudah bikin kaver lagu ini dan ngebawa saya jadi kenalan sama Chris Cornell dan karya-karya solo Chris Cornell. Saya kayaknya ga akan pernah kenal sama Chris Cornell kalau ga ada Mas Rega. Dan sekarang ini, saya lagi muterin lagu kaveran Mas Rega ini untuk ke-sekian kalinya dalam 3 hari ini, di speaker saya di depan ini, lewat suara Mas Rega, saya seolah diingetin sama Chris Cornell, yang bener kata Mas Rega, semoga bisa jadi pengingat kita semua, tentang sense of hope yang pengen dibawa di lagu ini;
I know all your graces
Someday will flower
In the sweet sunshower
And its all right
All you’ll be you are today
Are today
Its all right
All you’ll be you are today
Are today………
p.s

Buat saya, yang ngalamin kekayaan berpikir Mas Rega dari mulai ke-impress sama Where I Belong, kepoin blog Mas Rega, ngalamin ngobrol dan ketemu langsung sama Mas Rega, ikut-ikut jadi crew pas Mas Rega dan Mas Wibi manggung di acara Arsitek UNPAR (7 tahun yang lalu?), dengerin 4 lagu demo Mas Rega yang Musikku, Titi Tiara, dan si track nomor 3 yang saya suka banget, sampe akhirnya tau kalau Mas Rega temenan sama Mbak Anggit, terus jadinya menikmati segala macem celotehan maupun potongan hidup Mas Rega dari Path; segala macem aransemen dan rekomposisi lagu ini bener-bener ngewakilin kekayaan berpikir Mas Rega banget. Jadi, this piece is really something expected from you sih. Sekali lagi terima kasih, Mas Rega.

Papa & Pancasila

Screen Shot 2017-06-01 at 9.33.53 PM

Hari ini, di media, ramai sekali post dengan tajuk “Saya Indonesia. Saya Pancasila” — sebuah perayaan untuk Hari Kelahiran Pancasila. Siang ini, di waktu kencan berdua dengan Papa, Papa saya ramai sekali kepingin nunjukin video yang didapetnya dari grup WhatsApp. Katanya, kamu harus liat pidato Bung Karno waktu di PBB soal Pancasila! 

Akhirnya, kita berdua baru berhasil nonton video itu setelah kencan, tepatnya, di parkiran basement salah satu mall primadona Bandung di era tahun 1990-an. Abis nonton video kira-kira berdurasi 1 menit 30 detikan itu, kita berdua nangis berkaca-kaca.

Papa saya bukan orang yang pandai untuk meromantisasi perasaannya, ga artikulatif sama sekali untuk mengungkapkan perasaan dan rasa cinta kasihnya baik itu ke orang terdekatnya ataupun ke negeri ini.  Tapi saya ngerti, emang itu bukan caranya dia buat ngungkapin perasaannya, terutama buat ngeromantisasi perasaannya untuk tanah kelahirannya, negara Indonesia. Papa saya ga bakal mungkin ikut-ikutan nge-post foto dengan template Pekan Pancasila. Papa saya gaptek, manalah dia ngerti main twitter, instagram, atau media sosial lainnya — cuma ada dua apps yang biasa dia buka di iPhone-nya, WhatsApp buat chatting sama Apple Music buat nostalgia-nya jadi penyiar radio amatir. Papa saya juga ga mungkin ikut upacara-upacara peringatan yang diadain sama badan-badan pemerintahan ataupun universitas karena emang Papa saya cuma lulusan SMA dan dia wiraswasta selama 50 tahun hidupnya. Jadi, ga bakal ada undangan upacara buat peringatan Hari Kelahiran Pancasila kayak di hari ini. Papa saya juga ga bakal ngerayain dengan berpakaian patriotik, isi koleksi lemari bajunya cuma ada kemeja kotak-kotak yang didominasi sama warna putih, abu, biru dongker, ijo tentara, ga ada itungannya baju safari, ataupun baju-baju yang punya nuansa patriotik. Tapi Papa saya punya caranya sendiri untuk ngungkapin perasaan cintanya ke negeri ini, cara khas Papa yang buat saya cukup lucu (dalam artian cute, kawaii) dan nakal (dalam artian tengil).

Papa saya selalu berbinar matanya setiap kali sarapan sama yang namanya kita kasih istilah 3T (Tempe, Tahu, dan Telor), entah itu mau dibikin penyetan, atau dikasih sambel kecap. Dan selesai sarapan, di suatu waktu dia pernah bilang, Papa tuh inget kata-katanya Bung Karno, katanya, cinta sama negeri tuh dimulai dari mulut sendiri. Papa saya selalu bangun subuh sekitar jam 4 pagi, dan kegiatan favoritnya adalah bukain jendala-jendela rumah sampe pintu rumah, dan kalau ditegur sama Mama atau Kakak-Kakak saya, ngapain sih, Pah? Dia, sambil ngerokok, bakal cuma jawab, biar isis. Padahal saya tau, dia menikmati sekali sama cuaca Bandung yang emang dingin di pagi hari dan merhatiin kegiatan-kegiatan subuh di jalanan. Buat Papa yang kerjaannya importir mesin-mesin tekstil, dia pernah suatu waktu bilang sama saya, kalau aja ada pabrik mesin di Indonesia yang bisa produksi mesin tekstil yang bisa saingan di dunia, Papa berani pindah haluan untuk jadi eksportir. Pas dia bilang gitu, saya sempet nanya, kok gitu? Papa cuma bales sambil lalu, ini soal statement bukan cuma soal dagang. Papa yang sampe sekarang selalu terkesima sama rumput-rumput yang tumbuh serampangan di jalanan (atau bahkan yang hidup di antara sela-sela troatoar atau paving block), dia cuma bilang, tuh liat kamu perhatiin deh, cuma di Indonesia loh yang bisa tumbuh rumput seserampangan ini, Papa tuh percaya loh, pasti si rumput-rumput ini tuh ada semacam “obat”-nya atau “kekuatan” deh, bayangin, masa bisa si rumput-rumput ini tumbuh nyempil gitu aja di jalanan atau di trotoar, pasti ada “tenaga” di dalemnya rumput-rumput ini. Dan ketika itu saya cuma bingung dan ngerasa kayaknya ada benernya omongan Papa ini.

Di antara celotehan-celotehan random-nya itu, ada satu kelakuan dari Papa saya, yang saya tahu, itu adalah salah satu ungkapan terjelas-nya soal rasa sayang dia buat tanah air ini. Papa saya hobi banget beliin buku dengan tema-tema Tokoh & Pokok Sejarah Ke-Indonesia-an. Sampai ada satu waktu dia bilang sama saya, kamu itu harus pakai Jas Merah — jangan sekali-sekali melupakan Sejarah. Dari sana, saya bener-bener kenalan lebih lanjut sama segala pikiran-di-belakang-kepala Papa atas segala celotehan-nya yang kadang lucu dan nakal itu. Dari koleksi buku-buku Papa saya itu (yang saya ga pernah tau, dia beneran bacain satu-satu atau ga), saya kenalan lebih jauh dengan Ke-Indonesia-an. Kalau coba dikategorisasi, perpustakaan Papa saya secara garis besar memuat lebih banyak Sejarah Kemerdekaan Indonesia di rentang waktu 1920-an sampai dengan 1980-an, dengan nama-nama Soekarno, Hatta, dan Tan Malaka amat mendominasi judul-judul buku di perpustakaan itu. Papa saya yang nge-buat saya kenalan sama Bung Karno lebih jauh lewat Sang Penyambung Lidah Rakyat-nya Cindy Adams dan Di Bawah Bendera Revolusi, akhirnya saya tau soal asal mula dari Marhaenisme sama Nasakom. Papa saya juga yang nge-buat saya sempet agak sebel sama Soekarno gara-gara Hati Nurani Melawan Kezaliman: Surat-Surat Bung Hatta kepada Presiden Soekarno-nya Mochtar Lubis. Papa juga yang nge-buat saya bisa menikmati Opera Tan Malaka garapan Goenawan Mohamad di tahun 2010 lewat buku-buku penelitian Harry Poeze soal Tan Malaka atau malah lewat Massa Actie dan Madilog-nya Tan langsung.

Buat saya sendiri, saya baru bisa memahami rasa kecintaan Papa saya itu pas lagi nulis tulisan ini. Karena waktu dulu, pas umur saya masih SD, saya udah sering banget diajak ngobrol sama Papa soal Kapitalisme dan Komunisme, ataupun Sejarah Perjuangan Kemerdekaan Indonesia dari mulai konflik Blok Barat, Blok Timur, sampai akhirnya Konferensi Asia Afrika, go to hell with your aid, sampai akhirnya Gerakan Non-Blok — dan alhasil di setiap ending cerita, saya tuh bingung karena yang disampein sama Papa saya tuh rata-rata cuma fakta-fakta dan berita, kok ga ada sisi romantis-nya yang bisa bikin saya baper. Tapi sekarang ini, seiring dengan saya dewasa, dan mengalami pertumbuhan wawasan berpikir, saya jadi bisa memaknai lebih-dalam segala macem celotehan Papa atau cerita Papa soal Ke-Indonesia-an. Dan saya senang banget tadi bisa ngalamin untuk bisa nangis terharu barengan pas lagi nonton video pidato Bung Karno di tengah Sidang PBB soal Pancasila.

Yang menarik dari video ini, yang ngebuat saya sama Papa bisa nangis terharu adalah cara Bung Karno nyeritain Pancasila di depan khalayak PBB. Di video itu Bung Karno ngerephrase lima prinsip  kehidupan bernegara Indonesia itu dengan kata-kata Bahasa Inggris yang nge-buat makna dari tiap butir Pancasila jadi lebih “agung” (dalam artian grand) dan “relevan”. Kita coba bahas satu-satu ya.

Sila pertama, yang asalnya Ketuhanan Yang Maha Esa, di video itu, sama Bung Karno diganti jadi Believe in God. Buat temen-temen yang ngikutin proses pembuatan naskah Pancasila, Bung Karno emang dari awal nawarin ke rapat BPUPKI dengan redaksi kalimat Ketuhanan Yang Berkebudayaan. Ide Bung Karno dari awal adalah untuk menenggarai segala macam kekayaan budaya yang ada di Indonesia, yang mungkin hendak mewakili konsep spiritualisme, sikap percaya adanya higher being di dunia ini. Tapi redaksi kalimat itu ditolak di rapat BPUPKI, saya lupa-lupa inget, silakan dicek sendiri ya (seinget saya sih, yang ga setuju tuh Mohammad Yamin). Dan saya seneng banget karena di tahun 1960 (15 tahun setelah pengukuhan hari lahir Pancasila), Bung Karno masih pake ide dasarnya dia soal konsep spiritualisme di sila pertama Pancasila.

Sila kedua, yang asalnya Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, di video itu diganti jadi Nationalism. Buat saya, ini gila banget. Lompat sih, tapi entah kenapa jauh lebih relevan.

Sila ketiga, yang asalnya Persatuan Indonesia, di video itu diganti jadi Humanity. Di titik ini sebenernya saya agak bingung dan bertanya-tanya, ini ketuker atau gimana sih sama sila kedua, tapi kok urutannya bagus banget ya, awalnya dari negara tapi abis itu ngomongin manusia. Buat saya terjemahan Persatuan Indonesia ditarik jadi Humanity beneran nge-jawab tentang rasa kepemilikan yang terus bertingkat. Kita warga Indonesia, tapi juga warga dunia.

Sila keempat, yang aslinya Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Langsung diganti sama Democracy. Wah, di titik itu, kepala saya cuma bisa nge-luarin meme “terjadinya Big Bang di Kepala”. Ini beres banget buat saya ketimbang redaksi kalimat yang ada di Pancasila itu sendiri. Satu butir pancasila ini, yang kalau di Upacara Bendera pas SD dulu dibacainnya dipenggal dua kali; jadi Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan // dalam Permusyawaratan Permakilan, bisa diringkat dengan satu kata yang beres banget; Democracy.

Lalu, sebagai penutup sila kelima, asalnya Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Bung Karno terjemahin secara sederhana dengan keren; Social Justice. Di titik ini, pas saya denger Bung Karno ngeluarin kata itu, wah, gila ya, ini pidato di PBB loh, itungannya dunia, dan dia ngomonginnya keadilan sosial itu harus bisa jadi juga milik warga dunia. Di titik itu saya percaya, kalau Bung Karno di kala itu beneran lagi jadi promotor-nya Indonesia di mata dunia.

Dan nge-reflect dengan kondisi kita seperti sekarang ini, yang kalau kata Mark Manson di bukunya The Subtle Art of Not Giving A Fuck, we’re more politically polarized than ever before, Pancasila (juga kehadiran Bangsa Indonesia) di era itu beneran hadir sebagai “penengah yang terus berupaya untuk the greater good. Di tahun 1960-an itu, polemik Blok Barat dan Blok Timur lagi panas-panas-nya, tapi Bung Karno berhasil hadir ngebawa Pancasila di tengah Sidang PBB dengan cara yang cantik banget! Dan itu lima tahun setelah Konferensi Asia Afrika loh, abis tercetusnya Dasasila Bandung sebagai cikal bakal dari Gerakan Non-Blok. Jadi, rasanya, memang ada kekayaan berpikir dan bersikap dari this improbable nation (meminjam judul buku Elizabeth Pisani) dengan segala kekayaan geografisnya (yang berada di antara dua benua dan dua samudra, dengan segala lempeng tektoniknya yang sangat aktif) untuk bisa mencari titik tengah itu — bukan untuk menang, bukan untuk kalah. Jadi, saya rasa di antara segala polaritas politik yang sedang kita rasakan di sekitar kita, pertanyaan yang paling pentingnya adalah untuk pikiran, perasaan, dan tindakan kita sendiri, dengan adanya polaritas ini, lantas kita akan mengambil penyikapan utuh seperti apa? Bagaimana kita memaknai Pancasila dengan segala ke-Indonesia-annya? Apakah dengan lantang berkata “Saya Indonesia. Saya Pancasila” seperti yang sedang ramai di media? Memangnya Pancasila  harus kita rayakan dan harus kita bela? Mengapa Pancasila harus kita serukan? Jangan-jangan kita sendiri belum pernah benar-benar memikirkannya?

Abis akhirnya nangis terharu berdua sama Papa, saya sempet nanya ke Papa, Pap, kenapa nangis? Papa jawab, coba kamu bayangin deh, nilai-nilai pancasila itu bener-bener deh. Lalu, seperti biasa, Papa bakal berhenti karena kebingungan untuk mengartikulasikan pikiran dan perasaannya. Saya tanya lagi, bener-bener apa? Papa cuma bales, ya gitu, kamu ngerti kan? Dan di titik itu, saya cuma ngangguk sembari nangis lagi terharu.

Iya, Pap, mungkin Adek ngerti.

Senandung Senandika Maliq n D’Essentials : Kita Beda-Beda, Terus Kenapa?

37276058_800_800

Pertama kali album ini dateng di Apple Music, kaget banget ngebaca judul besar dari album ini; Senandung Senandika. Buat temen-temen yang ga ramah sama kata “senandika“, kata itu berarti ke arah sini; ungkapan perasaan yang mendalam dari seorang karakter dalam sebuah cerita, bisa tentang perasaan, cara pandang hidup, firasat, atau hal-hal lainnya yang menggambarkan tatanan nilai dari karakter tersebut.

Dengan judul album se-gede itu, ekspektasi saya buat dengerin album ini tinggi banget. Dan pas diputer, saya cuma bisa teriak-teriak kegirangan, “Apa-apaan nih! Gila, gila, Guruh Soekarno Putra Masa Kini banget nih?”

Kayaknya lewat album ini, Maliq pengen nge-chat ke jejeran band pop-hits-90-an cem GIGI, KLA Project, Sheila on 7, dan lainnya, “makasih buat segala inspirasinya, ini sekarang gw terusin ya perjuangan di garda musik Indonesia, gw bawa ya ini semua semangat ke-Indonesia-an yang udah ditumpuk banyak banget, gw kemas biar masih tetep relevan sama citra zaman sekarang ini..”

Ini masih Maliq yang kita kenal kok. Sentuhan ritmik dan bass yang kental nuansa funk masih ada. Soundscape dengan tone jazz and soul masih keliatan. Yang bener-bener bikin album ini seger adalah identitas Maliq yang udah kita kenal itu ditabrakin sama tensi kultur masa kini Indonesia (dengan segala kekayaan Nusantara) yang ada. Lewat album ini, kita diajak Maliq buat ngeliat Indonesia dengan segala kekayaan dan tabrakannya Spiritualitas, Modernitas, dan Tradisionalitasnya.

Misalnya, di lagu nomor pertama  album ini, Sayap. Di intro lagu, kita dikasih suara Kecapi (atau mungkin Sitar?), tapi tiba-tiba beberapa bar selanjutnya, kita langsung dikasih suara Drop Bass ala EDM. Faker! Di antara segala macem kontras suara yang ada di lagu itu, si Maliq malah nyampein pesan yang “lebih” daripada sekedar kontras tradisionalitas & modernitas, dan pesan itu coba disampein di lirik lagu-nya, “sayap-sayap terbangkan aku, jiwa raga bebaskan aku..

Modul berpikir yang mirip sama lagu Sayap ini juga coba dielaborasi dengan cara lain lewat lagu Titik Temu. Dengan kontras antara suara sitar, ritmik drum and bass berulang, soundscape yang mainin arpegiator, liriknya lagi-lagi ga peduli-in sama sekali soal kontras, malahan ngomong soal, “hingga titik temu membukakan pintu, mengungkap rahasia semua yang fana, demi masa, kita hanyalah manusia..”

Atau misalnya lagi, di nomor lagu ketiga, Maya. Disini Maliq nge-buka lagu dengan ragam perkusi yang ngingetin saya sama aksi rebana dan paduan suara ala marawis. Tapi, begitu masuk ke verse dan inti lagu, suara bass dan aransemen ala EDM yang berulang nge-respon intro lagu ini, pas lagi di tengah-tengah orkestrasi suara itu semua itu, Mbak Indah sama Mas Angga malah nanyain, “siapa kita sebenarnya di antara dua dunia?” Gila, ini lagu lagi ngomongin soal identitas dan hiperealitas, nanyain-nya gitu, terus dibawain-nya kontras antara marawis sama EDM!

Misalnya lagi, salah satu nomor lagu yang seru adalah Kapur. Di lagu ini Maliq pengen coba nyeritain sosok Guru sebagai Pahlawan Tanpa Tanda Jasa! Bangsat, buat saya, ini tema yang jauh banget dari misalnya, Menikmati Cinta di era Maliq pas album Free Your Mind.

Kalau mau diringkas, di album ini, Maliq beneran bisa nge-ekstensi-in kekayaan berpikirnya abis-abisan yang berangkat dari nomor-nomor lagu, kayak Beautiful Life & Terlalu dari album The Beautiful Life atau juga lagu-lagu kayak Ananda, Imajinasi, Himalaya, Nirwana dari album Musik Pop, dan single terbaik buat saya pribadi, Aurora. Jadi, buat temen-temen yang suka sama nomor-nomor lagu tadi, album ini dijamin ga bakal ngecewain.

Di titik sekarang ini, saya beneran berani ambil suara kalau ditanya lagu apa yang harus dipasang di gate kedatangan pesawat di airport-airport Indonesia; Maliq n D’Essentials album Senandung Senandika.

Dengan segala tensi politik yang terjadi belakangan ini, belum lagi aksi terorisme di Kampung Melayu kemaren ini, satu album Maliq ini bisa ngasih safe haven banget buat 45 menit. Ngasih penyegaran di antara segala tarik-menarik isu yang sangat bipolar ini. Dan lewat album ini, Maliq dengan coba menyampaikan Senandika-nya dengan cara bersenandung, “kita emang beda-beda, terus kenapa? mau ada yang menang dan kalah salah satu-nya? kenapa ga kita saling respon sambil sama-sama kerja bareng untuk kejar sesuatu yang lebih “agung” barengan aja?”

Dan gara-gara album ini, saya jadi ke-inget sama potongan kalimat penting yang nyamperin saya lewat surat di tengah bulan Desember tahun 2016 kemaren, “nobody are freaks because everybody are freaks, nobody is normal because everybody is normal — such a paradoxical concept..”

Di antara ingatan itu, di depan saya, suara Mbak Indah sama Mas Angga lewat bersenandung lewat nomor lagu terakhir di album ini, yang udah saya puter 30 kali selama 7 hari ini,

Manusia biasa
seperti Kau
luar biasa
bisa terbiasa
menerima
memahami
dan akhirnya memaklumi
tanpa ada Karena..

Manusia biasa
Kamu luar biasa
Aku luar biasa
Kita luar biasa..

Terima kasih, Maliq buat Senandung Senandika-mu! Semoga kita bisa ketemu di kesempatan untuk nge-feature kamu di salah satu Cerita Senandika-ku nanti ya! Selamat mendengarkan buat teman-teman lainnya~

p.s
this post is dedicated to you, yang nulis potongan kalimat diatas —  the empress who can detects the beauty in between duality~

p.s.s
buat kamu yang se-pengen itu ngembangin cerita fiksi yang bisa ngegambarin segala “keindahan” isi kekayaan Indonesia dan Nusantara dalam kemasan yang kini, album ini referensi yang sangat menarik..